Aroma Kopi Pahit di Pagi yang Salah
Chapter 1 — Aroma Kopi Pahit di Pagi yang Salah
Cangkir porselen putih itu bergetar hebat di tanganku, nyaris menumpahkan cairan hitam pekat yang baru saja kusesap. Bukan karena gempa bumi, meskipun Jakarta kadang terasa seperti itu, melainkan karena sosok yang berdiri angkuh di ambang pintu "Kopi Keisha", kafe kecil yang dengan susah payah kubangun.
"Selamat pagi, Tania," suara bariton itu mengiris udara seperti pisau. "Kudengar kau membuat kopi yang lumayan di tempat kumuh ini."
Tania, itu aku. Kumuh? Kafe ini? Rasa amarah mendidih di dadaku, mengalahkan aroma kopi robusta yang sedianya menenangkan. Dia. Arion. Arion Purnama, pewaris tunggal kerajaan kopi "Purnama Agung", perusahaan kopi terbesar di Indonesia, dan musuh bebuyutanku sejak hari pertama kami bertemu di bangku kuliah.
"Arion," desisku, berusaha menahan diri. "Apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan tempatmu."
Wajah tampannya, yang selalu membuat para wanita di kampus histeris, kini menampilkan seringai mengejek. "Oh, tapi aku dengar kau kekurangan pelanggan. Aku hanya ingin menawarkan bantuan. Mungkin aku bisa memberikan beberapa tips tentang cara membuat kopi yang benar."
Tips? Dari Arion Purnama? Pria yang tumbuh besar dengan budak korporat yang siap menuruti setiap keinginannya? Aku mendengus. "Aku tidak butuh bantuanmu, Arion. Kopi Keisha baik-baik saja."
"Benarkah?" Arion melangkah masuk, matanya mengamati sekeliling kafe dengan tatapan merendahkan. Setiap sudut, setiap detail, terasa dihakimi oleh tatapannya. Aku merasa seperti telanjang di depan seorang juri yang tidak pernah berniat memberiku nilai bagus. Kafe kecilku, yang kuisi dengan perabotan vintage yang kutemukan di pasar loak, foto-foto hitam putih Jakarta tempo dulu, dan tanaman hias yang kurawat dengan sepenuh hati, tiba-tiba terasa... kurang.
"Dekorasinya lumayan," komentarnya akhirnya, dengan nada yang terdengar seperti sedang memberi makan anjing liar. "Tapi kopinya..." Dia mengambil cangkir dari mejaku, menyesapnya perlahan, lalu meringis. "Terlalu pahit. Tidak ada keseimbangan. Seperti hidupmu, Tania."
Kesabaranku habis. Aku membanting lap yang sedang kupegang ke atas meja. "Keluar dari kafeku, Arion. Sekarang."
Arion tertawa, tawa yang membuat darahku mendidih. "Santai saja, Tania. Aku hanya bercanda. Atau... apakah kau takut aku akan mengungkap rahasiamu?"
Rahasiaku? Aku tertegun. Rahasia apa yang dia maksud? Aku tidak punya rahasia. Atau... benarkah?
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ujarku, berusaha terdengar tenang.
"Oh, benarkah?" Arion mendekat, menyudutkanku di antara meja kasir dan mesin kopi. Aroma parfum mahalnya menyesakkan. Matanya menatapku intens, seolah bisa menembus jiwaku. "Bagaimana kalau aku mengingatkanmu tentang malam itu? Malam di pesta ulang tahunku, saat kau..."
Ucapan Arion terhenti oleh dering lonceng pintu. Seorang pelanggan masuk, menyelamatkanku dari situasi yang semakin tidak terkendali ini. Aku mendorong Arion menjauh, berusaha menenangkan diri.
"Kau belum selesai denganku, Tania," bisiknya, sebelum berbalik dan berjalan keluar dari kafe. "Kita akan bertemu lagi."
Setelah Arion pergi, aku merasakan seluruh tubuhku gemetar. Apa yang akan dilakukannya? Rahasia apa yang dia tahu? Dan yang paling penting, mengapa jantungku berdebar kencang setiap kali dia berada di dekatku, meskipun aku sangat membencinya?
Aku menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan kembali kendali diriku. Aku harus fokus. Aku harus melindungi Kopi Keisha dari ancaman Arion Purnama. Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan apa yang telah kubangun dengan susah payah.
***
Malam itu, setelah menutup kafe, aku duduk termenung di depan laptopku, mencoba mencari cara untuk melawan Arion Purnama. Aku tahu bahwa dia memiliki sumber daya yang tak terbatas, koneksi yang luas, dan kekuasaan yang besar. Melawannya sama saja dengan menantang badai.
Namun, aku tidak punya pilihan. Aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan Kopi Keisha.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar laptopku. Sebuah email dari alamat yang tidak kukenal. Dengan ragu, kubuka email tersebut.
Isi email itu hanya satu kalimat:
*Kami tahu tentang 'Proyek Mega', Tania. Kami bisa membantumu.*