Aroma Kematian di Balik Mawar Merah
Chapter 1 — Aroma Kematian di Balik Mawar Merah
Detik jam berdentang seperti gema palu godam di tengkorak kepala Amira. Setiap detaknya adalah pengingat, sebuah siksaan halus namun tak terhindarkan, bahwa malam ini adalah malam pertunangannya. Pertunangan yang bukan hanya sekadar janji suci, melainkan rantai yang mengikatnya pada pria yang paling dibencinya: Damian Sterling.
Jendela besar di kamar Amira menghadap ke taman mawar yang luas. Malam ini, mawar-mawar itu tampak lebih merah, lebih gelap, seolah menyerap semua cahaya bulan. Aroma manisnya yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan, seperti aroma kematian yang disamarkan dengan keindahan.
Amira, dengan gaun sutra putih yang seharusnya melambangkan kemurnian dan kebahagiaan, berdiri di depan cermin. Bayangannya membalas tatapan dingin dan putus asanya. Wajahnya yang biasanya ceria kini pucat pasi, bibirnya yang sering tersenyum kini terkatup rapat dalam garis keras. Dia merasa seperti boneka porselen yang dipajang, cantik namun rapuh, siap hancur berkeping-keping.
"Amira, sayang? Tamu-tamu sudah mulai berdatangan," suara ibunya, Alya, memecah kesunyian. Alya masuk ke kamar, senyumnya yang dipaksakan tidak mampu menyembunyikan ketegangan di matanya.
"Aku tidak bisa melakukan ini, Ibu," bisik Amira, suaranya bergetar. "Aku tidak bisa menikah dengan Damian."
Alya mendekat dan membelai pipi Amira dengan lembut. "Sayang, kau tahu kita tidak punya pilihan. Keluarga Sterling adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan kita dari kebangkrutan. Pernikahan ini adalah pengorbanan kecil demi masa depan kita semua."
"Pengorbanan kecil? Ibu tahu betapa aku membencinya! Dia kejam, dia arogan, dia… dia monster!" Air mata mulai mengalir di pipi Amira. Dia teringat semua hinaan, semua penghinaan, semua rencana licik Damian untuk mempermalukan dan menjatuhkannya selama bertahun-tahun.
"Amira, kendalikan dirimu!" Alya mencengkeram bahu Amira dengan erat. "Ini bukan saatnya untuk drama. Ingatlah apa yang dipertaruhkan. Semua yang kita miliki, semua yang telah Ayahmu bangun dengan susah payah, akan lenyap jika kau menolak pernikahan ini."
Amira terdiam. Dia tahu ibunya benar. Keluarga mereka berada di ambang kehancuran finansial. Perusahaan ayahnya, yang dulunya berjaya, kini terlilit hutang dan terancam disita. Damian Sterling, dengan kekayaan dan kekuasaannya, adalah satu-satunya harapan mereka.
"Aku tahu ini sulit bagimu, sayang," lanjut Alya, suaranya melembut. "Tapi percayalah, ini yang terbaik. Mungkin, seiring waktu, kau akan belajar mencintainya."
Cinta? Kata itu terasa seperti lelucon pahit di telinga Amira. Mencintai Damian? Mustahil. Dia lebih baik mati daripada menyerahkan hatinya pada pria itu.
"Ayo, sayang. Kita tidak bisa membuat mereka menunggu lebih lama lagi," kata Alya, menarik tangan Amira menuju pintu.
Amira mengikuti ibunya dengan langkah gontai. Di sepanjang lorong, dia bisa mendengar suara musik klasik yang mengalun merdu, bercampur dengan suara obrolan dan tawa para tamu. Semua itu terasa seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Saat mereka tiba di ballroom, Amira melihat Damian berdiri di ujung altar. Dia mengenakan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya, membuatnya tampak semakin tinggi dan mengintimidasi. Rambutnya yang gelap disisir rapi ke belakang, memperlihatkan rahangnya yang tegas dan mata abu-abunya yang tajam. Dia tampak seperti dewa Yunani yang dingin dan tanpa ampun.
Mata mereka bertemu. Damian menyunggingkan senyum sinis yang membuat bulu kuduk Amira meremang. Senyum yang mengatakan, 'Kau milikku sekarang. Dan kau tidak akan pernah bisa melarikan diri.'
Amira berjalan menuju altar, setiap langkahnya terasa seperti berjalan menuju kematian. Dia melihat ayahnya, Robert, berdiri di samping Damian. Wajah ayahnya tampak lelah dan cemas. Dia tahu ayahnya melakukan ini demi dirinya, demi keluarganya. Tapi tetap saja, Amira tidak bisa memaafkannya.
Upacara pertunangan dimulai. Kata-kata janji suci diucapkan, cincin pertunangan disematkan di jari Amira. Setiap momen terasa seperti siksaan yang tak berujung. Saat tiba gilirannya untuk mengucapkan janji, Amira merasa tenggorokannya tercekat.
"Amira, bersediakah kau menerima Damian Sterling sebagai tunanganmu, untuk saling mencintai, menghormati, dan menghargai, dalam suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"
Semua mata tertuju padanya. Damian menatapnya dengan tatapan menuntut. Ayahnya menatapnya dengan tatapan memohon. Ibunya menatapnya dengan tatapan peringatan.
Amira menarik napas dalam-dalam. Dia tahu apa yang harus dia katakan. Dia tahu apa yang diharapkan darinya. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang memberontak. Sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan.
Dia membuka mulutnya, dan kata-kata yang keluar sama sekali tidak seperti yang diharapkan siapa pun.
"Aku… aku tidak bisa,"
Keheningan menyelimuti ballroom. Semua mata membelalak kaget. Damian membeku di tempatnya, ekspresinya berubah dari sinis menjadi marah. Ayah Amira pucat pasi, dan ibunya menutup mulutnya dengan tangan gemetar.
"Apa maksudmu?" tanya Damian, suaranya rendah dan berbahaya.
Amira mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Damian. "Aku tidak bisa menikah denganmu, Damian. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu."
Dia berbalik dan berlari keluar dari ballroom, meninggalkan Damian, keluarganya, dan semua tamu yang terkejut.
Di tengah kekacauan dan kebingungan yang terjadi di belakangnya, Amira tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Dia telah menantang pria yang paling berkuasa dan kejam di kota ini. Dan dia tahu, cepat atau lambat, Damian akan membalas dendam. Tapi untuk saat ini, dia merasa bebas. Bebas dari rantai yang mengikatnya. Bebas untuk memilih takdirnya sendiri.
Dia berlari tanpa henti, sampai dia tiba di taman mawar. Dia terjatuh di tengah-tengah mawar merah yang gelap, air matanya bercampur dengan embun malam. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi dia tahu satu hal: dia tidak akan pernah menyerah pada Damian Sterling. Dia akan melawannya sampai akhir.
Tiba-tiba, dia merasakan sentuhan dingin di lehernya. Sebuah pisau tajam menempel di kulitnya. Dia membeku, napasnya tercekat.
"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku, Amira?" bisik suara yang dikenalnya, suara yang selalu membuatnya ketakutan. "Kau salah besar."
Damian Sterling berdiri di belakangnya, matanya berkilat marah. Dia memegang pisau di tangannya, dan Amira tahu bahwa dia bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Sekarang, katakan padaku, Amira. Apakah kau menyesali keputusanmu?"
Amira menelan ludah. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia takut, tapi dia juga marah. Dia tidak akan membiarkan Damian mengendalikannya. Dia akan melawan sampai napas terakhirnya.
"Tidak," jawabnya, suaranya bergetar tapi tegas. "Aku tidak menyesalinya."
Damian tertawa, tawa dingin dan mengerikan yang membuat darah Amira membeku di nadinya. "Kalau begitu, kau akan membayar harga yang sangat mahal untuk keberanianmu ini."