Pertemuan Penuh Duri

Chapter 1 — Pertemuan Penuh Duri

Aroma kopi pahit dan pengkhianatan menusuk hidung Kalina begitu ia memasuki 'Senja', kafe yang seharusnya menjadi tempat perlindungan. Bukan arena pertempuran.

Ia mendapati sosok itu duduk di pojok favoritnya, di bawah lukisan senja yang selalu membuatnya tenang. Laki-laki itu. Arsenio Adhitama. Musuh bebuyutannya, pewaris tunggal 'Kencana Group', perusahaan yang selama ini berusaha menyingkirkan kafe kecilnya dari pusat kota Jakarta.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kalina bertanya, suaranya setajam pecahan kaca. Ia berusaha mengendalikan diri, tidak ingin memberi Arsenio kepuasan melihatnya marah. Aroma lavender dari parfumnya, yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan.

Wajah Arsenio, yang biasanya menampilkan senyum sinis itu, tampak datar. “Aku hanya ingin menikmati kopi terbaik di Jakarta,” jawabnya, tanpa menatap Kalina. Ia menyesap kopinya perlahan, seolah mengejek ketegangan yang memenuhi ruangan.

Kalina mencibir. “Kopi terbaik? Atau tanah terbaik?” Ia tahu betul tujuan Arsenio. Kencana Group ingin membangun hotel mewah di atas lahan tempat 'Senja' berdiri. Ia sudah menolak semua tawaran mereka, bahkan ancaman sekalipun.

Arsenio akhirnya menatapnya. Mata kelabunya menyorotkan sesuatu yang sulit diartikan. Bukan hanya permusuhan, tapi juga… ketertarikan? “Kau keras kepala, Kalina. Aku suka itu.”

“Simpan pujianmu. Aku tidak akan pernah menjual 'Senja',” balas Kalina, dadanya bergemuruh. Ia membenci Arsenio, membenci perusahaannya, membenci semua yang diwakilinya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tidak bisa memungkiri bahwa laki-laki itu memiliki daya tarik yang berbahaya.

Arsenio berdiri, mendekat ke arah Kalina. Jantung Kalina berdegup kencang. Ia tidak bisa bergerak, terpaku di tempatnya. Arsenio berhenti tepat di depannya, membisikkan sesuatu yang membuat darahnya membeku.

“Kau yakin? Karena aku punya informasi yang mungkin akan mengubah pikiranmu tentang 'Senja', Kalina. Informasi tentang keluargamu.”