Amplop Rahasia dari Marco
Chapter 1 — Cincin di Jari Manisnya
Sentuhan dingin laras pistol di pelipisku seharusnya membuatku takut. Seharusnya. Tapi yang kurasakan hanya kebas, seperti mati rasa setelah terlalu lama kedinginan. Mata kelabu pria di depanku menatapku dengan intensitas yang membakar, kontras dengan nada datar suaranya saat dia berkata, "Di mana dia?"
Namaku Aulia Wahyudi, dan sampai semalam, hidupku hanyalah tentang buku, kopi hangat, dan mimpi tentang Roma. Sekarang, aku berdiri di gudang tua yang berbau karat dan pengkhianatan, seorang pria bernama Marco Demarco, bos mafia paling ditakuti di kota ini, menodongkan pistol ke kepalaku.
Semuanya berawal dari cincin. Cincin bertahtakan berlian hitam yang kulihat di jari manis seorang wanita yang duduk sendirian di kafe favoritku, 'Il Sogno'. Dia tampak kesepian, dikelilingi oleh aura kesedihan yang begitu pekat hingga terasa nyata. Instingku sebagai seorang penulis, seorang pengamat kehidupan, mendorongku untuk mendekat.
"Permisi," sapaku ragu-ragu, "maaf mengganggu. Cincin Anda sangat indah."
Wanita itu mendongak, matanya sembab. Dia tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Terima kasih. Ini... kenangan."
Kami berbicara selama berjam-jam. Dia bercerita tentang cintanya yang hilang, tentang pria yang memberinya cincin itu, dan tentang dunia berbahaya yang mereka tinggali. Dia menyebut namanya – Alessandro Hadinata – dan mengatakan bahwa dia dalam bahaya. Dia memohon padaku, seorang asing, untuk menyimpan sesuatu yang penting untuknya, sesuatu yang akan melindungi Alessandro.
Dia memberiku sebuah amplop cokelat tebal, memintaku untuk menyimpannya sampai dia menghubungiku lagi. Dia bersumpah akan menjelaskannya nanti. Aku menerima amplop itu, diliputi rasa iba dan keingintahuan yang tak tertahankan.
Keesokan harinya, dia menghilang. Dan Marco Demarco datang mencariku.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," jawabku, berusaha menenangkan diri. Suaraku bergetar sedikit.
Marco tertawa sinis. "Jangan bodoh, Aulia. Kami tahu dia memberimu sesuatu. Di mana itu?"
Aku menggelengkan kepala. "Aku bersumpah, aku tidak tahu! Aku bertemu dengannya sekali saja!"
"Kebohongan," desisnya. Dia mendekatkan pistol itu, larasnya menekan kulit kepalaku. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungku.
"Waktu terus berjalan, Aulia. Katakan yang sebenarnya, atau..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi ancamannya sudah cukup jelas.
Dalam kepanikan, aku teringat amplop cokelat yang tersembunyi di bawah tumpukan buku di kamarku. Amplop yang aku yakini berisi rahasia yang bisa membunuhku. Atau menyelamatkan Alessandro Hadinata.
"Baiklah," kataku akhirnya, menyerah. "Aku akan memberitahumu. Tapi berjanjilah kau tidak akan menyakitiku."
Marco tersenyum, senyum yang lebih menakutkan daripada tatapan marahnya. "Janji? Sayang, di dunia ini, tidak ada yang namanya janji. Tapi aku akan mempertimbangkan permintaanmu... tergantung apa yang ada di dalam amplop itu."
Aku menarik napas dalam-dalam. "Amplop itu... ada di apartemenku."
Marco mengangguk. "Bawa kami ke sana."
Saat kami berjalan keluar dari gudang yang gelap itu, menuju mobil hitam yang menunggu di luar, aku tidak bisa menghilangkan perasaan buruk yang menghantuiku. Sesuatu terasa sangat salah. Aku tahu, jauh di lubuk hatiku, bahwa ini hanyalah awal dari masalah yang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan. Dan saat aku menoleh ke belakang, aku melihat bayangan lain di jendela gudang – bayangan yang tidak seharusnya ada di sana.