Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 12 — Bayangan Lirih Sang Ibu
Bau disinfektan yang menusuk hidung perlahan memudar, digantikan oleh aroma kopi yang pekat dan bisikan-bisikan panik yang samar. Larasati mengerjapkan mata, pandangannya berputar sebelum akhirnya fokus pada sosok Raden yang berlutut di sampingnya. Wajahnya pucat, matanya dipenuhi campuran antara rasa bersalah dan tekad yang membara. Di belakangnya, Arya tergeletak tak bergerak, napasnya dangkal, seragam keamanan yang dikenakannya ternoda gelap di bagian dada.
“Arya!” Suara Larasati serak, berusaha bangkit namun tubuhnya masih lemas. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena ketakutan melihat Arya terluka parah, tapi juga karena kebingungan yang melanda. Siapa pria asing itu? Apa maksud perkataannya bahwa Arya hanyalah pion?
Raden meraih tangannya, jemarinya dingin namun erat. “Jangan pikirkan dia sekarang. Kau aman.”
“Tapi Arya… siapa yang melakukan ini padanya? Dan pria itu…” Larasati menggenggam erat tangan Raden, mencari kekuatan. “Dia bilang dia menginginkanku. Dia bilang aku miliknya.”
Raden menelan ludu, pandangannya beralih pada Arya, lalu kembali pada Larasati. Surat di tangannya terasa semakin berat. “Aku akan melindungimu, Larasati. Aku bersumpah atas nama ibuku.” Kata-kata ibunya bergema di benak Raden: ‘Dia bukan milikmu, Raden. Jauhi dia, atau bahaya akan merenggut segalanya.’ Namun, melihat kerapuhan di mata Larasati, melihat ancaman nyata yang baru saja terjadi, Raden tahu ia tidak bisa meninggalkannya.
“Ibumu… apa yang dia katakan padamu, Raden?” Larasati bertanya, suaranya bergetar. Ia teringat pesan samar dari surat yang diberikan pria asing itu, tentang takdir yang terjalin dan kekuatan yang tersembunyi. Mungkinkah ada hubungannya dengan ibunya Raden?
Raden ragu sejenak. “Dia… dia memperingatkanku tentangmu. Tentang bahaya yang mengelilingimu. Tapi dia juga… dia juga menyebutkan nama ayahmu.”
Nama Bapak Widjaja terucap, membawa serta ingatan akan pengkhianatan dan pembunuhan. Larasati terkesiap. “Ayahku? Apa yang dikatakannya tentang ayahku?”
Sebelum Raden sempat menjawab, suara berat dan dingin memecah keheningan. “Sepertinya aku datang di saat yang tepat.”
Pria asing itu berdiri di ambang pintu kafe, bayangannya memanjang di lantai yang berlumuran darah. Ia melangkah masuk dengan santai, seolah tidak ada kejadian mengerikan yang baru saja terjadi. Matanya tertuju pada Larasati, tatapannya intens, posesif, dan penuh perhitungan.
“Arya tidak akan mengganggumu lagi,” katanya, matanya menyapu tubuh Arya yang tergeletak. “Dan surat yang kau pegang itu… itu bukan milikmu.”
Larasati merasakan hawa dingin merayapi tulang punggungnya. Ia memeluk surat itu lebih erat. “Ini… ini milikku. Ini adalah kebenaran.”
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. “Kebenaran itu relatif, nona muda. Dan sekarang, kebenaran itu adalah milikku.” Ia mengulurkan tangan, bukan ke arah surat, tapi ke arah Larasati. “Dan kau… kau adalah milikku.”
Raden berdiri tegak, menghalangi pria itu. “Kau tidak akan menyentuhnya.”
Pria itu tertawa. “Oh ya? Siapa kau sebenarnya? Saudara tiri yang muncul entah dari mana dengan surat warisan? Atau hanya sekadar pengawal yang terlambat datang?” Ia menatap Raden dari atas ke bawah. “Kau terlihat mirip dengannya. Dengan rambut hitam pekat dan mata yang sama. Apakah kau tahu, Raden, ibumu dulu sangat mencintaiku?”
Raden tertegun. Ibunya? Pria ini mengenal ibunya? Perkataan ibunya tentang bahaya yang merenggut segalanya kini terasa begitu nyata. Ia teringat lagi bisikan ibunya, peringatan tentang takdir yang tak terhindarkan. Mungkinkah pria ini… adalah bagian dari takdir yang ditakuti ibunya?
“Jangan dengarkan dia, Raden!” Larasati berteriak, merasakan firasat buruk yang semakin kuat. Pria ini, ia tahu terlalu banyak. Ia tahu tentang ayahnya, tentang ibunya Raden, dan sekarang ia mengklaim Raden adalah miliknya.
“Kau pikir kau tahu segalanya, bukan?” Pria itu mendesis, tatapannya beralih pada Larasati. “Kau pikir surat itu memberimu kekuatan? Surat itu hanyalah pembuka. Yang sebenarnya penting adalah apa yang terkandung di dalamnya… dan siapa yang berhak memilikinya.”
Ia melangkah maju, mengabaikan Raden yang siap bertarung. Matanya terkunci pada Larasati. “Lihatlah dirimu, Larasati. Kau memiliki darah yang sama denganku. Kau adalah pewaris yang sebenarnya. Dan aku… aku akan memastikan kau mendapatkan takdirmu.”
Saat pria itu semakin mendekat, Raden merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menusuk punggungnya. Ia terkesiap, pandangannya berputar. Di balik punggungnya, berdiri sesosok wanita bergaun hitam, matanya dingin, memegang pisau kecil yang berkilauan di bawah cahaya redup kafe. Wajahnya tidak asing. Itu adalah wanita yang pernah ia lihat bersama Nona Kirana… dan yang ia lihat terakhir kali di depan rumah Nona Kirana saat Arya datang.
“Maafkan aku, Tuan Muda,” bisik wanita itu, suaranya nyaris tak terdengar. “Ini perintah.”
Larasati menjerit saat Raden ambruk ke lantai, matanya memandang Larasati dengan putus asa. Pria asing itu kini berdiri tepat di depannya, tangannya terulur, siap meraihnya. Larasati menatap mata pria itu, merasakan kegelapan yang luar biasa merayapinya. Di sudut matanya, ia melihat sosok lain muncul dari balik bayangan, sosok yang membuat darahnya membeku. Sosok itu adalah…