Cincin Warisan di Jari Manis

Chapter 1 — Cincin Warisan di Jari Manis

Debaran jantungku menggema di telinga, menenggelamkan suara gemericik air mancur di taman belakang. Gaun sutra berwarna krem yang membalut tubuhku terasa menyesakkan, seolah ikut berkonspirasi dengan takdir yang akan segera ku hadapi. Lima menit lagi, aku akan resmi bertunangan dengan pria yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Namaku Laila Larasati, putri tunggal keluarga Widjaja, pemilik jaringan hotel mewah di seluruh Indonesia. Sejak kecil, aku dididik untuk menjadi penerus kerajaan bisnis keluarga. Namun, impianku jauh berbeda. Aku ingin menjadi seorang desainer interior, menciptakan ruang yang nyaman dan indah bagi semua orang. Sayangnya, impian itu harus kukubur dalam-dalam, demi menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Keluarga Hardjanto, pemilik perusahaan konstruksi terbesar di Asia Tenggara, bersedia memberikan pinjaman dana segar dengan syarat: aku harus menikahi putra sulung mereka, Oka Hardjanto. Sebuah perjodohan klasik, di era modern ini. Aku tahu, ini adalah pengorbanan besar. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Ayahku sakit-sakitan, dan perusahaan sedang berada di ujung tanduk.

Pandanganku terpaku pada cincin berlian yang melingkar di jari manisku. Cincin warisan keluarga Widjaja, simbol ikatan yang tak bisa diputuskan. Dulu, aku membayangkan akan memakainya saat bertunangan dengan pria yang kucintai. Tapi sekarang, cincin ini terasa seperti belenggu yang mengikatku pada takdir yang tidak kuinginkan.

Pintu ruang keluarga terbuka, menampilkan sosok Mama dengan senyum yang dipaksakan. “Laila, sudah waktunya,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dengan langkah berat, aku berjalan menuju ruang depan, tempat keluarga Hardjanto sudah menunggu.

Di ruang tamu, aku melihat seorang pria berdiri membelakangiku, menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di malam hari. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan rambutnya hitam legam. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aura kekuasaan terpancar kuat darinya. Inikah Oka Hardjanto, pria yang akan menjadi suamiku? Perlahan, dia berbalik. Matanya bertemu dengan mataku. Dan saat itulah, duniaku seolah berhenti berputar. Pria itu… bukan Oka Hardjanto.