Debaran Jantung di Balik Gaun Pengantin Usang
Chapter 1 — Debaran Jantung di Balik Gaun Pengantin Usang
Sesaat sebelum kakiku melangkah ke altar, aroma parfum cendana dan mawar yang dulu begitu memabukkan, kini terasa menyesakkan dada. Bukan karena aku tidak lagi mencintai pria yang menungguku di ujung sana, tetapi karena bayangan masa lalu terlalu kuat mencengkeramku. Arya, pria yang seharusnya menjadi suamiku hari ini, atau Raditya, cinta pertamaku yang menghilang tanpa jejak delapan tahun lalu?
Namaku Kirana, dan hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Pernikahan impianku dengan Arya, seorang pengusaha sukses yang tampan dan penyayang, akhirnya menjadi kenyataan. Gedung putih dengan dekorasi serba putih, gaun pengantin rancangan desainer ternama, dan ratusan tamu undangan, semuanya tampak sempurna. Namun, di balik senyum yang kupaksakan, hatiku bergejolak.
Delapan tahun lalu, aku adalah seorang gadis SMA biasa yang jatuh cinta pada Raditya, seorang seniman jalanan yang penuh mimpi. Kami menghabiskan setiap hari bersama, menjelajahi sudut-sudut kota Jakarta yang tersembunyi, berbagi tawa dan air mata, serta merencanakan masa depan yang indah. Raditya berjanji akan melamarku setelah ia berhasil menggelar pameran lukisannya yang pertama. Namun, satu minggu sebelum pameran itu, Raditya menghilang. Tanpa pesan, tanpa kabar, seolah ditelan bumi.
Aku mencarinya ke mana-mana, menghubungi teman-temannya, bahkan mendatangi kantor polisi. Namun, semua usahaku sia-sia. Raditya menghilang tanpa jejak. Patah hati dan putus asa, aku mencoba melupakan Raditya dan melanjutkan hidupku. Aku fokus pada kuliahku, bekerja keras, dan berusaha membangun masa depan yang lebih baik. Hingga akhirnya, aku bertemu dengan Arya.
Arya adalah sosok pria yang berbeda jauh dari Raditya. Ia stabil, mapan, dan selalu ada untukku. Ia memberiku rasa aman dan nyaman yang selama ini kurindukan. Ia melamarku setelah dua tahun berpacaran, dan aku menerima lamarannya dengan harapan bisa benar-benar melupakan Raditya. Namun, semakin dekat hari pernikahan kami, semakin kuat pula bayangan Raditya menghantuiku.
Aroma parfum yang dipakai Arya hari ini, parfum yang sama yang dulu sering dipakai Raditya, tiba-tiba terasa menusuk hidungku. Aku teringat senyumnya, tatapan matanya, dan suara tawanya. Kenangan itu begitu kuat hingga membuatku merasa bersalah pada Arya. Aku tidak yakin apakah aku benar-benar mencintai Arya, atau hanya berusaha menggantikan Raditya di hatiku.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Aku harus fokus pada Arya, pada masa depanku bersamanya. Aku tidak boleh membiarkan masa lalu menghancurkan kebahagiaanku. Aku melangkah maju, melewati barisan kursi tamu yang dipenuhi dengan wajah-wajah yang tersenyum padaku. Di ujung sana, Arya menungguku dengan senyum hangatnya. Ia terlihat begitu tampan dan bahagia, membuatku semakin merasa bersalah.
Saat aku hampir sampai di altar, mataku menangkap sosok pria yang berdiri di antara para tamu undangan. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana jeans, dengan rambut panjang yang sedikit berantakan. Ia menatapku dengan tatapan yang begitu familiar, tatapan yang membuat jantungku berdebar kencang. Tatapan yang tidak pernah bisa kulupakan.
Raditya. Ia ada di sana, di antara para tamu undanganku. Setelah delapan tahun menghilang, ia tiba-tiba muncul di hari pernikahanku. Aku terpaku di tempatku berdiri, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara. Arya menoleh ke arahku, mengerutkan keningnya bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah aku berlari ke arah Raditya dan memeluknya, atau tetap berjalan menuju Arya dan melanjutkan pernikahanku? Pilihan sulit yang harus segera kuputuskan.
Raditya mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat padaku. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku bisa merasakan tatapan mata semua orang tertuju padaku. Arya menggenggam tanganku erat, seolah tidak ingin melepaskanku. Aku menatapnya dengan tatapan memohon maaf. Aku tahu, apa pun keputusanku, akan ada hati yang terluka. Namun, aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Aku masih mencintai Raditya. Aku selalu mencintainya.
Dengan segenap keberanian yang kupunya, aku melepaskan genggaman tangan Arya. Aku berbalik, meninggalkan Arya yang terpaku di altar, dan berlari menuju Raditya. Air mata mulai membasahi pipiku. Aku tidak peduli dengan apa yang akan dipikirkan orang lain. Aku hanya ingin bersamanya, dengan cinta pertamaku, dengan Raditya. Namun, saat aku hampir sampai di dekatnya, Raditya menggelengkan kepalanya.
"Jangan, Kirana," bisiknya pelan, namun cukup jelas untuk kudengar. "Jangan lakukan ini. Kamu tidak akan bahagia bersamaku."
Aku berhenti berlari, terpaku di tempatku berdiri. Apa maksudnya? Mengapa ia menyuruhku untuk tidak memilihnya? Setelah delapan tahun menghilang, setelah membuatku menunggu dan merindukannya, mengapa ia justru menyuruhku untuk menjauhinya?
"Mengapa?" tanyaku dengan suara bergetar. "Mengapa kamu melakukan ini padaku?"
Raditya menatapku dengan tatapan penuh penyesalan. "Karena aku tidak pantas untukmu, Kirana. Aku bukan pria yang baik untukmu. Aku memiliki rahasia yang akan menghancurkanmu."
Rahasia? Rahasia apa yang disembunyikannya? Mengapa ia menghilang selama delapan tahun? Dan mengapa ia tiba-tiba muncul di hari pernikahanku hanya untuk menyuruhku menjauhinya? Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti. Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, seorang wanita cantik menghampiri Raditya. Wanita itu memeluk lengannya erat-erat dan menatapku dengan tatapan sinis.
"Maaf, Kirana," kata wanita itu dengan suara dingin. "Raditya adalah milikku. Ia akan segera menikah denganku."
Aku terkejut. Raditya akan menikah? Dengan wanita lain? Jadi, selama ini ia menghilang bukan karena diculik atau mengalami kecelakaan, tetapi karena ia memilih untuk bersama wanita lain? Hatiku hancur berkeping-keping. Aku merasa seperti orang bodoh yang telah menunggu dan merindukan seseorang yang tidak pernah memikirkanku.
Raditya hanya diam, tidak membantah perkataan wanita itu. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa malu, marah, dan kecewa. Aku ingin berteriak, menangis, dan melampiaskan semua emosi yang berkecamuk di dalam diriku. Namun, aku tidak bisa. Aku hanya bisa berdiri terpaku di tempatku berdiri, menatap Raditya dan wanita itu dengan tatapan kosong.
Kemudian, wanita itu menarik Raditya pergi. Mereka berjalan keluar dari gedung pernikahan, meninggalkan aku yang terisak seorang diri di tengah kerumunan tamu undangan yang terkejut. Arya masih berdiri terpaku di altar, menatapku dengan tatapan terluka. Aku tahu, aku telah menyakitinya. Aku telah menghancurkan hari bahagianya. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa memilihnya, karena hatiku masih terpaut pada Raditya, pria yang ternyata telah menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya.
Saat Raditya dan wanita itu menghilang di balik pintu, aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku tahu, itu adalah Arya. Ia memelukku erat, mencoba menenangkanku. Aku menangis di pelukannya, meluapkan semua kesedihan dan kekecewaanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menghadapi semua ini. Yang aku tahu, hidupku telah berubah selamanya.
Namun, di tengah kekacauan dan kesedihan ini, ada satu hal yang membuatku penasaran. Siapa wanita itu? Mengapa Raditya memilihnya? Dan rahasia apa yang disembunyikan Raditya sehingga ia menyuruhku menjauhinya? Aku harus mencari tahu. Aku harus mengungkap kebenaran di balik semua ini. Karena aku yakin, ada sesuatu yang lebih dari sekadar cinta yang hilang di antara kami. Ada rahasia gelap yang tersembunyi di balik senyum dan tatapan mata Raditya. Dan aku bertekad untuk mengungkapnya, meskipun itu akan menghancurkan hatiku untuk yang ketiga kalinya.
Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah amplop cokelat tanpa nama di depan pintu rumahku. Di dalamnya, terdapat sebuah foto polaroid yang menunjukkan Raditya dan wanita itu sedang berciuman di depan sebuah rumah sakit jiwa. Di belakang foto itu, tertulis sebuah pesan singkat dengan tinta merah: "Jauhi Raditya. Ia berbahaya."
Siapa yang mengirim foto ini? Mengapa ia memperingatkanku tentang Raditya? Dan apa hubungannya Raditya dengan rumah sakit jiwa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Aku tahu, aku harus segera mencari tahu kebenaran di balik semua ini. Namun, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Raditya menghilang lagi, tanpa jejak. Seolah ia memang sengaja ingin membuatku penasaran dan terus mengejarnya.
Aku memutuskan untuk mencari tahu identitas wanita yang bersama Raditya di hari pernikahanku. Aku mendatangi kantor catatan sipil, berharap bisa menemukan data pernikahan mereka. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada catatan pernikahan atas nama Raditya dan wanita itu. Aku mulai merasa frustrasi. Seolah ada kekuatan besar yang berusaha menyembunyikan kebenaran dariku.
Suatu malam, saat aku sedang termenung di balkon apartemenku, aku melihat seorang pria berdiri di seberang jalan. Pria itu mengenakan jaket hitam dan topi, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Namun, aku merasa familiar dengan sosok itu. Seolah aku pernah melihatnya sebelumnya. Pria itu menatapku lekat-lekat, kemudian menghilang di balik kegelapan malam. Aku merinding. Siapa pria itu? Dan mengapa ia menatapku seperti itu?
Keesokan harinya, aku menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu berisi sebuah alamat dan sebuah kalimat singkat: "Temui aku di sana. Aku tahu kebenaran tentang Raditya."
Aku ragu. Haruskah aku pergi? Bagaimana jika ini adalah jebakan? Namun, rasa penasaranku terlalu besar untuk diabaikan. Aku memutuskan untuk pergi ke alamat yang tertera di pesan itu. Aku harus mencari tahu kebenaran tentang Raditya, meskipun itu akan membawaku ke dalam bahaya. Aku bersiap-siap, mengenakan pakaian yang nyaman dan membawa tas kecil berisi perlengkapan yang mungkin kubutuhkan. Sebelum berangkat, aku mengirimkan pesan kepada sahabatku, Riana, memberitahukan tentang rencanaku dan alamat yang akan kutuju.
Saat aku tiba di alamat yang tertera, aku terkejut. Itu adalah sebuah rumah tua yang terbengkalai di pinggiran kota. Rumah itu tampak menyeramkan dan tidak terawat. Jendela-jendelanya pecah, dinding-dindingnya berlumut, dan halaman depannya dipenuhi dengan semak belukar. Aku ragu sejenak. Apakah aku benar-benar harus masuk ke dalam rumah ini? Namun, rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku. Aku menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk ke dalam rumah itu.
Suasana di dalam rumah itu terasa dingin dan lembab. Bau apak dan debu menusuk hidungku. Aku berjalan perlahan, menyusuri lorong gelap yang dipenuhi dengan sarang laba-laba. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki dari arah belakang. Aku berbalik, dan melihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan topeng hitam dan membawa sebuah pisau di tangannya.
"Selamat datang, Kirana," kata pria bertopeng itu dengan suara serak. "Aku sudah menunggumu."
Siapa pria ini? Dan apa yang diinginkannya dariku? Aku merasa takut dan panik. Aku ingin berteriak dan melarikan diri, tetapi kakiku terasa lemas. Aku terpaku di tempatku berdiri, menatap pria bertopeng itu dengan tatapan ngeri.
"Kamu pasti penasaran tentang Raditya, bukan?" tanya pria bertopeng itu sambil mendekatiku perlahan. "Aku akan memberitahumu semua yang ingin kamu ketahui. Tapi, dengan satu syarat."
"Syarat apa?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Kamu harus menyerahkan hatimu padaku," jawab pria bertopeng itu sambil menyeringai. "Karena hanya dengan begitu, kamu akan benar-benar memahami siapa Raditya sebenarnya."