Gaun Merah Jambu di Antara Berlian
Chapter 1 — Gaun Merah Jambu di Antara Berlian
Kilatan lampu sorot terasa membakar retinaku saat aku melangkah keluar dari limusin. Aroma parfum mahal bercampur keringat dan kecemasan menyesak di dada. Malam ini, aku, Annabelle Laurent, hanyalah seonggok daging yang dipajang di hadapan para miliarder Jakarta.
Acara lelang amal Yayasan Harapan Bangsa ini adalah nerakaku. Ayahku, terlilit hutang judi yang menggunung, menjanjikanku sebagai 'hadiah' untuk penawar tertinggi. Sebuah ironi pedih, karena Yayasan ini seharusnya membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu seperti kami.
Gaun merah jambu yang kukenakan terasa seperti jeratan di leher. Gaun ini, yang entah bagaimana bisa lolos dari tangan-tangan kasar rentenir yang menyatroni rumah kami, adalah satu-satunya pertahananku. Sebuah tameng tipis melawan tatapan lapar para pria yang menganggapku barang.
Aku melirik pantulan diriku di jendela limusin. Rambut cokelatku yang biasanya tergerai bebas, kini disanggul rapi. Riasan tipis menutupi lingkaran hitam di bawah mata, hasil dari malam-malam tanpa tidur karena memikirkan nasibku. Aku terlihat cantik, bahkan mungkin mempesona. Tapi kecantikan ini adalah kutukanku.
Pintu ballroom terbuka, dan suara musik klasik langsung menyerbu indra pendengaranku. Kristal-kristal lampu gantung berkilauan, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang dipenuhi pria-pria berjas mahal dan wanita-wanita bergaun mewah. Mereka semua tersenyum, tertawa, seolah tidak ada yang salah di dunia ini. Sementara aku, merasa seperti domba yang digiring ke jagal.
Aku menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk. Ayahku, dengan senyum palsu yang dipaksakan, langsung menyambutku. Tangannya menggenggam lenganku erat, seperti memastikan aku tidak akan kabur.
"Annabelle, kau terlihat cantik sekali," pujinya, tapi matanya memancarkan kalkulasi. "Ingat, bersikaplah manis dan patuh. Ini untuk kebaikan kita semua."
Aku hanya mengangguk, tidak sanggup mengeluarkan suara. Kata-kata Ayah seperti cambuk yang mencambuk harga diriku.
Kami berjalan menuju meja VIP, tempat beberapa pria sudah menunggu. Salah satunya, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan senyum menjijikkan, langsung menarik kursiku.
"Annabelle, perkenalkan, ini Tuan Hartono, salah satu donatur terbesar Yayasan," kata Ayah, dengan nada menjilat.
Tuan Hartono menatapku dari atas ke bawah, membuatku merasa seperti telanjang. "Senang bertemu denganmu, Annabelle. Kudengar kau gadis yang berbakat."
Aku hanya tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa jijik yang meluap-luap di dadaku.
Malam itu berjalan lambat dan menyiksa. Aku dipaksa tersenyum, mengobrol, dan menanggapi lelucon-lelucon garing dari para pria yang mendekatiku. Aku merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh tali-tali tak kasat mata.
Saat acara lelang dimulai, jantungku berdegup kencang. Aku melihat Ayah memberikan anggukan kecil kepada pembawa acara, tanda bahwa giliranku akan segera tiba. Aku menggenggam erat gelas sampanye di tanganku, mencoba menenangkan diri.
Pembawa acara, seorang pria tampan dengan senyum menawan, naik ke atas panggung. "Baiklah, hadirin sekalian, sekarang kita akan memasuki sesi yang paling dinanti-nantikan. Sebuah kesempatan istimewa untuk memberikan kontribusi sekaligus mendapatkan... teman istimewa."
Ia berhenti sejenak, memberikan jeda dramatis. "Malam ini, kita memiliki seorang wanita muda yang cantik dan berbakat, yang bersedia melelang waktunya untuk membantu Yayasan Harapan Bangsa. Mari kita sambut... Annabelle Laurent!"
Sorak sorai memenuhi ruangan. Lampu sorot menyorotku, membuatku merasa telanjang di hadapan ratusan pasang mata. Aku berjalan menuju panggung dengan langkah berat, seperti berjalan menuju hukuman mati.
Saat aku berdiri di samping pembawa acara, aku melihat seorang pria berdiri di belakang ruangan. Sosoknya tinggi dan tegap, dengan aura kekuasaan yang memancar darinya. Wajahnya tidak terlihat jelas karena remang-remang cahaya, tetapi matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku merinding. Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari pria ini. Sesuatu yang berbahaya… dan menarik.
Pembawa acara mulai menawarkan diriku. "Baiklah, siapa yang berani membuka penawaran untuk malam yang tak terlupakan bersama Annabelle Laurent?" Ia tersenyum lebar. "Mulai dari satu miliar rupiah!"
Keheningan menyelimuti ruangan. Kemudian, seorang pria di barisan depan mengangkat tangannya. "Satu setengah miliar!"
Penawaran mulai meningkat dengan cepat. Dua miliar, tiga miliar, lima miliar... Jantungku berdebar semakin kencang setiap kali ada yang menaikkan tawaran. Aku merasa seperti barang yang diperjualbelikan, tidak lebih berharga dari sebuah lukisan atau permata.
Saat tawaran mencapai sepuluh miliar, aku melihat pria di belakang ruangan mengangkat tangannya. Suaranya yang dalam dan berat memecah kesunyian. "Dua puluh miliar!"
Semua mata tertuju padanya. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini lebih mencekam. Tidak ada yang berani menawar lebih tinggi. Pria itu, siapa pun dia, telah memenangkan diriku.
Aku menatapnya, mencoba membaca pikirannya. Siapa dia? Mengapa dia menginginkanku? Dan apa yang akan terjadi padaku sekarang?
Pembawa acara tersenyum lebar. "Selamat kepada... Tuan siapa?"
Pria itu melangkah maju, keluar dari kegelapan. Cahaya lampu sorot menyorot wajahnya, mengungkap ketampanan yang dingin dan mematikan. Mata birunya menatapku tajam, seolah menelanjangiku hingga ke jiwa.
"Dirga Adiwangsa," jawabnya, dengan suara yang membuat bulu kudukku meremang. "Dan apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku."