Bisikan dari Kedalaman

Chapter 1 — Bab 1: Bisikan dari Kedalaman

Udara di Desa Senjakala selalu terasa berat, tetapi malam ini, kelembapannya menusuk tulang, seolah ada sesuatu yang lebih dari sekadar cuaca buruk yang mengintai. Angin meraung dari arah laut, membawa serta bau garam dan… sesuatu yang lain. Sesuatu yang amis, busuk, dan sangat kuno.

Raden, seorang pemuda yang lebih akrab dengan kegelapan daripada cahaya matahari, merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena angin. Bukan karena bau laut yang memuakkan. Tetapi karena bisikan itu. Bisikan lirih yang seolah berasal dari kedalaman bumi, merayapi gendang telinganya, membisikkan nama… namanya.

Raden bukan nama yang umum di Desa Senjakala. Desa ini, terpencil di pesisir selatan Jawa, lebih dikenal dengan tradisi mistisnya daripada nama-nama modern. Ia adalah anak dari pendatang, seorang arkeolog yang terobsesi dengan legenda kuno tentang kerajaan yang tenggelam di lepas pantai. Ayahnya menghilang sepuluh tahun lalu, tersapu ombak saat melakukan penelitian di sebuah pulau karang terpencil. Jasadnya tak pernah ditemukan.

Sejak saat itu, Raden hidup bersama Eyang Suti, nenek dari pihak ibunya, seorang wanita tua yang menyimpan banyak rahasia di balik keriputnya. Eyang Suti adalah penjaga tradisi desa, seorang dukun yang dihormati dan ditakuti. Dialah yang mengajari Raden tentang dunia gaib, tentang makhluk-makhluk halus yang bersemayam di setiap sudut Desa Senjakala.

“Bisikan itu… itu pertanda,” kata Eyang Suti suatu malam, saat Raden menceritakan tentang suara-suara aneh yang mulai menghantuinya. “Sesuatu telah terbangun di kedalaman. Sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.”

Raden mencoba mengabaikan bisikan itu. Ia sibuk membantu Eyang Suti dengan ritual-ritual desa, mengumpulkan ramuan herbal di hutan angker, dan menghindari tatapan aneh penduduk desa yang selalu memandangnya seolah ia membawa kutukan. Tetapi bisikan itu semakin keras, semakin jelas, memanggil namanya dengan nada yang semakin mendesak.

Malam ini, bisikan itu membawanya ke pantai. Bulan sabit menggantung rendah di langit, menerangi ombak yang mengamuk dengan cahaya pucat. Di kejauhan, Raden melihat sesuatu. Sebuah bayangan gelap yang bergerak di bawah permukaan air. Semakin mendekat, semakin besar, hingga akhirnya muncul ke permukaan dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Itu bukan perahu. Bukan juga hewan laut raksasa. Itu adalah struktur batu kuno, ditutupi lumut dan teritip, yang seolah muncul dari dasar laut. Sebuah gerbang. Sebuah pintu masuk ke sesuatu yang mengerikan.

Raden terpaku di tempatnya, jantungnya berdebar kencang. Bisikan itu berubah menjadi raungan, memekakkan telinganya, memaksanya untuk melangkah maju. Kakinya bergerak sendiri, tanpa kendali, menuju gerbang yang muncul dari kedalaman. Ia merasa ada kekuatan yang menariknya, sebuah panggilan yang tak bisa di tolak. Di saat itulah, sebuah tangan kurus dan pucat muncul dari balik gerbang, meraihnya dengan cengkeraman yang dingin dan kuat.

“Raden… pulanglah…” bisik suara itu, suara ayahnya, dari balik kegelapan.