Vera di Balik Jendela Kafe Usang
Chapter 1 — Vera di Balik Jendela Kafe Usang
Aroma kopi pahit dan kenangan masa lalu berpadu menjadi satu, menyesakkan dada Kinanti. Tepat lima tahun sejak malam itu, malam di mana semua mimpi dan harapan hancur berkeping-keping di bawah tatapan dingin Arjuna. Sekarang, dia berdiri di seberang jalan, siluetnya yang familiar menusuk jantungnya dengan rasa sakit yang sudah lama coba dia kubur.
Kinanti, dengan rambut cokelat panjang yang kini dipangkas pendek sebahu, menghela napas panjang. Kafe "Kenangan Vera", tempat dia bekerja paruh waktu, adalah tempat perlindungan sementara dari hiruk pikuk Jakarta. Tempat ini adalah saksi bisu bisikan cintanya dan Arjuna dulu. Ironis, bukan?
Lonceng pintu kafe berdering, membuyarkan lamunannya. Seorang pria paruh baya dengan wajah ramah memesan kopi hitam tanpa gula. Kinanti tersenyum profesional, menyembunyikan gejolak emosi yang bergolak di dalam dirinya. "Seperti biasa, Pak Budi?"
"Ya, Kinanti. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan," jawab Pak Budi sambil mengedipkan mata. "Sudah lama tidak melihatmu melamun. Ada apa?"
Kinanti tertawa kecil, berusaha menutupi kegelisahannya. "Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya sedikit lelah."
Namun, tatapan Pak Budi yang penuh perhatian membuatnya tidak bisa berbohong. Pak Budi sudah seperti ayah baginya sejak dia memutuskan untuk memulai hidup baru di Jakarta. Dia tahu terlalu banyak tentang masa lalunya dengan Arjuna.
"Arjuna?" tanya Pak Budi pelan, seolah membaca pikirannya.
Kinanti terdiam. Dia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Pak Budi. "Aku melihatnya di seberang jalan," bisiknya.
Wajah Pak Budi berubah serius. "Kinanti, kamu sudah berjanji untuk melupakan masa lalu. Jangan biarkan dia menghancurkanmu lagi."
"Aku tahu, Pak. Aku hanya...terkejut," jawab Kinanti, suaranya bergetar. "Aku pikir aku sudah melupakannya. Tapi melihatnya lagi...semua kenangan itu kembali."
Pak Budi menghela napas. "Aku mengerti. Tapi kamu adalah Kinanti yang berbeda sekarang. Kamu lebih kuat, lebih mandiri. Jangan biarkan dia melihatmu lemah."
Kinanti mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Dia bukan lagi Kinanti yang dulu, gadis naif yang dibutakan oleh cinta. Dia adalah Kinanti yang telah belajar dari kesalahan, yang telah bangkit dari keterpurukan.
Dia mengantar kopi Pak Budi ke mejanya, lalu kembali ke balik meja kasir. Matanya secara tidak sengaja kembali melirik ke seberang jalan. Arjuna masih di sana, berdiri di depan sebuah galeri seni. Dia tampak lebih dewasa, lebih berkarisma, tetapi matanya...mata itu masih sama, mata yang pernah membuatnya tergila-gila.
Lima tahun lalu, Arjuna adalah tunangannya, pria yang dia cintai lebih dari apa pun. Mereka berencana untuk menikah, membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, semua itu hancur dalam satu malam. Arjuna membatalkan pernikahan mereka, meninggalkannya tanpa penjelasan yang jelas. Hanya sepucuk surat yang berisi kata-kata maaf dan alasan yang tidak masuk akal.
Kinanti menghabiskan berbulan-bulan dalam kesedihan dan kebingungan. Dia tidak mengerti mengapa Arjuna meninggalkannya. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah dia tidak cukup baik untuknya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya sampai dia memutuskan untuk pergi dari Bandung dan memulai hidup baru di Jakarta.
Di Jakarta, dia bekerja keras untuk membangun kembali kehidupannya. Dia bekerja sebagai pelayan di kafe, mengambil kursus desain grafis di malam hari, dan berusaha melupakan Arjuna. Perlahan tapi pasti, dia mulai sembuh. Dia menemukan teman-teman baru, hobi baru, dan harapan baru.
Namun, melihat Arjuna kembali membangkitkan luka lama. Dia tidak tahu apa yang diinginkan Arjuna. Apakah dia ingin meminta maaf? Apakah dia ingin kembali padanya? Dia tidak yakin apakah dia siap untuk menghadapi Arjuna lagi.
Tiba-tiba, Arjuna berjalan menyeberang jalan. Jantung Kinanti berdebar kencang. Dia berusaha untuk tetap tenang, mengatur napasnya, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pria yang pernah menghancurkan hatinya.
Arjuna memasuki kafe dengan senyum tipis di bibirnya. Matanya langsung tertuju pada Kinanti. "Hai, Kinanti," sapanya dengan suara yang masih sama, suara yang dulu membuatnya merasa aman dan nyaman.
Kinanti membalas tatapannya dengan dingin. "Arjuna," jawabnya singkat.
"Lama tidak bertemu," kata Arjuna, mendekat ke meja kasir.
"Ya, lama sekali," balas Kinanti, berusaha untuk tidak terpancing emosi.
"Boleh aku bicara denganmu?" tanya Arjuna, tatapannya memohon.
Kinanti terdiam sejenak. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sebagian dirinya ingin menolak, ingin mengusir Arjuna dari hidupnya. Namun, sebagian lainnya masih penasaran, ingin tahu alasan mengapa Arjuna meninggalkannya lima tahun lalu.
"Baiklah," jawab Kinanti akhirnya. "Tapi tidak di sini. Aku sedang bekerja."
"Bagaimana kalau setelah kamu selesai?" tanya Arjuna.
Kinanti mengangguk. "Baiklah. Tunggu aku di taman kota dekat sini."
Arjuna tersenyum. "Aku akan menunggumu."
Arjuna kemudian memesan kopi dan duduk di salah satu meja di dekat jendela. Kinanti memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi nanti. Apakah dia akan mendapatkan jawaban yang selama ini dia cari? Apakah dia akan bisa memaafkan Arjuna? Atau apakah dia akan kembali terluka?
Setelah beberapa jam yang terasa seperti berabad-abad, akhirnya jam kerja Kinanti selesai. Dia mengganti pakaiannya dan keluar dari kafe. Dia melihat Arjuna sudah menunggunya di seberang jalan. Pria itu tersenyum padanya, senyum yang dulu membuatnya meleleh.
Kinanti menarik napas dalam-dalam dan berjalan menghampiri Arjuna. Mereka berjalan berdampingan menuju taman kota, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suasana canggung menyelimuti mereka.
Sesampainya di taman, mereka duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang. Kinanti menunggu Arjuna untuk berbicara, tetapi pria itu hanya diam, menatap lurus ke depan.
"Jadi?" tanya Kinanti akhirnya, memecah kesunyian. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Arjuna menghela napas panjang. "Kinanti, aku tahu aku telah menyakitimu. Aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar. Aku ingin meminta maaf."
"Maaf?" Kinanti tertawa sinis. "Maafmu tidak akan mengembalikan lima tahun hidupku yang hilang. Maafmu tidak akan menghapus luka yang telah kau torehkan di hatiku."
"Aku tahu," jawab Arjuna, suaranya lirih. "Aku tidak mengharapkanmu untuk langsung memaafkanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal."
"Menyesal?" tanya Kinanti, matanya berkaca-kaca. "Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu meninggalkanku tanpa alasan yang jelas?"
Arjuna terdiam sejenak, lalu menatap Kinanti dengan tatapan yang penuh kesedihan. "Aku tidak bisa memberitahumu sekarang," jawabnya.
"Kenapa tidak?" tanya Kinanti, suaranya meninggi.
"Karena...ini terlalu rumit," jawab Arjuna.
"Rumit?" Kinanti tertawa lagi, kali ini dengan nada yang lebih getir. "Apakah meninggalkanku di altar itu tidak rumit? Apakah menghancurkan semua mimpiku itu tidak rumit?"
"Aku tahu aku telah menyakitimu," kata Arjuna, meraih tangan Kinanti. "Tapi percayalah, aku tidak punya pilihan lain."
Kinanti menarik tangannya. "Tidak punya pilihan lain? Itu alasan yang sangat lemah, Arjuna. Aku tidak percaya padamu."
"Kinanti, tolong dengarkan aku," pinta Arjuna.
"Aku sudah cukup mendengarkanmu," jawab Kinanti, berdiri dari bangku. "Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu."
Kinanti berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Arjuna di taman kota. Dia tidak tahu apakah dia telah membuat keputusan yang tepat. Sebagian dirinya ingin tetap tinggal, ingin mendengar penjelasan Arjuna. Namun, sebagian lainnya takut, takut akan kembali terluka.
Saat dia berjalan menjauh, dia mendengar suara Arjuna memanggilnya.
"Kinanti! Tunggu!" teriak Arjuna.
Kinanti berhenti dan berbalik. Arjuna berlari menghampirinya, dengan wajah yang penuh dengan keputusasaan. Dia meraih tangan Kinanti dan menggenggamnya erat.
"Kinanti, kumohon, dengarkan aku. Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi aku melakukan semua ini untuk melindungimu!"
Kinanti mengerutkan kening. "Melindungiku? Dari apa?"
Arjuna menatapnya dengan tatapan yang serius. "Kinanti...ayahmu berhutang banyak pada orang yang sangat berbahaya. Dan mereka mengancam akan menyakitimu jika aku tidak menjauhimu."
Kinanti terkejut mendengar pengakuan Arjuna. Ayahnya? Terlibat dengan orang berbahaya? Ini tidak mungkin. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang jujur dan bertanggung jawab. Tapi...mungkinkah ada rahasia yang selama ini dia tidak tahu?
Sebelum Kinanti sempat bertanya lebih lanjut, sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka. Dua orang pria berpakaian serba hitam keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka.
"Arjuna," kata salah seorang pria itu dengan nada mengancam. "Kami sudah memperingatkanmu untuk menjauhi wanita ini."
Arjuna menatap Kinanti dengan tatapan yang penuh ketakutan. "Kinanti, larilah!"
Kinanti terdiam membeku, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pria-pria itu semakin mendekat, dan dia merasa nyawanya dalam bahaya. Tiba-tiba, salah seorang pria itu mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke arah Kinanti. Arjuna dengan sigap mendorong Kinanti ke samping dan melindungi tubuhnya dengan tubuhnya sendiri.
Dor!
Sebuah suara tembakan memecah kesunyian malam. Kinanti berteriak histeris saat melihat Arjuna jatuh ke tanah, darah membasahi bajunya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Arjuna...ditembak demi melindunginya?