Bayangan di Balik Gerbang Emas

Chapter 1 — Bayangan di Balik Gerbang Emas

Kilatan cahaya dari pisau itu memantul dari gerbang besi yang menjulang tinggi, tepat di depan mataku. Bukan pisau sungguhan, tentu saja. Hanya refleks matahari sore yang menipu, tapi jantungku tetap berdebar kencang. Aku, Hinata Tachibana, telah menyusup ke Universitas Surya Kencana. Bukan sebagai mahasiswa biasa, melainkan sebagai mata-mata.

Universitas Surya Kencana. Simbol kekayaan, kekuasaan, dan ambisi yang tak terbatas. Tempat para pewaris kerajaan bisnis dan politik Indonesia menempa diri. Tempat di mana rahasia-rahasia gelap disembunyikan di balik senyum palsu dan jabat tangan yang erat. Tempat di mana, menurut informasi yang ku dapat, 100 triliun rupiah lenyap tanpa jejak.

Kontrak ini sederhana: menyamar sebagai mahasiswi, mencari tahu ke mana uang itu pergi, dan keluar hidup-hidup. Kedengarannya mudah, bukan? Tapi aroma pengkhianatan dan bahaya sudah terasa sejak langkah pertama yang ku ambil di kampus ini. Setiap tatapan, setiap senyum, setiap sapaan terasa seperti jebakan yang siap menutup.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Seragam mahasiswi yang ku kenakan terasa asing, seperti topeng yang salah ukuran. Rambutku yang biasanya kuikat tinggi kuurai, menutupi sebagian wajahku. Hinata Tachibana, agen rahasia, lenyap. Yang ada hanyalah Kirana Adiwijaya, mahasiswi baru yang polos dan lugu.

Gerbang kampus menjulang di atasku. Ukiran rumit dengan lambang universitas – seekor garuda memegang obor – tampak mengawasi setiap orang yang masuk. Security check berlangsung ketat. Identitasku sebagai Kirana Adiwijaya diperiksa dengan seksama. Sidik jariku dipindai. Tatapan mata petugas keamanan itu terasa dingin dan menusuk.

Setelah lolos dari pemeriksaan, aku melangkah masuk. Dunia baru terbuka di hadapanku. Gedung-gedung megah bergaya Eropa klasik berjajar rapi. Taman-taman hijau terawat dengan air mancur yang menari-nari. Mahasiswa-mahasiswi berpakaian modis berjalan berkelompok, tertawa dan bercanda. Aura kemewahan terpancar dari setiap sudut kampus.

Aku mengikuti peta digital di ponselku, mencari gedung administrasi. Kampus ini terlalu luas dan membingungkan. Aku merasa seperti Alice di negeri ajaib, tapi negeri ajaib ini lebih berbahaya daripada yang ku bayangkan.

Tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna hitam melaju kencang di dekatku. Mobil itu berhenti mendadak, hampir menabrakku. Seorang pria keluar dari mobil. Wajahnya tampan, tapi matanya dingin dan tajam. Dia mengenakan jaket kulit mahal dan jam tangan mewah.

"Kau siapa?" tanyanya dengan suara datar. "Baru lihat di sini."

Aku berusaha menyembunyikan rasa gugupku. "Saya… saya Kirana Adiwijaya. Mahasiswi baru," jawabku.

Pria itu menatapku dari atas ke bawah, seolah menilaiku. "Kirana Adiwijaya… nama yang menarik. Kau punya koneksi? Keluarga berpengaruh?"

Aku menggeleng. "Tidak. Saya mendapat beasiswa."

Pria itu tersenyum sinis. "Beasiswa? Di Universitas Surya Kencana? Jarang sekali. Kau pasti sangat istimewa." Dia mendekatiku, membuatku mundur selangkah.

"Ingat satu hal, Kirana Adiwijaya," bisiknya. "Di tempat ini, tidak ada yang gratis. Semua ada harganya."

Dia berbalik dan masuk kembali ke mobilnya. Mobil itu melaju pergi, meninggalkan aku yang terpaku di tempat. Kata-katanya terngiang di telingaku. Siapa dia? Dan mengapa dia begitu mencurigaiku?

Aku melanjutkan perjalanan ke gedung administrasi. Rasa takut dan waspada semakin meningkat. Aku tahu, misiku ini tidak akan mudah.

Di gedung administrasi, aku mengurus semua formalitas pendaftaran. Aku mendapatkan kartu mahasiswa, jadwal kuliah, dan peta kampus yang lebih detail. Seorang petugas administrasi yang ramah memberiku informasi tentang orientasi mahasiswa baru yang akan diadakan besok.

"Selamat datang di Universitas Surya Kencana, Kirana," kata petugas itu sambil tersenyum. "Semoga kau betah di sini."

Aku membalas senyumnya, tapi hatiku tidak merasa tenang. Aku tahu, di balik senyum ramah itu, mungkin tersembunyi rahasia yang mematikan.

Setelah selesai mengurus administrasi, aku mencari asrama. Asrama mahasiswa baru terletak di bagian paling belakang kampus. Bangunannya tampak tua dan suram, kontras dengan kemewahan gedung-gedung lainnya.

Kamar asramaku kecil dan sederhana. Hanya ada tempat tidur, meja belajar, dan lemari pakaian. Jendelanya menghadap ke taman belakang yang gelap dan sepi. Aku merasa seperti terisolasi dari dunia luar.

Aku mengeluarkan laptop dan ponselku dari tas. Aku harus menghubungi atasanku dan melaporkan situasi terbaru. Tapi, sebelum aku sempat menyalakan laptop, pintu kamarku tiba-tiba terbuka.

Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat dan matanya ketakutan. Dia memegang selembar kertas di tangannya.

"Kau… kau Kirana Adiwijaya?" tanyanya dengan suara bergetar.

Aku mengangguk. "Ya. Ada apa?"

Wanita itu mendekatiku, lalu menyodorkan kertas itu padaku. "Kau harus melihat ini. Ini… ini tentangmu."

Aku mengambil kertas itu dan membacanya. Mataku membelalak kaget. Jantungku berdebar kencang.

Di kertas itu, tertulis sebuah pesan singkat:

*Hinata Tachibana. Kami tahu siapa kau sebenarnya.*