Aroma Kopi yang Mengusik Kenangan

Chapter 1 — Bab 1: Aroma Kopi yang Mengusik Kenangan

Aroma kopi robusta yang baru diseduh menusuk hidung, membangkitkan kenangan yang selama ini mati-matian kubenamkan. Aroma itu, aroma yang sama persis dengan yang selalu tercium di apartemen kita dulu, sebelum semua mimpi indah itu hancur berkeping-keping.

Aku, Renata, pemilik toko bunga kecil "Kenangan Semusim" di sudut kota Bandung yang ramai ini, mencoba mengabaikan bisikan masa lalu. Tanganku gemetar saat merangkai buket mawar merah pesanan pelanggan. Mawar merah, simbol cinta abadi, ironi yang menyakitkan.

Lima tahun. Lima tahun sudah berlalu sejak Ardi memilih wanita lain, menghancurkan pernikahan kami yang baru seumur jagung. Lima tahun aku membangun kembali hidupku, mencoba melupakan senyumnya, sentuhannya, janjinya.

Kota Bandung ini, dengan segala hiruk pikuk dan keindahannya, menjadi saksi bisu patah hatiku. Setiap sudut kota ini menyimpan kenangan tentang kami. Jalan Braga tempat kami pertama kali bertemu, kafe di Dago Pakar tempat dia melamarku, dan apartemen kecil di Ciumbuleuit yang menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kehancuran kami.

Toko bunga ini adalah pelarianku. Bunga-bunga ini, dengan segala keindahan dan kerapuhannya, adalah cerminan diriku. Aku merawat mereka dengan sepenuh hati, memberinya cinta dan perhatian yang tidak bisa kuberikan pada diriku sendiri.

Pintu toko berdering, membuyarkan lamunanku. Seorang pria berdiri di ambang pintu, siluetnya terhalang cahaya matahari. Jantungku berdebar kencang. Bukan karena dia tampan, tapi karena sosok itu terlalu familiar.

Dia melangkah masuk, dan waktu seolah berhenti berputar. Matanya, mata cokelat yang dulu selalu menatapku dengan penuh cinta, kini menatapku dengan ragu dan penyesalan.

"Renata?" Suaranya, serak dan berat, menusuk jantungku.

Ardi. Dia berdiri di hadapanku, setelah lima tahun menghilang tanpa kabar. Rambutnya sedikit memanjang, wajahnya tampak lebih dewasa, tapi matanya… mata itu masih sama.

Aku membeku, tidak bisa berkata apa-apa. Lidahku kelu, kakiku terasa seperti terpaku di lantai. Semua kenangan, semua rasa sakit, semua amarah, dan semua cinta yang kupendam selama ini, meledak dalam diriku.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Akhirnya aku bisa bersuara, meski suaraku bergetar.

Ardi mendekat, langkahnya ragu. "Aku… aku ingin bicara," katanya.

Aku menatapnya, mencoba mencari tahu apa yang ada di balik mata itu. Tapi yang kutemukan hanyalah penyesalan dan kerinduan. Penyesalan yang terlambat, dan kerinduan yang tidak seharusnya ada.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawabku dingin, berusaha menyembunyikan gejolak emosi dalam diriku.

"Ada, Renata. Ada banyak yang perlu dibicarakan. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku menyakitimu. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya," pintanya, suaranya penuh permohonan.

Aku menggelengkan kepala. "Terlambat, Ardi. Semua sudah terlambat."

Dia meraih tanganku, dan sentuhannya membakar kulitku. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia menggenggam tanganku erat.

"Aku tahu aku tidak pantas mendapatkanmu kembali, Renata. Tapi aku mohon, dengarkan aku. Aku… aku mencintaimu," bisiknya, matanya berkaca-kaca.

Kata-kata itu menghantamku seperti palu godam. Aku mencintaimu. Kata-kata yang dulu selalu membuatku bahagia, kini terasa seperti racun yang membakar hatiku.

Aku menatapnya, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Jangan katakan itu," bisikku, suaraku tercekat.

"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengatakannya? Apa kau sudah melupakanku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanya, nada suaranya penuh keputusasaan.

Aku terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku benci dia karena telah menyakitiku, tapi aku juga merindukannya. Aku ingin melupakannya, tapi hatiku masih menyimpan namanya.

Tiba-tiba, seorang wanita masuk ke toko, memanggil nama Ardi. "Ardi, sayang? Aku sudah mendapatkan tempat parkir," ujarnya, lalu menatapku dengan tatapan menyelidik. "Siapa dia?"

Ardi terdiam, menatap wanita itu dengan wajah pucat. Aku menatap mereka berdua, dan hatiku hancur berkeping-keping. Jadi, dia datang ke sini bersama wanita itu? Wanita yang telah menghancurkan pernikahanku?

"Renata, kenalkan, ini…" Ardi mencoba menjelaskan, tapi aku tidak ingin mendengarnya.

"Pergi," kataku tegas, menunjuk ke arah pintu. "Pergi dari sini. Jangan pernah kembali."

Ardi menatapku dengan tatapan terluka, lalu menggenggam tangan wanita itu dan pergi meninggalkan toko. Aku terduduk lemas di kursi, air mata membasahi pipiku. Dia kembali, tapi dia bukan milikku lagi. Dia kembali, tapi dia membawa serta wanita lain. Apa yang akan terjadi selanjutnya?