Ciuman Terlarang di Bawah Hujan Sakura

Chapter 1 — Ciuman Terlarang di Bawah Hujan Sakura

Hujan sakura berjatuhan seperti air mata dari langit, membasahi rambutku dan gaun sutraku yang berwarna krem. Aku seharusnya bahagia. Hari ini adalah hari pernikahanku. Tapi yang kurasakan hanyalah kehampaan yang menggigit tulang.

Namaku Aisyah Maya, dan aku akan menikahi Raden Nanda, pewaris tunggal keluarga Atmajaya, salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di Jakarta. Pernikahan ini adalah impian setiap gadis di kota ini, sebuah tiket menuju kehidupan mewah dan terjamin. Tapi bagiku, ini adalah penjara emas.

Aku memandang wajah Nanda di altar. Tampan, berwibawa, dan penuh perhitungan. Dia tidak mencintaiku, dan aku tidak mencintainya. Pernikahan ini adalah kesepakatan bisnis, penyatuan dua dinasti. Ayahku, yang terlilit hutang, menjanjikanku padanya sebagai jaminan.

Dulu, ada orang lain. Seseorang yang kucintai dengan segenap hatiku. Bayangannya masih menghantuiku, hadir dalam setiap mimpi, setiap desah napas. Dia adalah alasan mengapa senyumku terasa palsu, mengapa air mataku terasa asin.

Aku ingat pertama kali aku bertemu dengannya. Di sebuah kafe kecil di pinggir kota, saat aku sedang melukis sketsa. Dia datang menghampiriku, tersenyum, dan bertanya tentang lukisanku. Matanya, sebiru laut, menatapku dengan penuh minat.

Namanya adalah Bara. Bara Chandrawinata. Dia adalah seorang seniman jalanan, hidup dari lukisan yang dia jual di trotoar. Kami berasal dari dua dunia yang berbeda, tapi kami terhubung dalam seni, dalam mimpi, dalam cinta yang membara.

Kami menghabiskan berjam-jam bersama, berbicara tentang segala hal di dunia ini. Tentang mimpi-mimpi kami, tentang ketakutan kami, tentang cinta kami. Aku jatuh cinta padanya, dalam diam, dalam rahasia. Aku tahu, hubungan kami terlarang. Dia bukan siapa-siapa, aku adalah putri orang kaya. Keluarga kami tidak akan pernah menyetujuinya.

Namun, cinta tidak mengenal batasan. Kami bertemu secara diam-diam, mencuri ciuman di bawah bintang-bintang, berjanji untuk selalu bersama. Kami bermimpi tentang masa depan, tentang kehidupan sederhana di sebuah desa kecil, di mana kami bisa melukis dan mencintai tanpa rasa takut.

Mimpi itu hancur ketika ayahku mengetahui hubungan kami. Dia marah besar, mengancam akan memenjarakan Bara jika aku tidak mengakhiri hubungan kami. Aku terpaksa memilih. Antara cintaku pada Bara, dan kebebasan Bara.

Aku memilih Bara. Aku meninggalkannya, dengan berat hati, dengan air mata yang tak terkendali. Aku tahu, ini adalah satu-satunya cara untuk melindunginya. Aku merelakan kebahagiaanku, demi keselamatannya.

Sekarang, aku berdiri di altar ini, siap mengucapkan janji suci pada seorang pria yang tidak kucintai. Aku merasa seperti boneka, digerakkan oleh benang takdir. Aku ingin berteriak, ingin lari, ingin menghilang.

Tiba-tiba, keributan pecah di belakangku. Orang-orang berbisik-bisik, menunjuk ke arah pintu masuk. Aku menoleh, dan jantungku berhenti berdetak. Di sana, berdiri Bara. Matanya menyala dengan amarah dan harapan. Dia menerobos kerumunan, berjalan ke arahku, tanpa ragu.

"Aisyah!" teriaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Jangan lakukan ini! Aku tahu kau tidak mencintainya! Aku tahu kau mencintaiku!"

Nanda mengepalkan tinjunya, wajahnya merah padam. Ayahku tampak pucat pasi, hampir pingsan. Semua mata tertuju padaku. Aku merasa seperti berada di persimpangan jalan, di ambang kehancuran.

"Bara, pergilah!" bisikku, air mata mulai mengalir di pipiku. "Ini tidak mungkin. Kita tidak bisa bersama."

Dia menggelengkan kepalanya, matanya penuh dengan kesedihan. "Aku tidak peduli! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Aku akan memperjuangkanmu, Aisyah. Sampai akhir."

Dia meraih tanganku, menarikku keluar dari altar. Aku terhuyung, bingung, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Di saat yang sama, Nanda menerjang ke arah kami, dengan amarah yang membara di matanya. Dia menarik Bara, dan pukulan keras mendarat di wajahnya.

Bara jatuh tersungkur ke lantai. Darah mengalir dari hidungnya. Aku berteriak histeris, mencoba menghentikan Nanda. Tapi dia tidak mendengarkanku. Dia terus memukuli Bara, tanpa ampun.

"Berhenti!" teriakku, sambil mencoba menarik Nanda dari Bara. "Kumohon, berhenti!"

Tiba-tiba, seorang pria berseragam polisi datang menghampiri. Dia menarik Nanda dari Bara. Nanda memberontak dengan kasar, "Dia telah mengganggu upacara pernikahanku! Tangkap dia!".

Pria berseragam polisi tersebut menangkap Bara. Bara menoleh ke arahku dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan. Dia berteriak, "Aisyah, tunggu aku!". Pria berseragam polisi tersebut memborgol Bara dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.

Aku hanya bisa terdiam mematung, air mata terus mengalir deras membasahi pipiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi.