Gaun Merah di Jendela

Chapter 1 — Bab 1: Gaun Merah di Jendela

Kilatan blitz kamera terasa membakar retinaku. Aku benci ini. Aku benci semua ini. Tapi aku harus tersenyum, harus terlihat anggun dalam gaun merah menyala ini, seolah-olah lelang amal ini adalah puncak dari segala yang kuinginkan.

Namaku Widya Nadia. Dan aku terperangkap. Terperangkap dalam jaring hutang yang ditinggalkan ayahku, seorang penjudi kelas kakap yang lebih mencintai meja poker daripada putrinya sendiri. Sekarang, aku di sini, di ballroom mewah Hotel Grand Imperium Jakarta, dilelang sebagai 'pendamping' untuk malam ini. Lebih tepatnya, dijual kepada penawar tertinggi.

Lampu kristal raksasa memantulkan cahaya ke seluruh ruangan, menerangi wajah-wajah haus kekuasaan dan uang. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau keringat gugup para wanita yang hadir, masing-masing berusaha terlihat lebih menawan dari yang lain. Lelang ini bukan hanya tentang amal; ini tentang status, tentang menunjukkan siapa yang paling berkuasa.

Aku berdiri di atas panggung kecil, gaun merahku menjuntai anggun hingga ke lantai. Kain sutranya terasa dingin di kulitku, kontras dengan panasnya tatapan yang tertuju padaku. Pak Handoko, pemilik galeri seni yang terkenal mesum, menatapku dari barisan depan, matanya berbinar-binar seperti serigala melihat mangsa. Aku bergidik.

Mikrofon dipegang erat oleh seorang pria tua berjas yang memperkenalkan diriku dengan senyum palsu. "Para hadirin yang terhormat, malam ini kita memiliki kehormatan untuk melelang seorang wanita muda yang sangat istimewa, Widya Nadia. Dia cantik, cerdas, dan… sangat menawan."

Sorak sorai menggema di ruangan itu. Aku mencoba tersenyum, tapi yang keluar hanyalah seringai pahit. Ibuku, yang duduk di salah satu meja di belakang, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu dia membencinya sama seperti aku, tapi kami tidak punya pilihan lain.

Ayah meninggalkan kami dengan hutang sebesar 5 miliar rupiah. Jumlah yang tak mungkin kubayangkan bisa dilunasi. Para rentenir itu tidak sabar. Mereka mengancam akan menyita rumah kami, satu-satunya tempat yang kami miliki. Lelang ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kami.

Penawaran dimulai. Angka-angka melambung tinggi, terlalu cepat untuk diproses otakku. 100 juta… 500 juta… 1 miliar… Setiap tawaran terasa seperti cambuk yang menghantam harga diriku. Aku hanyalah sebuah barang, sebuah objek yang diperjualbelikan.

Aku melihat ke arah jendela besar di belakang panggung. Pemandangan kota Jakarta di malam hari tampak begitu jauh, begitu tidak terjangkau. Aku membayangkan diriku melarikan diri, menghilang di antara jutaan orang yang tinggal di sana, memulai hidup baru. Tapi itu hanyalah fantasi belaka.

Penawaran mencapai 3 miliar rupiah. Pak Handoko masih memimpin dengan senyum kemenangan di wajahnya. Aku memejamkan mata, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk. Ketika aku membukanya kembali, aku melihat seorang pria berdiri di dekat pintu masuk. Dia tinggi, berpakaian jas hitam yang tampak mahal, dan aura kekuasaan terpancar darinya. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.

Pria itu mengangkat tangannya. Semua mata tertuju padanya. Bahkan Pak Handoko terlihat sedikit gentar. "5 miliar," katanya, suaranya dalam dan tegas, memenuhi seluruh ruangan.

Keheningan menyelimuti ballroom. 5 miliar. Itu jumlah yang mencengangkan. Bahkan si pembawa acara terlihat terkejut. Pak Handoko terdiam, wajahnya merah padam karena marah dan malu.

"Apakah ada yang ingin menawar lebih tinggi?" tanya si pembawa acara, suaranya bergetar.

Tidak ada yang menjawab. Pria misterius itu tersenyum tipis. "Kalau begitu, Nona Nadia menjadi milikku untuk malam ini."

Mataku bertemu dengan mata pria itu. Ada sesuatu yang aneh di sana, sesuatu yang tidak bisa kupahami. Bukan nafsu, bukan keserakahan. Melainkan… rasa ingin tahu? Atau mungkin, hanya ilusi belaka. Ketika pria itu mulai berjalan ke arahku, aku tahu hidupku akan berubah selamanya. Siapa pria ini? Dan apa yang dia inginkan dariku?