Jejak yang Memudar di Atas Gaun Pengantin

Chapter 1 — Jejak yang Memudar di Atas Gaun Pengantin

Aroma melati dan pengkhianatan memenuhi udara. Gaun pengantinku, putih bersih seperti lembaran dosa yang belum ditulis, terasa seperti jerat yang mengikatku pada altar ini. Di ujung lorong, dia berdiri, bukan pria yang kukira akan menjadi takdirku, melainkan bayangan masa lalu yang kembali menghantuiku.

Namaku Senja, dan hari ini seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan abadi. Seharusnya. Dua tahun lalu, aku kehilangan segalanya. Keluarga, rumah, dan yang terpenting, cintaku. Atau begitulah yang kupercaya saat itu. Sekarang, takdir, dengan selera humor yang kejam, menempatkanku tepat di persimpangan jalan yang sama.

Andre, tunanganku, seorang dokter bedah kardiovaskular yang sukses dan mapan. Dia adalah gambaran sempurna dari pria yang seharusnya kubutuhkan: stabil, penyayang, dan bersedia memberiku keamanan yang kurindukan setelah kehidupanku hancur berantakan. Tapi mataku terus mencari sosok lain di antara para tamu. Sosok yang tidak mungkin hadir, namun kehadirannya terasa begitu kuat.

Kilatan kamera menyadarkanku. Ayah Andre, seorang pengusaha properti yang berpengaruh, tersenyum lebar ke arahku. Dia menyukaiku, atau lebih tepatnya, dia menyukai apa yang kurasakan untuk Andre. Aku adalah investasi yang baik, seorang istri yang penurut dan tidak merepotkan. Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.

Musik mulai mengalun, sebuah melodi klasik yang seharusnya membuat hatiku berbunga-bunga. Namun, yang kurasakan hanyalah dingin yang merayapi tulang punggungku. Aku melangkah maju, mengikuti irama yang memaksaku untuk bergerak menuju altar, menuju pria yang tidak kucintai.

Masa lalu kami terjalin di kota kecil bernama Pelangi, sebuah tempat di mana matahari selalu bersinar dan mimpi terasa begitu dekat untuk digapai. Di sana, aku bertemu dengan Raga. Seorang seniman dengan mata yang menyimpan lautan badai dan senyum yang mampu melelehkan gunung es. Kami jatuh cinta dengan cepat dan penuh gairah, sebuah cinta yang kami yakini akan abadi.

Namun, hidup memiliki rencana lain. Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tuaku dan meninggalkan aku seorang diri di dunia ini. Raga, yang saat itu sedang berjuang untuk membangun karirnya sebagai seniman, merasa tidak mampu menanggung beban seorang gadis yatim piatu. Dia pergi, tanpa sepatah kata pun. Meninggalkanku dengan hati yang hancur dan mimpi yang terkubur.

Aku membangun kembali hidupku sedikit demi sedikit. Pindah ke Jakarta, bekerja keras, dan berusaha melupakan masa lalu. Lalu, aku bertemu dengan Andre. Dia menawarkan stabilitas dan keamanan, sesuatu yang sangat kubutuhkan. Aku menerimanya, berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, aku bisa menemukan kebahagiaan bersamanya.

Sekarang, berdiri di sini, di ambang pernikahan yang kuragukan, aku menyadari bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia selalu ada, mengintai di balik bayang-bayang, siap untuk muncul kembali dan menghantuiku.

Aku semakin dekat dengan altar. Andre tersenyum padaku, sebuah senyum yang terasa hambar. Aku membalasnya dengan senyum yang sama hambar, berusaha menyembunyikan gemuruh di dalam dadaku. Beberapa langkah lagi, dan aku akan terikat padanya selamanya.

Tiba-tiba, di tengah kerumunan, aku melihatnya. Raga. Berdiri di sana, menatapku dengan mata yang sama seperti dulu. Mata yang menyimpan lautan badai dan senyum yang mampu melelehkan gunung es. Dia tidak seharusnya berada di sini. Apa yang dia inginkan?

Jantungku berdebar kencang. Aku berhenti melangkah. Musik terus mengalun, tetapi aku tidak lagi mendengarnya. Semua yang ada di sekitarku menghilang. Hanya ada aku dan dia, terpisah oleh lautan tamu dan tahun-tahun yang telah berlalu. Dia mengangkat tangannya, seolah ingin menggapaiku. Dan kemudian, dia mengucapkan sebuah kata yang membuat seluruh dunia terasa berhenti berputar.

"Senja..."