Aroma Pengkhianatan di Malam Purnama
Chapter 1 — Aroma Pengkhianatan di Malam Purnama
Jeritan itu merobek keheningan malam, suara yang terlalu familiar, terlalu menyakitkan untuk diabaikan. Darah mengalir dari luka di lenganku, aroma manisnya bercampur dengan bau pinus dan tanah basah. Aroma penolakan. Dia menolakku. Mate-ku menolakku.
Luna hanyalah seorang gadis remaja ketika takdir kejam mempertemukannya dengan Alpha Raka, pemimpin dari kelompok Serigala Crimson yang ditakuti. Di dunia mereka, ikatan Mate adalah segalanya. Kekuatan, kesetiaan, garis keturunan. Penolakan? Itu adalah kematian sosial, sebuah luka yang tidak pernah sembuh. Tapi Raka, dengan mata sedingin es dan rahang yang mengeras, telah meludahi takdir.
"Kau lemah, Luna," geramnya, suaranya seperti guntur yang memecah kesunyian. "Kau tidak pantas menjadi Luna dari kelompok ini. Aku menolakmu sebagai Mate-ku."
Kata-kata itu, seperti belati es, menancap dalam di hatiku. Rasa sakit fisik dari luka penolakan tidak sebanding dengan sakitnya pengkhianatan. Aku, Luna Senja, yatim piatu yang dibesarkan di tepi hutan, selalu bermimpi tentang kehangatan ikatan Mate. Tentang cinta tanpa syarat. Mimpi itu hancur berkeping-keping di bawah tatapan jijik Raka.
Kelompok Serigala Crimson adalah kekuatan dominan di wilayah itu. Mereka menguasai Hutan Lumina, hutan purba yang dipenuhi dengan legenda dan bahaya. Dikatakan bahwa Hutan Lumina dulunya adalah tempat tinggal para dewa serigala, dan kekuatan mereka masih bersemayam di dalam pohon-pohon tua dan sungai-sungai yang mengalir deras. Raka, sebagai Alpha, memiliki kendali penuh atas hutan dan semua yang ada di dalamnya. Termasuk nasibku.
Aku tersandung mundur, air mata mengaburkan pandanganku. Anggota kelompok lainnya menyaksikan dalam diam, mata mereka dipenuhi dengan campuran rasa kasihan dan ketakutan. Tidak ada yang berani menentang Raka. Tidak ada yang berani membantuku.
"Pergi," desis Raka, bibirnya meringkuk jijik. "Jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku lagi."
Aku berbalik dan berlari, berlari secepat yang aku bisa, meninggalkan kelompok, meninggalkan hutan, meninggalkan semua yang aku tahu. Setiap langkah adalah siksaan, setiap tarikan napas adalah pengingat akan penolakan Raka. Pohon-pohon mencambukku, akar-akar mencoba menjebakku, seolah-olah hutan itu sendiri ingin mengusirku.
Akhirnya, aku ambruk di tepi sungai, tubuhku gemetar karena kelelahan dan kesedihan. Air sungai dingin menyentuh lukaku, membakar kulitku. Aku menatap pantulan diriku di air. Seorang gadis muda, matanya dipenuhi dengan keputusasaan, wajahnya pucat pasi. Bukan Luna yang mereka inginkan. Bukan Luna yang pantas untuk Alpha mereka.
Aku tidak tahu ke mana harus pergi, apa yang harus dilakukan. Aku tidak punya siapa-siapa. Tidak ada rumah. Tidak ada keluarga. Hanya luka penolakan yang membara di jiwaku. Tapi bahkan di tengah keputusasaan, sebuah benih kecil tumbuh di dalam diriku. Sebuah benih kemarahan. Sebuah benih balas dendam. Raka mungkin berpikir dia telah menghancurkanku. Dia salah.
Aku akan kembali. Aku akan menjadi lebih kuat. Dan aku akan membuat dia menyesal menolakku.
Beberapa hari kemudian, terhuyung-huyung dan kelaparan, aku menemukan diriku di perbatasan wilayah Serigala Crimson. Di kejauhan, aku melihat gubuk kecil, asap mengepul dari cerobongnya. Sebuah harapan kecil membara di dadaku. Mungkin, hanya mungkin, ada seseorang di sana yang bersedia membantuku. Aku mendekat dengan hati-hati, mengendus udara. Bau lavender dan kayu manis... dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh. Sesuatu yang... magis.
Aku mengetuk pintu. Seorang wanita tua membuka pintu, matanya yang keriput menatapku dengan tatapan yang dalam dan penuh pertimbangan. Dia memiliki aura ketenangan dan kekuatan yang membuatku langsung merasa tenang. Di belakangnya, aku melihat rak-rak yang penuh dengan botol-botol ramuan, buku-buku tua, dan benda-benda aneh lainnya.
"Masuk, Nak," katanya, suaranya serak tapi lembut. "Aku sudah menunggumu."
Tunggu? Bagaimana mungkin dia tahu aku akan datang? Siapa wanita ini? Dan apa yang dia inginkan dariku?