Terjebak dalam Jaring Berlian
Chapter 1 — Terjebak dalam Jaring Berlian
Kilatan lampu kamera menusuk retinaku, setiap jepretan bagai cambuk yang mengingatkanku pada takdir yang tak bisa kuhindari. Gaun merah menyala yang kukenakan terasa seperti jerat, bukan busana mewah. Malam ini, di tengah gemerlap pesta amal yang diadakan keluarga Atmajaya, aku, Jasmine Maharani, akan dijual.
Ayahku, terlilit hutang judi yang menggunung, menjanjikanku pada Rafael Atmajaya, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dingin dan kejam. Rafael, pria yang memiliki segalanya kecuali hati. Tatapannya yang tajam selalu membuatku merasa seperti mangsa yang terpojok.
Aku berusaha menyembunyikan gemetar di balik senyum palsu saat Rafael mendekat. Aroma mahalnya memenuhi indra penciumanku, aroma kekuasaan dan bahaya yang memabukkan. "Kau terlihat cantik, Jasmine," bisiknya di telingaku, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kudukku meremang. Aku benci bagaimana suaranya mempengaruhiku.
"Terima kasih, Rafael," jawabku, berusaha menjaga nada bicaraku tetap tenang. Di balik kata-kata sopan, hatiku menjerit. Aku tidak ingin menjadi miliknya, tidak ingin terperangkap dalam sangkar emas yang ia tawarkan. Aku ingin bebas, aku ingin mencintai seseorang karena cinta, bukan karena hutang dan paksaan.
Tangan Rafael melingkar di pinggangku, menarikku lebih dekat. "Malam ini adalah malam kita, Jasmine. Bersiaplah untuk hidup yang baru." Aku menatap matanya, mencari secercah kelembutan, namun yang kutemukan hanyalah tekad yang membatu. Aku tahu, melawannya sama saja dengan bunuh diri.
Tiba-tiba, seorang pria berjas hitam menghampiri Rafael, membisikkan sesuatu di telinganya. Ekspresi Rafael berubah, dari dingin menjadi geram. Ia melepaskan cengkramannya padaku, matanya berkilat marah. "Sial!" umpatnya. Ia menatapku dengan tatapan penuh kebencian. "Sepertinya kesenangan kita harus ditunda, Jasmine. Ada urusan yang lebih penting yang harus kuurus."
Sebelum aku sempat bertanya apa yang terjadi, Rafael berbalik dan pergi, meninggalkan aku sendirian di tengah kerumunan. Aku merasa bingung dan sedikit lega. Tapi kelegaan itu hanya sesaat. Aku tahu, apapun yang terjadi, ini hanyalah penundaan. Takdirku sudah disegel. Saat aku berbalik, tatapanku bertumbukan dengan sepasang mata kelabu yang dingin. Seorang pria berdiri di kejauhan, tersenyum sinis ke arahku. Siapa dia, dan apa perannya dalam semua ini?