Malam di Verona

Chapter 1 — Bab 1: Malam di Verona

Aroma anggur merah dan bahaya menguar di udara, sama pekatnya. Alessia merasakan jantungnya berdegup kencang seiring langkahnya memasuki kasino mewah itu. Lampu kristal berkilauan, memantulkan cahaya pada wajah-wajah tegang para penjudi, tetapi Alessia hanya fokus pada satu sosok: Marco Vitale, sang capo dari keluarga mafia paling berpengaruh di Verona.

Verona, kota yang seharusnya dipenuhi romansa abadi seperti kisah Romeo dan Juliet, kini menjadi arena kekuasaan bagi keluarga-keluarga mafia yang saling bersaing. Keluarga Vitale, dengan cengkeramannya yang kuat pada bisnis perjudian dan properti, adalah yang terkuat. Dan malam ini, Alessia mempertaruhkan segalanya untuk mendekati Marco.

Gaun merahnya, yang dipilih dengan cermat untuk menonjol namun tetap elegan, bergerak lembut saat ia berjalan. Ia tahu, penampilannya adalah senjatanya. Ia bukan hanya seorang wanita cantik; ia adalah seorang ahli strategi, seorang manipulator, dan yang terpenting, seorang yang putus asa. Utang ayahnya pada keluarga Vitale telah menumpuk, dan satu-satunya cara untuk melunasinya adalah dengan mendekati Marco, mendapatkan kepercayaannya, dan mencari cara untuk menghancurkannya dari dalam.

Alessia berhenti di bar, memesan segelas sampanye. Ia mengamati Marco dari kejauhan. Pria itu dikelilingi oleh para pengawal berbadan tegap, wajah mereka tanpa ekspresi. Marco sendiri tampak tenang, bermain poker dengan beberapa pengusaha kaya. Tatapannya tajam, menilai, dan Alessia merasakan getaran aneh saat mata mereka bertemu sejenak.

Ia meneguk sampanyenya, mencoba menenangkan diri. Inilah saatnya. Ia berjalan mendekat, langkahnya mantap namun anggun. Ia berhenti di belakang kursi Marco, seolah hanya ingin melihat permainan.

"Taruhan yang berani, bukan begitu?" Alessia berkata, suaranya lembut namun cukup keras agar Marco mendengarnya. Ia bisa merasakan tatapan mata pria itu tertuju padanya.

Marco tidak menjawab, tetap fokus pada kartu-kartunya. Ia mengangkat alis, memberi isyarat pada bartender untuk membawakan Alessia segelas sampanye lagi. Alessia menerima gelas itu dengan anggukan kecil.

Setelah beberapa saat, Marco akhirnya menjatuhkan kartunya di meja. "Royal flush," katanya datar, mengumpulkan tumpukan chip di depannya. Para pengusaha menggerutu kecewa.

Marco berbalik, menatap Alessia dengan mata gelapnya. "Siapa kau?" tanyanya, suaranya berat dan mengintimidasi.

"Seseorang yang tertarik dengan permainan ini," jawab Alessia, tersenyum misterius. "Dan mungkin, sedikit tertarik padamu."

Marco tertawa pelan, nada mengejek dalam suaranya. "Kau pikir kau bisa bermain dengan orang sepertiku?"

"Aku yakin bisa belajar," balas Alessia, menatap matanya tanpa gentar.

Marco terdiam sejenak, menatap Alessia dengan intens. Kemudian, ia mengulurkan tangannya. "Marco Vitale," katanya.

Alessia menjabat tangannya, merasakan kekuatan yang tersembunyi di balik sentuhan itu. "Alessia Moretti," jawabnya.

"Alessia Moretti," Marco mengulangi namanya, seolah mencicipi setiap suku kata. "Nama yang indah. Mari kita lihat seberapa indah permainanmu nanti malam."

Marco memberi isyarat kepada pengawalnya, dan mereka membuka jalan untuk Alessia dan Marco meninggalkan kasino. Mereka berjalan keluar ke malam Verona yang dingin, di mana sebuah mobil limusin hitam menunggu. Marco membukakan pintu untuk Alessia, dan saat ia masuk, ia merasakan firasat buruk yang kuat. Permainan baru saja dimulai, dan Alessia tidak yakin apakah ia akan bisa selamat.

Saat mobil melaju menjauh, Alessia melihat sekilas sosok familiar di balik bayangan di seberang jalan. Sosok itu, dengan tatapan penuh kebencian, adalah Isabella Rossi, putri dari capo keluarga Rossi, rival utama keluarga Vitale. Isabella menatap Alessia dengan mata membara, dan Alessia tahu, ia baru saja membuat musuh yang sangat berbahaya.