Takdir Terukir di Lembah Kabut Abadi

Chapter 1 — Bab 1: Takdir Terukir di Lembah Kabut Abadi

Darah membasahi jubah putihnya, napasnya tersengal-sengal, dan di hadapannya, raksasa berkulit batu itu meraung, siap menerkam. Jian Yun, di usia enam belas tahun, tahu betul ini adalah akhir dari perjalanannya.

Lembah Kabut Abadi, tempat di mana kabut mistis berputar tanpa henti, adalah neraka bagi para pembudidaya muda. Konon, kabut itu sendiri memiliki kesadaran, menguji dan memangsa mereka yang lemah. Bagi Jian Yun, lembah ini seharusnya menjadi langkah awal menuju kehebatan, ujian untuk membuktikan kelayakannya bergabung dengan Sekte Azure Cloud yang bergengsi.

Namun, takdir punya rencana lain. Ia terpisah dari kelompoknya saat badai kabut aneh melanda. Sekarang, ia menghadapi Golem Bumi, makhluk penjaga lembah yang terkenal kejam. Kekuatan spiritualnya yang baru terbangun bergejolak tak terkendali, tubuhnya terasa seperti akan hancur berkeping-keping.

"Ini... belum berakhir," bisiknya, suaranya bergetar. Ia menggenggam erat jimat giok di lehernya, satu-satunya peninggalan dari ibunya yang telah lama meninggal. Jimat itu berdenyut hangat, memancarkan cahaya redup yang seolah melindunginya dari aura menindas Golem.

Golem itu menggeram, suaranya mengguncang tanah. Ia mengangkat kakinya yang besar, siap menginjak Jian Yun menjadi debu. Jian Yun menutup matanya, pasrah pada takdir. Namun, saat kaki raksasa itu hendak mengenainya, sebuah kekuatan aneh melonjak dari dalam dirinya.

Sebuah pusaran energi muncul di sekeliling Jian Yun, mengangkatnya dari tanah. Pusaran itu semakin kuat, menarik kabut di sekitarnya, mengubahnya menjadi energi yang berputar-putar. Golem itu terhuyung mundur, kebingungan tercetak di wajah batunya.

Jian Yun membuka matanya. Matanya bersinar dengan cahaya biru yang intens. Ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mengalir melalui nadinya. Jimat giok di lehernya hancur menjadi debu, energinya menyatu dengan dirinya.

"Apa... apa yang terjadi padaku?" pikirnya, terkejut dengan perubahan mendadak ini. Sebelum ia sempat memahami situasinya, pusaran energi itu meledak, mengirimkannya terbang menembus kabut. Ia kehilangan kesadaran, terlempar ke dalam kegelapan.

Ketika ia membuka matanya lagi, ia mendapati dirinya berada di tempat yang sangat berbeda. Bukan lagi Lembah Kabut Abadi yang suram, melainkan sebuah gua kristal yang berkilauan dengan cahaya warna-warni. Di tengah gua, tergantung di udara, terdapat sebuah telur raksasa yang bersinar dengan energi spiritual yang luar biasa.

Telur itu berdenyut, seolah bernapas. Jian Yun merasakan daya tarik yang kuat terhadapnya, sebuah koneksi yang tak bisa dijelaskan. Saat ia mendekat, retakan muncul di permukaan telur. Cahaya semakin terang, memenuhi seluruh gua. Lalu, telur itu pecah, dan sesuatu keluar dari dalamnya.

Bukan naga, bukan burung phoenix, melainkan seorang bayi perempuan. Kulitnya seputih salju, rambutnya sehitam malam, dan matanya memancarkan kebijaksanaan kuno. Bayi itu menatap Jian Yun, lalu tersenyum. "Ayah..." ucapnya, dengan suara yang jernih seperti lonceng. Jian Yun tertegun. Bagaimana mungkin seorang bayi memanggilnya ayah? Dan apa sebenarnya makhluk yang baru saja menetas ini?