Malam di Portofino

Chapter 1 — Bab 1: Malam di Portofino

Deburan ombak di Portofino seharusnya menenangkan, tetapi bagi Alessandra Bellini, suara itu hanya memperkeras detak jantungnya yang menggila. Gaun sutra merahnya terasa seperti jerat, setiap kristal Swarovski-nya terasa seperti mata yang mengawasi. Malam ini, di bawah taburan bintang yang sama yang pernah menjadi saksi bisu ciuman pertamanya, Alessandra akan dijodohkan dengan pria yang tidak pernah dicintainya.

Keluarga Bellini, yang menguasai impor anggur Italia selama beberapa generasi, memiliki utang yang tak terbayarkan kepada keluarga Moretti, penguasa bisnis konstruksi yang merajalela di seluruh Eropa. Pernikahan Alessandra adalah satu-satunya cara untuk melunasi hutang itu, untuk menjaga agar bisnis keluarga tetap bertahan, dan yang terpenting, untuk melindungi adik laki-lakinya, Marco, dari kemarahan Vincenzo Moretti.

"Kau tampak cantik, Ale." Suara berat ayahnya, Vittorio Bellini, memecah lamunan Alessandra. Vittorio, pria yang selalu tampak tak terkalahkan, kini terlihat lebih tua dari usianya. Kerutan di wajahnya semakin dalam, bayangan kekhawatiran terpancar dari matanya. "Lakukan ini untuk keluarga, putriku."

Alessandra hanya mengangguk, kata-kata terasa seperti duri yang menusuk tenggorokannya. Bagaimana mungkin dia menjelaskan kepada ayahnya bahwa hatinya sudah menjadi milik orang lain? Bahwa cintanya kepada Luca, seorang nelayan sederhana dengan mata sebiru laut Mediterania, adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras di dunia yang penuh dengan intrik dan kekuasaan ini?

Musik mulai mengalun, tanda bahwa Vincenzo Moretti telah tiba. Alessandra merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Dia menatap laut, mencoba mencari ketenangan di antara ombak yang tak berujung. Sosok tinggi Vincenzo akhirnya muncul di pintu masuk vila. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dipesan khusus, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya, sedingin es, menatapnya dengan tatapan posesif. Vincenzo adalah perwujudan kekuasaan, ketampanan yang kejam, dan aura dominasi yang membuat siapa pun gemetar.

"Alessandra," sapanya dengan suara yang dalam dan berat, lalu mencium tangannya. Sentuhannya membakar kulit Alessandra, mengirimkan gelombang jijik ke seluruh tubuhnya. "Kau semakin cantik dari hari ke hari. Aku tidak sabar untuk menjadikanmu milikku."

Alessandra memaksakan senyum tipis. "Selamat malam, Vincenzo."

Malam itu berjalan seperti mimpi buruk yang lambat. Alessandra dipaksa menari dengan Vincenzo, mendengarkan pujian menjijikkan dari para tamu, dan berpura-pura tertarik pada pembicaraan tentang bisnis dan investasi. Setiap detik terasa seperti siksaan. Dia terus melirik ke arah laut, berharap melihat Luca muncul, membawanya pergi dari neraka ini. Tapi Luca tidak datang.

Saat tengah malam, Vittorio Bellini naik ke atas panggung kecil yang telah disiapkan. Dia mengangkat gelas sampanye, siap mengumumkan pertunangan Alessandra dan Vincenzo kepada dunia. Alessandra merasakan panik mencengkeram dadanya. Ini adalah akhir dari hidupnya, akhir dari mimpinya, akhir dari segalanya. Tiba-tiba, sebelum Vittorio sempat mengucapkan sepatah kata pun, lampu padam. Vila itu dilanda kegelapan total.

Teriakan kaget dan kebingungan memenuhi udara. Alessandra merasakan seseorang menariknya ke dalam kegelapan, tangan yang kuat melingkari pinggangnya, membawanya menjauh dari kerumunan. Dia ingin berteriak, tapi mulutnya dibungkam oleh tangan yang lain. Kemudian, dia mendengar suara yang dikenalnya, suara yang selalu membuatnya merasa aman dan dicintai.

"Jangan takut, Ale. Aku di sini untukmu."

Sebelum dia sempat bereaksi, dia ditarik keluar dari vila, menuju kegelapan yang menelan mereka berdua. Siapakah yang berani menculiknya tepat di depan mata Vincenzo Moretti?