Tatapan yang Membekukan
Chapter 1 — Bab 1: Tatapan yang Membekukan
Gaun sutra merah menyala yang melekat di tubuhku terasa seperti kulit kedua saat aku melangkah keluar dari limusin. Kilatan blitz kamera menyambutku bagaikan badai, membutakan untuk sesaat. Aku, Anya Kirana, pewaris tunggal Kirana Group, membenci acara-acara seperti ini, namun malam ini berbeda. Malam ini adalah malam pertunanganku dengan Arya Pratama, pewaris tunggal keluarga Pratama, keluarga terkaya nomor satu di Asia Tenggara.
Udara malam Jakarta terasa pengap, bercampur aroma parfum mahal dan keringat orang-orang penting yang berdesakan di ballroom Hotel Grand Indonesia. Lampu-lampu kristal raksasa memancarkan cahaya yang membuat berlian di leherku berkilauan. Aku tersenyum paksa pada setiap wajah yang menyapaku, menanggapi basa-basi dengan anggukan dan senyum yang sudah dilatih di depan cermin selama bertahun-tahun. Aku benci kepura-puraan ini. Aku benci sandiwara ini.
"Anya, sayang! Kamu terlihat sangat cantik!" Mama menghampiriku, senyumnya merekah sempurna. Beliau memelukku erat, lalu membenarkan letak kalung berlianku. "Ingat, Anya, malam ini sangat penting. Jangan sampai mengecewakan keluarga Pratama."
Aku mengangguk. "Aku mengerti, Ma."
"Arya sudah menunggumu di altar. Berikan senyum terbaikmu. Masa depan Kirana Group ada di tanganmu," bisik Mama, lalu mendorongku menuju altar yang sudah didekorasi dengan ribuan bunga anggrek putih. Aroma bunga itu seharusnya menenangkan, namun yang kurasakan hanyalah mual.
Arya berdiri tegap di altar, mengenakan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti biasa, namun matanya dingin. Tidak ada kehangatan, tidak ada cinta. Hanya ada kalkulasi dan kepentingan bisnis. Aku tahu Arya tidak mencintaiku. Aku juga tidak mencintainya. Pertunangan ini hanyalah transaksi bisnis, merger dua perusahaan raksasa untuk menguasai pasar.
Aku berjalan menuju altar, langkahku mantap meski jantungku berdebar kencang. Setiap mata tertuju padaku, menilai, mengamati. Aku merasa seperti binatang langka di kebun binatang. Arya mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Sentuhan tangannya dingin dan hambar.
Upacara pertunangan dimulai. Seorang pendeta membacakan doa-doa dalam bahasa Latin. Aku tidak mendengarkan. Pikiranku melayang. Aku membayangkan diriku berada di tempat lain, di sebuah pantai terpencil, jauh dari hiruk pikuk Jakarta, jauh dari kepalsuan ini. Aku ingin bebas.
"Anya Kirana, bersediakah Anda menerima Arya Pratama sebagai tunangan Anda?" tanya pendeta.
Aku terdiam. Semua mata tertuju padaku. Arya menatapku dengan tatapan tajam, seolah mengancam. Mama memberiku kode dengan matanya, menyuruhku untuk segera menjawab.
Aku membuka mulutku. "Aku…"
Tiba-tiba, suara dentuman keras memecah keheningan. Semua orang terkejut. Lampu-lampu padam. Ballroom menjadi gelap gulita. Teriakan histeris terdengar di mana-mana. Aku merasakan seseorang menarik tanganku, membawaku berlari menembus kegelapan.
"Siapa ini?" bisikku panik.
"Diam! Kita harus pergi dari sini," jawab suara berat yang asing di telingaku.
Orang itu menarikku semakin cepat, menabrak orang-orang yang berdesakan dalam kegelapan. Aku tidak tahu siapa dia, ke mana dia membawaku, atau apa yang sedang terjadi. Yang aku tahu, aku harus mempercayainya. Karena entah kenapa, aku merasa lebih aman bersamanya daripada berada di altar itu, di samping Arya Pratama.