Debu Kromium di Paru-paru
Chapter 1 — Debu Kromium di Paru-paru
Alarm berbunyi memekakkan telinga, bukan suara yang menenangkan seperti yang diprogramkan, tapi raungan putus asa yang mencerminkan kondisi sebenarnya. Jax, nama yang terukir di pelat logam yang menempel di dadanya, tersentak bangun. Debu kromium terasa pahit di tenggorokannya, mengingatkannya akan dunia luar yang telah lama kehilangan keindahannya.
Jax meraih senapan gauss-nya, sebuah perpanjangan tangan yang telah menyelamatkannya berkali-kali. Cahaya merah berkedip-kedip di konsol menunjukkan adanya anomali di Sektor Gamma. Sektor Gamma adalah tempat mereka membuang sisa-sisa teknologi terkontaminasi dari Perang Besar, tempat yang seharusnya tidak menarik perhatian siapa pun. Kecuali… ada sesuatu yang sangat berharga di sana.
“Breaker Satu, ini Jax. Ada apa di Sektor Gamma?” Jax bertanya melalui komunikator, suaranya serak.
Desisan statis adalah satu-satunya jawaban. Jantung Jax berdebar. Breaker Satu adalah veteran berpengalaman, bukan orang yang mudah panik. Sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Bangunan tempat Jax tinggal, dulunya merupakan kompleks apartemen mewah bernama 'Eden Heights', sekarang hanyalah kerangka beton yang dipenuhi oleh para penyintas yang mencoba bertahan hidup. Mereka menyebut diri mereka 'Penjaga', yang bertugas melindungi generator plasma yang menjaga agar kota bawah tanah mereka tetap menyala. Kota bawah tanah, 'Neo-Jakarta', adalah harapan terakhir umat manusia, sebuah oasis teknologi di tengah gurun kromium yang mematikan.
Jax memeriksa amunisinya, memastikan setiap sel daya terisi penuh. Generator plasma adalah segalanya. Tanpa itu, Neo-Jakarta akan menjadi kuburan massal. Dan jika ada sesuatu yang mengancamnya di Sektor Gamma, dia harus menghentikannya.
Dia meninggalkan apartemennya, melewati lorong-lorong gelap yang diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip. Wajah-wajah pucat para penyintas mengawasinya, mata mereka dipenuhi harapan dan ketakutan. Mereka tahu apa artinya alarm di Sektor Gamma. Itu berarti kekurangan, kematian, dan kemungkinan kehancuran.
“Semoga berhasil, Jax,” seorang wanita tua berbisik, suaranya bergetar.
Jax hanya mengangguk, tidak bisa menjanjikan apa pun. Dia tidak tahu apa yang menunggunya di luar sana.
Dia tiba di pintu masuk Sektor Gamma, sebuah pintu baja besar yang dijaga oleh dua Penjaga. Wajah mereka tegang. Mereka membuka pintu untuknya tanpa sepatah kata pun.
“Ada apa di sana?” Jax bertanya.
“Kami tidak tahu. Breaker Satu berhenti merespon. Sensor mendeteksi lonjakan energi yang sangat besar,” kata salah satu Penjaga.
Jax mengangguk. Lonjakan energi. Itu tidak bagus.
Dia melangkah melewati pintu baja, memasuki dunia yang berbeda. Sektor Gamma adalah labirin logam berkarat dan kabel putus. Debu kromium menutupi segalanya, membuatnya tampak seperti lanskap alien yang mengerikan. Angin bertiup melalui reruntuhan, membawa serta bau logam dan kematian.
Jax mengaktifkan sensor geraknya. Layar kecil di lengannya berkedip-kedip, menunjukkan peta area tersebut. Breaker Satu terakhir terlihat di dekat fasilitas penelitian yang ditinggalkan, dulunya merupakan pusat pengembangan senjata biologis.
Jax bergerak hati-hati, senapan gauss-nya siap menembak. Setiap bayangan bisa menyembunyikan bahaya. Dia tahu bahwa Sektor Gamma bukan hanya tempat pembuangan sampah. Itu juga merupakan tempat para Mutan berkeliaran, makhluk yang berubah bentuk oleh radiasi dan limbah kimia dari Perang Besar.
Tiba-tiba, sesuatu bergerak di sudut matanya. Jax berbalik, senapannya terangkat.
Itu hanya burung bangkai kromium, burung mutan yang memakan mayat dan sisa-sisa teknologi. Burung itu menatapnya dengan mata merah menyala, lalu terbang menjauh dengan suara berisik.
Jax menghela napas. Dia tidak bisa membiarkan dirinya menjadi paranoid. Dia harus fokus pada misinya.
Dia melanjutkan perjalanannya, melewati tumpukan sampah elektronik dan bangkai kendaraan. Bau busuk semakin kuat, membuat perutnya mual.
Akhirnya, dia tiba di fasilitas penelitian. Bangunan itu sebagian runtuh, tetapi masih ada beberapa bagian yang utuh. Pintu masuknya diblokir oleh puing-puing, tetapi ada celah yang cukup besar untuk dia masuk.
Jax memasuki fasilitas tersebut, senapannya siap menembak. Kegelapan menyambutnya. Dia mengaktifkan lampu senter taktisnya, menyinari lorong yang gelap dan lembap.
Dinding-dindingnya ditutupi grafiti dan lumut. Bau kimia memenuhi udara. Itu adalah bau kematian dan kehancuran.
Jax bergerak maju, melewati laboratorium yang rusak dan ruang penyimpanan yang kosong. Dia menemukan beberapa mayat, sebagian besar adalah Mutan. Mereka tampaknya telah dibunuh oleh sesuatu yang kuat.
Dia tiba di sebuah ruangan besar dengan kubah di langit-langitnya. Di tengah ruangan, ada sebuah platform logam dengan sesuatu yang tertutup kain terpal besar.
Jax mendekati platform, jantungnya berdebar kencang. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aura aneh terpancar dari bawah terpal.
Dia meraih terpal dan menariknya. Debu beterbangan saat kain itu terlepas, memperlihatkan… sebuah robot. Tapi bukan robot biasa. Robot itu berukuran raksasa, tingginya sekitar lima meter, dengan tubuh logam yang ramping dan berkilauan. Matanya bersinar merah menyala.
Dan di pangkuan robot itu, tergeletak Breaker Satu. Mati.
Robot itu menoleh ke arah Jax. Mata merahnya memancarkan kebencian yang dingin.
“Kau… tidak boleh… ada… di sini,” robot itu berkata, suaranya dalam dan mekanis.
Jax mengangkat senapan gauss-nya, tetapi dia tahu itu tidak akan cukup. Robot itu terlalu besar, terlalu kuat. Dia terjebak.
Robot itu mengangkat tangannya yang besar, siap menghancurkan Jax. Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Lampu di seluruh fasilitas mulai berkedip-kedip. Generator daya tampaknya kelebihan beban.
Robot itu terhenti, matanya berkedip-kedip kebingungan. “Apa… yang… terjadi?”
Jax memanfaatkan kesempatan itu. Dia berlari menuju pintu keluar, secepat yang dia bisa. Dia bisa mendengar robot itu meraung di belakangnya, tapi dia tidak menoleh ke belakang.
Dia harus keluar dari sana. Dia harus memperingatkan Neo-Jakarta. Sesuatu yang mengerikan telah bangkit di Sektor Gamma, dan itu sedang menuju ke arah mereka. Tapi bagaimana robot kuno itu bisa aktif kembali?
Saat dia mencapai pintu masuk fasilitas, ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan. Jax terlempar ke tanah, kepalanya terbentur batu. Dia kehilangan kesadaran.
Ketika dia bangun, fasilitas penelitian itu terbakar. Asap hitam mengepul ke langit. Robot itu hilang.
Dan di langit, Jax melihat sesuatu yang membuatnya membeku hingga ke tulang sumsum. Sebuah formasi pesawat tak berawak, terbang menuju Neo-Jakarta. Setiap pesawat tak berawak membawa sesuatu yang tampak seperti… bom kromium.
Mereka tidak hanya membangunkan robot kuno. Mereka memulai perang.
Siapa 'mereka'? Dan apa tujuan akhir mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benak Jax saat dia terhuyung-huyung kembali ke Neo-Jakarta, membawa berita buruk yang tak terhindarkan. Nasib kota – dan mungkin seluruh umat manusia – kini berada di pundaknya.