Cincin Berlian di Atas Naskah Perceraian
Chapter 1 — Cincin Berlian di Atas Naskah Perceraian
Kilau berlian itu menari-nari di atas kertas putih, mengejek air mata yang menggenang di pelupuk mata Indah. Sebuah cincin pertunangan, lambang cinta abadi, kini terasa seperti beban yang menyesakkan dada, hadiah dari pernikahan yang bahkan belum genap setahun.
“Indah, pikirkanlah baik-baik,” suara berat Ayah memecah kesunyian ruang kerja. Tatapannya tegas, tanpa sedikit pun kelembutan yang biasa Indah lihat. “Ini demi kebaikan keluarga.”
Demi kebaikan keluarga? Kalimat itu bergaung di benaknya, menyakitkan dan ironis. Pernikahan ini sendiri adalah demi kebaikan keluarga, hasil perjodohan antara dirinya dengan Hendra, pewaris tunggal Keluarga Hadiningrat, salah satu keluarga terkaya di Jakarta. Indah, dengan berat hati, menerima perjodohan ini demi menyelamatkan bisnis keluarga Salim yang terancam bangkrut.
Hendra. Pria itu tampan, kaya, dan... dingin. Sejak malam pernikahan, ia memperlakukan Indah dengan sopan namun tanpa kehangatan. Mereka berbagi ranjang, namun tidak hati. Hendra selalu sibuk dengan bisnisnya, pulang larut malam, dan pergi sebelum Indah terbangun. Komunikasi mereka terbatas pada hal-hal formal dan kebutuhan praktis.
“Aku tidak mengerti, Ayah. Apa yang salah? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik,” Indah akhirnya bersuara, suaranya bergetar menahan tangis.
Ayahnya menghela napas panjang. “Masalahnya bukan padamu, Indah. Masalahnya ada pada Hendra. Keluarga Hadiningrat membutuhkan pewaris. Dan… kau tahu sendiri.”
Indah terdiam. Ia tahu betul. Ia tidak bisa memberikan Hendra seorang anak. Dokter telah mengatakan bahwa ia memiliki masalah dengan kesuburannya. Ia selalu merasa bersalah dan tidak berguna.
“Jadi, Keluarga Hadiningrat menginginkan Hendra menikah lagi?” tanya Indah, suaranya nyaris tidak terdengar.
Ayahnya mengangguk lemah. “Mereka menawarkan solusi. Perceraian yang damai. Hendra akan menikahi wanita lain yang bisa memberinya keturunan. Dan Keluarga Hadiningrat akan membantu Keluarga Salim.”
Indah menatap cincin berlian di jarinya. Lambang cinta yang kini menjadi lambang pengkhianatan. Ia menelan ludah, mencoba menahan air matanya.
“Apa yang akan terjadi jika aku menolak?” tanyanya lirih.
Wajah ayahnya mengeras. “Jangan membuat Ayah semakin sulit, Indah. Jika kau menolak, Keluarga Salim akan hancur. Semuanya akan hilang.”
Indah menutup matanya. Pilihan yang sulit. Kehilangan cinta atau kehilangan segalanya. Tiba-tiba, telepon di meja berdering. Ayahnya mengangkatnya, lalu memberikan isyarat agar Indah mendengarkan.
“Ya, Hendra?” kata Ayahnya. “Baik, dia ada di sini… Apa?… Ya Tuhan!” Wajah Ayahnya pucat pasi. “Baik, kami akan segera ke sana.” Ayahnya menutup telepon dan menatap Indah dengan tatapan ngeri. “Indah… Hendra… dia kecelakaan… dan keadaannya… kritis.”