Aroma Mawar di Balik Pagar Tinggi

Chapter 1 — Aroma Mawar di Balik Pagar Tinggi

Cincin pertunangan itu terasa membakar kulitku. Bukan karena logamnya, tapi karena kebohongan yang terukir di baliknya. Setiap berlian di cincin itu adalah janji kosong dari seorang pria yang, secara teknis, akan menjadi suamiku dalam hitungan bulan.

Aku, Ratna Purnama, berusia 23 tahun, pewaris tunggal keluarga Purnama, keluarga konglomerat pemilik perkebunan teh terbesar di Jawa Barat. Hidupku adalah simfoni terencana, setiap not diatur oleh ayahku, seorang pria yang mencintai tradisi dan kekuasaan lebih dari apapun.

Dan di sanalah letak masalahnya. Tunanganku, Dimas, putra keluarga Kusuma, juga konglomerat pemilik jaringan hotel mewah. Pernikahan kami bukan tentang cinta, melainkan tentang penyatuan dua kerajaan bisnis. Aku dan Dimas saling menghormati, bahkan mungkin menyukai satu sama lain dalam tingkatan tertentu, tetapi tidak ada gairah. Tidak ada api yang membara.

Malam ini, aku melarikan diri dari pesta pertunangan yang diadakan di ballroom megah Hotel Kusuma. Gaun sutra berwarna emerald terasa menyesakkan, sama seperti harapan yang dibebankan di pundakku. Aku menyelinap keluar melalui pintu samping, menuju taman mawar yang luas, mencari udara segar dan sedikit ketenangan.

Aroma mawar yang semerbak menyambutku. Di bawah sinar bulan yang pucat, bunga-bunga itu tampak seperti bisikan rahasia. Aku berjalan menyusuri jalan setapak, tanganku menyentuh kelopak bunga dengan lembut. Tiba-tiba, aku mendengar suara gitar akustik yang merdu. Suara itu berasal dari balik pagar tinggi yang memisahkan taman hotel dari jalan umum.

Aku mendekat, penasaran. Di balik pagar, di bawah lampu jalan yang redup, seorang pria duduk di bangku taman. Jari-jarinya menari di atas senar gitar, menciptakan melodi yang menyayat hati. Dia tidak melihatku. Rambutnya gondrong dan berantakan, wajahnya tampan dengan sorot mata yang teduh dan penuh luka. Dia mengenakan kemeja flanel lusuh dan celana jeans robek.

Dia sama sekali bukan bagian dari duniaku. Dia adalah antitesis dari kemewahan dan keteraturan yang mengelilingiku. Tapi, ada sesuatu dalam melodi yang dia ciptakan yang membuatku terpaku. Sesuatu yang berbicara langsung pada jiwaku. Aku berdiri di sana, tersembunyi di balik pagar, mendengarkan dia bernyanyi. Suaranya serak dan penuh emosi, menceritakan kisah tentang cinta yang hilang dan harapan yang pupus.

Ketika dia selesai bernyanyi, aku memberanikan diri untuk bersuara. "Itu indah," kataku pelan. Pria itu terkejut dan menoleh ke arahku. Matanya membulat, seolah melihat hantu. "Siapa kamu?" tanyanya dengan suara serak. Aku membeku. Sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara yang familiar memanggil namaku. "Ratna! Di mana kamu? Ayahmu mencarimu!" Itu suara Dimas, tunanganku. Aku menatap pria di balik pagar itu, lalu kembali menatap ballroom yang gemerlap. Aku harus memilih. Dan pilihanku akan mengubah segalanya.