Sentuhan Pertama Sang Jutawan
Chapter 1 — Bab 1: Sentuhan Pertama Sang Jutawan
Gaun merah menyala itu terasa seperti bara api di kulitku saat aku menuruni tangga spiral megah. Setiap manik-manik payet terasa seperti ejekan atas kehidupanku yang hancur. Malam ini, aku, Adelia Rahardja, akan dilelang kepada para jutawan Jakarta.
Lima tahun lalu, namaku masih harum sebagai pewaris tunggal Rahardja Group. Sekarang, perusahaan ayahku bangkrut, dan hutang-hutangnya menumpuk seperti gunung yang siap meletus. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibuku dan adikku dari jurang kemiskinan adalah dengan menerima tawaran 'pertolongan' dari Tuan Bramantyo, seorang pengusaha licik yang terkenal kejam.
Ia menjanjikan akan melunasi semua hutang keluarga Rahardja, asalkan aku bersedia menjadi bagian dari lelang amal yang ia adakan. Lelang yang sebenarnya adalah ajang bagi para jutawan untuk 'membeli' diriku, menjadikanku simpanan mereka. Aku menggigit bibir, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Martabatku sudah lama terkubur bersama mimpi-mimpiku.
Musik klasik mengalun lembut dari ruang ballroom yang luas, namun bagiku, itu adalah lagu kematian. Aku melihat sekeliling: lampu-lampu kristal berkilauan, meja-meja bundar ditutupi linen putih, dan ratusan mata lapar yang menatapku. Para wanita bergaun mewah berbisik-bisik di balik kipas mereka, sementara para pria berdasi mahal menilaiku seperti barang dagangan.
Tuan Bramantyo berdiri di atas panggung, tersenyum licik. "Selamat malam, para hadirin yang terhormat! Malam ini, kita akan melelang sesuatu yang sangat istimewa: seorang wanita muda yang cantik dan berbakat, Adelia Rahardja!" Sorak sorai menggema di ruangan itu. Aku merasa seperti binatang buas yang dipertontonkan di kebun binatang.
Ia melanjutkan dengan nada menggoda, "Adelia membutuhkan bantuan finansial untuk keluarganya, dan siapa pun yang memberikan penawaran tertinggi akan mendapatkan kehormatan untuk 'membantu'nya secara pribadi." Ia mengedipkan mata, dan tawa cabul memenuhi ruangan. Aku mengepalkan tanganku erat-erat, berusaha untuk tidak pingsan.
Penawaran dimulai dari satu miliar rupiah. Angka itu terus meningkat dengan cepat, didorong oleh nafsu dan keserakahan. Aku melihat beberapa wajah yang kukenal: pengusaha tua bangka yang dulu menjadi kolega ayahku, politisi korup yang sering mengunjungi rumah kami, dan bahkan mantan pacarku, Julio, yang kini menatapku dengan ekspresi kasihan. Kasihan? Ia bahkan tidak mencoba untuk menghentikan ini.
Saat penawaran mencapai lima miliar, seorang pria berdiri dari mejanya. Dia tinggi, dengan rambut hitam legam dan mata setajam elang. Aura kekuasaan terpancar darinya, membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Aku tidak mengenalinya. Ia mengenakan setelan jas hitam yang mahal, dan tidak ada senyum di wajahnya.
"Sepuluh miliar," katanya dengan suara bariton yang dalam dan tegas. Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Sepuluh miliar rupiah? Tidak ada yang berani menawar lebih tinggi. Tuan Bramantyo tersenyum lebar. "Apakah ada yang berani menawar lebih tinggi? Sekali? Dua kali?"
Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, pria itu berjalan ke arahku. Ia berhenti tepat di depanku, menatapku lekat-lekat. Aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang di dadaku. "Aku tidak tertarik untuk 'membantu'mu secara pribadi, Nona Rahardja," bisiknya di telingaku, cukup keras agar hanya aku yang bisa mendengarnya. "Aku di sini untuk menyelamatkanmu."
Kemudian, dengan gerakan cepat dan tak terduga, ia meraih tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. "Aku adalah tunangan Adelia," ujarnya dengan suara lantang yang bergema di seluruh ruangan. "Dan aku tidak suka berbagi."
Semua orang terkejut, termasuk aku. Tunangan? Aku tidak pernah bertemu pria ini sebelumnya! Siapa dia sebenarnya, dan mengapa dia melakukan ini? Sebelum aku bisa bertanya, suara teriakan nyaring memecah keheningan. Seorang wanita bergaun emas, dengan wajah merah padam karena marah, menerobos kerumunan. "Rafael! Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku?!"