Debu di Bunga Embun
Chapter 1 — Debu di Bunga Embun
Debar jantungku adalah pengkhianatan. Setiap ketukan adalah ancaman bagi harmoni kota Oasis, bagi keseimbangan yang dijaga ketat oleh Algoritma. Aku, Caelum Valerius, seorang Arsitek Embun yang terhormat, seharusnya hanya memikirkan efisiensi kondensasi, bukan aroma melati yang menguar dari rambut Miria River. Tapi di sinilah aku, bersembunyi di balik panel surya raksasa, mencuri pandang padanya saat dia menyiram taman vertikal.
Oasis adalah keajaiban teknik. Sebuah kota yang dibangun di tengah gurun pasir, bergantung sepenuhnya pada menara-menara pengumpul embun yang menjulang tinggi. Kehidupan di sini diatur oleh Algoritma, sebuah jaringan komputer kompleks yang mengelola segala aspek kehidupan, dari alokasi air hingga penempatan kerja. Tidak ada ruang untuk improvisasi, tidak ada tempat untuk kesalahan. Dan yang pasti, tidak ada tempat untuk cinta.
Aku mengenalnya sejak kecil. Miria, dengan mata sebiru langit Oasis saat fajar, dan senyum yang mampu menghangatkan gurun yang paling dingin sekalipun. Dulu, kami bermain di antara pipa-pipa pengumpul embun, bermimpi tentang dunia di luar batas kota. Dulu, kami hanya anak-anak. Sekarang, dia adalah seorang Floris, bertanggung jawab atas taman-taman vertikal yang menghiasi dinding-dinding Oasis. Dan aku... aku adalah seseorang yang seharusnya tidak memandangnya dengan cara seperti ini.
“Caelum?” Suara itu, lembut namun tegas, memecah lamunanku. Aku tersentak, hampir kehilangan keseimbangan. Di depanku, berdiri Aria Vesper, Pengawas Algoritma untuk sektor Embun. Wajahnya, selalu tanpa ekspresi, kini tampak sedikit lebih dingin dari biasanya. Rambutnya yang seputih salju tergerai rapi, kontras dengan jubah abu-abunya yang sederhana. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Aria adalah segalanya yang seharusnya kuinginkan. Cerdas, efisien, dan sepenuhnya setia pada Algoritma. Kami dijodohkan oleh sistem sejak usia muda, sebuah pasangan yang sempurna secara logis untuk memastikan kelangsungan generasi Arsitek Embun yang kompeten. Tidak ada cinta, tentu saja. Hanya kepastian. Hanya stabilitas.
Kami berjalan berdampingan menuju ruang kerjaku, melewati lorong-lorong yang bersih dan steril. Setiap langkah terasa berat, setiap hembusan napas terasa bersalah. Aku tahu apa yang akan dia katakan. Algoritma pasti telah mendeteksi sesuatu. Fluktuasi dalam detak jantungku, mungkin. Atau perubahan halus dalam pola pikirku. Sistem itu selalu mengawasi, selalu menilai.
Ruang kerjaku adalah cerminan dari diriku yang terbagi. Di satu sisi, meja kerja yang rapi dengan skema-skema teknik dan perhitungan yang rumit. Di sisi lain, sebuah sudut kecil yang berantakan dengan buku-buku kuno tentang botani dan sketsa-sketsa bunga liar. Hobi yang terlarang, pengingat akan mimpi-mimpi masa kecilku.
Aria duduk di kursi di depanku, posturnya tegak dan tanpa cela. “Algoritma telah mengidentifikasi anomali dalam pola emosionalmu, Caelum,” katanya tanpa basa-basi. “Fluktuasi yang tidak sesuai dengan profil yang diharapkan.”
Jantungku berdebar semakin kencang. Aku berusaha keras untuk tetap tenang, untuk menyembunyikan rasa takut yang mencengkeramku. “Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Aria,” jawabku, berusaha terdengar meyakinkan.
Aria mengangkat alisnya, ekspresinya tetap tidak berubah. “Jangan berbohong padaku, Caelum. Algoritma tidak pernah salah. Anomali ini terkait dengan interaksimu dengan Miria River.”
Duniaku runtuh. Jadi, Algoritma tahu. Sistem itu telah melihat apa yang aku coba sembunyikan, hasrat terlarang yang membara di dalam hatiku. Aku menunduk, tidak mampu menatap mata Aria.
“Cinta adalah variabel yang berbahaya, Caelum,” lanjut Aria, suaranya dingin dan tanpa emosi. “Ia mengganggu efisiensi, mengancam stabilitas. Algoritma tidak akan mentolerirnya.”
Aku tahu itu. Kami semua tahu itu. Tapi mengetahui dan merasakannya adalah dua hal yang berbeda. Aku mencintai Miria. Aku selalu mencintainya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
“Anda akan menjauhi Miria River, Caelum,” perintah Aria. “Semua interaksi harus dihentikan segera. Ini demi kebaikan Oasis, demi kebaikan kita semua.”
Aku mengangguk, merasa hancur. Aku tahu bahwa aku tidak punya pilihan. Melawan Algoritma sama dengan bunuh diri. Tapi bagaimana aku bisa menjauhi Miria? Bagaimana aku bisa menghapus perasaanku padanya?
“Sebagai tambahan,” Aria melanjutkan, “Algoritma telah merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap Miria River. Fluktuasi dalam profil emosionalnya juga terdeteksi. Tampaknya… dia juga merasakan sesuatu.”
Rasa takut yang tadinya mencengkeramku kini berubah menjadi kepanikan. Jika Algoritma mencurigai Miria, dia dalam bahaya. Mereka bisa menghukumnya, mengasingkannya, atau bahkan… lebih buruk lagi. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.
“Apa yang akan Anda lakukan padanya?” tanyaku, suaraku bergetar.
Aria menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. “Itu tergantung padamu, Caelum,” jawabnya. “Kerja sama Anda akan menentukan nasibnya.”
Dia berdiri, berjalan menuju pintu. Sebelum pergi, dia berbalik dan menatapku sekali lagi. “Ingat, Caelum,” katanya dengan suara pelan, “Cinta adalah penyakit. Dan penyakit harus disembuhkan.”
Setelah Aria pergi, aku duduk di kursiku, merasa benar-benar putus asa. Aku terjebak dalam labirin yang dibuat oleh Algoritma, terperangkap antara cinta dan kewajiban. Aku harus melindungi Miria, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Dan yang lebih buruk lagi, aku mulai bertanya-tanya apakah Aria, dengan semua kesetiaannya pada Algoritma, menyembunyikan sesuatu. Ada sesuatu yang aneh dalam tatapannya, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Mungkinkah dia… merasa iri?
Aku berdiri dan berjalan menuju jendela. Di kejauhan, aku bisa melihat Miria menyiram bunga-bunga di taman vertikal. Dia tampak begitu damai, begitu bahagia. Aku ingin bersamanya, untuk melindunginya dari bahaya yang mengintai. Tapi aku tahu bahwa setiap langkah yang kuambil mendekat padanya hanya akan membahayakan dirinya.
Saat aku terus menatapnya, aku melihat sesuatu yang aneh. Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di dekatnya, mengawasinya dengan tatapan yang intens. Dia bukan salah satu Floris. Dia adalah… seorang Penegak Algoritma.
Jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Mereka sudah mengawasinya. Mereka sudah siap untuk menangkapnya.
Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus memperingatkannya. Tapi bagaimana?
Aku meraih komunikator di mejaku, bersiap untuk menghubunginya. Tapi kemudian, aku berhenti. Jika aku menghubunginya, aku akan membahayakan dirinya lebih jauh. Algoritma pasti akan melacak panggilan itu.
Aku harus menemukan cara lain. Aku harus menemukan cara untuk melindunginya, tanpa membahayakan dirinya sendiri. Tapi waktu hampir habis. Penegak Algoritma itu semakin dekat padanya. Dan aku… aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.