Ciuman Darah di Malam Pertama
Chapter 1 — Ciuman Darah di Malam Pertama
Kilauan berlian di leherku terasa mencekik, seolah ikut berkonspirasi dengan takdir yang menjeratku malam ini. Di ujung altar sana, berdiri dia, pria yang namanya saja membuat jantungku berdebar tak karuan: Vittorio Sulistyo.
Gaun putih yang seharusnya melambangkan kesucian dan harapan, terasa seperti kafan yang siap mengubur masa depanku. Aroma bunga lili yang memenuhi gereja terasa menyesakkan, bercampur dengan bau dupa yang kuat, menciptakan atmosfer yang lebih menyerupai pemakaman daripada pernikahan. Aku, Tirta Pradipta, akan menikahi pria yang lebih pantas disebut monster berwujud manusia.
Pernikahan ini bukan didasari cinta. Ini adalah kesepakatan. Ayahku, terlilit hutang judi yang menggunung pada keluarga Sulistyo, menawarkan aku sebagai gantinya. Vittorio, sang capo di tutti capi, menerima tawaran itu tanpa ragu. Katanya, aku adalah "jaminan" yang paling berharga. Jaminan untuk kesetiaan ayahku, dan jaminan untuk kekuasaannya.
Sorak sorai menggema saat kami dinyatakan sah sebagai suami istri. Vittorio mendekatiku, senyum dingin tersungging di bibirnya. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, menatapku seolah aku adalah mangsa yang siap disantap.
Tangan kasarnya menggenggam tanganku, membimbingku keluar dari gereja yang megah itu. Di luar, barisan mobil mewah berwarna hitam legam sudah menunggu. Pengawal-pengawal berbadan tegap dengan tatapan waspada mengelilingi kami, memastikan tidak ada satu pun yang berani mendekat.
Mobil melaju membelah jalanan kota Roma yang gemerlap. Aku menoleh ke arah Vittorio yang duduk di sampingku. Ia mengenakan setelan jas hitam yang mahal, rambutnya disisir rapi ke belakang, menampakkan garis rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam.
"Kau pasti sangat membenciku," ujarku lirih, memecah keheningan yang mencekam.
Ia tersenyum sinis. "Kebencian adalah emosi yang kuat, Tirta. Aku lebih suka menyebutnya...kepatuhan."
"Kepatuhan?" Aku mencibir. "Kau membeliku seperti barang, Vittorio. Kau pikir aku akan patuh padamu?"
"Cepat atau lambat, kau akan melakukannya." Ia mendekatiku, aroma maskulinnya menusuk hidungku. "Kau sekarang adalah milikku, Tirta. Segala sesuatu tentangmu."
Aku mencoba menjauh, tapi punggungku sudah mentok di pintu mobil. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku takut, tapi juga ada rasa penasaran yang aneh. Siapa sebenarnya pria ini? Apa yang diinginkannya dariku?
Mobil berhenti di depan sebuah vila mewah yang terletak di pinggiran kota. Vila itu dikelilingi oleh taman yang luas dan terawat, dengan air mancur yang memancarkan cahaya berwarna-warni. Tempat ini indah, tapi terasa dingin dan tidak ramah.
Vittorio menggandeng tanganku, membawaku masuk ke dalam vila. Interiornya mewah dan megah, dengan perabotan antik dan lukisan-lukisan mahal yang menghiasi dinding. Pelayan-pelayan berpakaian seragam hitam putih membungkuk hormat saat kami lewat.
Ia membawaku ke sebuah kamar tidur yang luas. Tempat tidur berukuran king size dengan sprei sutra putih mendominasi ruangan. Ada juga balkon yang menghadap ke taman, menawarkan pemandangan yang indah di malam hari.
"Ini kamarmu," ujarnya datar. "Beristirahatlah. Besok kita akan membicarakan tentang peranmu di keluarga ini."
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Aku merasa lega, tapi juga kecewa. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Sentuhan lembut? Kata-kata manis? Aku pasti sudah gila.
"Vittorio," panggilku sebelum ia sempat keluar dari kamar.
Ia berhenti dan menoleh ke arahku. "Ada apa?"
"Apa yang kau inginkan dariku? Selain kepatuhan?"
Ia tersenyum misterius. "Kau akan segera tahu, Tirta. Kau akan segera tahu."
Ia keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya. Aku terdiam, menatap pintu itu dengan perasaan campur aduk. Takut, penasaran, dan sedikit...tertarik?
Aku berjalan ke balkon dan menatap pemandangan taman di bawah. Udara malam terasa sejuk dan segar. Bulan purnama bersinar terang di langit, menerangi setiap sudut vila ini.
Aku adalah Tirta Pradipta, seorang gadis biasa yang terperangkap dalam dunia mafia yang kejam. Aku adalah istri Vittorio Sulistyo, pria yang ditakuti dan dihormati oleh semua orang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, tapi aku tahu satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Saat aku sedang merenung, tiba-tiba aku mendengar suara tembakan dari arah depan vila. Suara itu begitu keras dan mengejutkan, membuatku tersentak kaget. Jantungku berdebar tak karuan. Apa yang sedang terjadi?
Aku berlari keluar dari kamar dan menuju ke arah suara tembakan. Di lorong, aku melihat pelayan-pelayan berlarian dengan wajah panik. Mereka berteriak-teriak tidak jelas.
"Apa yang terjadi?" tanyaku pada salah seorang pelayan yang lewat.
"Penyerangan! Mereka menyerang vila!" jawab pelayan itu dengan nada histeris.
Penyerangan? Siapa yang menyerang vila ini? Apakah ini ulah musuh-musuh Vittorio? Atau ada orang yang ingin menyelamatkanku?
Tiba-tiba, seorang pria bertopeng muncul di hadapanku. Ia memegang pistol di tangannya dan menodongkannya ke arahku.
"Jangan bergerak!" bentaknya dengan suara berat. "Kau ikut dengan kami!"
Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Aku terperangkap di antara dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ada Vittorio, pria yang telah membeliku dan menjadikanku istrinya. Di sisi lain, ada pria bertopeng ini, yang mungkin adalah penyelamatku, atau mungkin juga adalah ancaman yang lebih besar.
Sebelum aku sempat mengambil keputusan, pria bertopeng itu menarik tanganku dan membawaku berlari keluar dari vila. Di luar, terjadi baku tembak yang sengit antara pengawal-pengawal Vittorio dan kelompok penyerang. Peluru-peluru beterbangan di udara, menciptakan suasana yang kacau dan menakutkan.
Pria bertopeng itu membawaku ke sebuah mobil yang sudah menunggu di dekat gerbang. Ia mendorongku masuk ke dalam mobil dan kemudian ikut masuk.
"Siapa kau?" tanyaku dengan nada gemetar.
Ia tidak menjawab. Ia hanya menyeringai di balik topengnya dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan vila Vittorio yang sedang dilanda kekacauan di belakang.
Kemana ia akan membawaku? Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Dan yang paling penting, apakah aku akan selamat dari malam yang mengerikan ini?
Saat mobil melaju membelah kegelapan malam, aku merasakan ciuman dingin di leherku. Bukan ciuman cinta, melainkan ciuman darah. Ciuman yang menandai permulaan dari babak baru dalam hidupku, babak yang penuh dengan bahaya, intrik, dan mungkin juga...cinta.