Ciuman Maut di Altar
Chapter 1 — Ciuman Maut di Altar
Darah mengalir deras, bukan dari luka di tubuhku, melainkan dari bibir yang menempel paksa padaku. Rasanya seperti besi karat dan kebusukan yang manis, sebuah kontradiksi yang membuat perutku bergejolak dan kepalaku berputar. Ini bukan ciuman pertama, tapi ciuman terkutuk ini terasa seperti akhir dari segalanya.
Aku, Lilith Fry Kynwell, seharusnya menikahi Lord Stefan di altar gereja Saint Michael yang megah ini. Cahaya lilin menari-nari di dinding batu, memantulkan bayangan panjang para tamu undangan yang berbisik-bisik. Gaun putihku, yang dijahit dengan benang perak, kini ternoda oleh cairan merah kental yang terus membanjiri dadaku.
Lord Stefan, pria yang seharusnya menjadi suamiku, kini tergeletak tak bernyawa di kakiku. Lehernya terkoyak, urat-uratnya yang putih tampak menjijikkan di balik kulit pucatnya. Pelakunya? Pria yang kini menciumku dengan brutal, pria yang matanya merah membara, pria yang bukan manusia.
“Kau… siapa kau?” Aku berhasil mengucapkan kata-kata itu di antara erangan dan napas yang tersengal. Rasa sakitnya luar biasa, seperti ada bara api yang membakar setiap inci kulitku dari dalam.
Pria itu tidak menjawab. Ia terus menyesap darahku, semakin dalam, semakin rakus. Cengkeramannya di pinggangku begitu kuat hingga aku yakin tulang-tulangku akan remuk. Aku mencoba memberontak, mendorongnya sekuat tenaga, tapi tenaganya jauh di atasku. Dia seperti batu granit yang kokoh, tidak tergoyahkan.
Bau anyir darah memenuhi udara, bercampur dengan aroma dupa dan lilin. Para tamu undangan menjerit histeris, berusaha melarikan diri dari gereja yang kini menjadi arena pembantaian. Namun, gerbang gereja terkunci rapat, dikawal oleh sosok-sosok berjubah hitam yang wajahnya tertutup bayangan.
Aku melihat Pastor Thomas, wajahnya pucat pasi, berlutut di depan altar sambil merapal doa-doa yang tidak kumengerti. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Ia tahu siapa pria ini. Ketakutan terpancar jelas dari matanya yang berair.
Pria itu akhirnya melepaskan bibirnya dari leherku. Darah terus mengalir dari luka yang menganga di sana, membasahi gaunku dan lantai marmer di bawahku. Aku terhuyung mundur, berusaha menjauh darinya, tapi kakiku terasa lemas dan tidak bertenaga.
Wajahnya akhirnya terlihat jelas di bawah cahaya lilin. Kulitnya seputih pualam, matanya merah menyala seperti bara api, dan taringnya menyembul keluar dari balik bibirnya yang merah darah. Dia adalah vampir. Makhluk legenda yang selama ini hanya menjadi cerita pengantar tidur bagi anak-anak.
“Namaku Lucian,” ujarnya dengan suara yang dalam dan berat, seperti gemuruh guntur. “Dan kau, Lilith, akan menjadi milikku.”
Aku menggelengkan kepala, berusaha menyangkal kenyataan yang ada di depan mataku. Ini tidak mungkin terjadi. Ini pasti mimpi buruk. Aku akan bangun sebentar lagi, dan semua ini akan hilang.
Namun, sentuhan dingin tangannya di pipiku membuyarkan semua harapan itu. Jarinya yang panjang dan kurus membelai pipiku dengan lembut, kontras dengan tatapannya yang penuh nafsu dan kegelapan.
“Jangan takut, Lilith,” bisiknya di telingaku. “Kau akan menjadi lebih kuat dari yang kau bayangkan. Kau akan hidup abadi. Kau akan menjadi seperti aku.”
Ia kembali menciumku, kali ini dengan lebih lembut, lebih menggoda. Namun, rasa sakitnya tetap sama. Aku bisa merasakan racunnya merasuk ke dalam tubuhku, mengubahku, membunuhku perlahan-lahan.
Aku mencoba berteriak, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Aku merasa seluruh tubuhku terbakar, kemudian membeku. Kesadaranku mulai memudar, dan kegelapan mulai menguasai diriku.
Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku melihat Lucian tersenyum. Senyum yang mengerikan, senyum yang penuh kemenangan.
***
Aku terbangun di sebuah ruangan yang gelap dan lembap. Bau tanah dan lumut memenuhi udara. Aku berbaring di atas ranjang batu yang dingin, ditutupi oleh kain linen yang kasar. Kepalaku berdenyut-denyut, dan seluruh tubuhku terasa sakit.
Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku terasa sangat berat. Aku merasa seperti ada beban ratusan kilo yang menindihku. Aku menatap tanganku. Kulitku pucat pasi, hampir transparan. Urat-urat biruku terlihat jelas di bawah kulitku.
Aku meraba leherku. Ada dua lubang kecil di sana, bekas gigitan yang masih terasa perih. Aku tahu apa yang telah terjadi. Aku telah berubah. Aku telah menjadi salah satu dari mereka.
Aku mendengar langkah kaki mendekat. Pintu ruangan terbuka, dan Lucian masuk. Ia mengenakan jubah hitam panjang, dan matanya masih merah membara.
“Selamat datang di dunia baru, Lilith,” ujarnya dengan senyum mengejek. “Dunia kegelapan. Dunia vampir.”
Ia mendekatiku dan mengulurkan tangannya.
“Sekarang, mari kita mulai pelatihanmu.”
Aku menatap tangannya dengan ragu. Apakah aku benar-benar ingin menjadi seperti dia? Apakah aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku dalam kegelapan?
Namun, ada sesuatu yang lain yang kurasakan. Sesuatu yang kuat, sesuatu yang menarikku padanya. Sesuatu yang membuatku ingin menggenggam tangannya dan melupakan semua yang telah terjadi.
Insting baru, naluri yang belum pernah kurasakan sebelumnya, mulai muncul dan menguasai diriku. Haus… haus yang tak tertahankan. Haus akan sesuatu yang aku tahu dia bisa berikan. Lucian tersenyum semakin lebar, mengetahui pergolakan yang terjadi di dalam diriku. Dia tahu dia sudah menang.
Dia menunggu, sabar, menikmati ketidakberdayaanku. Setiap detik terasa seperti keabadian. Aku menatap tangannya, kemudian matanya. Aku bisa melihat kekuatan di sana, potensi yang luar biasa. Dan aku… aku menginginkannya.
Akhirnya, dengan gerakan yang ragu-ragu, aku mengulurkan tanganku dan menggenggam tangannya. Sentuhan kulitnya yang dingin dan lembut mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan kekuatannya mengalir ke dalam diriku.
“Pilihan yang tepat, Lilith,” bisiknya. “Kau tidak akan menyesalinya.”
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka kembali dengan kasar. Seorang pria berjubah putih, dengan salib perak besar di dadanya, berdiri di ambang pintu. Matanya penuh amarah dan kebencian.
“Lucian!” teriaknya. “Aku datang untuk mengakhiri semua ini!”
Lucian mendesis marah dan menarikku ke belakangnya, melindungiku dari ancaman yang baru datang. Aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya, kekuatan yang siap meledak.
Pria berjubah putih itu mengangkat salibnya tinggi-tinggi.
“Demi nama Tuhan, aku perintahkan kau untuk melepaskan Lilith! Dia bukan milikmu!”
Lucian tertawa sinis.
“Tuhanmu tidak punya kekuatan di sini, Pendeta. Lilith sekarang adalah milikku. Dan tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya dariku.”
Lucian mendorongku ke belakangnya. "Lindungi dirimu, Lilith. Ini akan menjadi pertunjukan yang menarik." Tatapannya beralih, merah padam, siap untuk bertempur. Aku tahu, pertarungan akan segera dimulai. Pertarungan antara kegelapan dan cahaya, antara vampir dan pemburu vampir, dan aku… terjebak di tengah-tengahnya. Aku tidak tahu harus berpihak pada siapa. Tapi satu hal yang pasti, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Pertempuran baru saja dimulai, dan masa depanku tergantung pada hasilnya.