Cincin Berlian di Jari yang Salah

Chapter 1 — Cincin Berlian di Jari yang Salah

Deru mesin jet pribadi memekakkan telinga, tapi bagi Anindita, itu adalah simfoni kehancuran. Gelas sampanye di tangannya bergetar, memercikkan cairan ke gaun sutra berwarna krem yang baru dibelinya di Paris. Tujuh jam lagi, dia akan menjadi istri seorang pria yang bahkan belum pernah dia ajak bicara lebih dari lima menit.

"Tenanglah, Nindita sayang," suara ibunya, Wulan, memecah lamunannya. Wulan duduk di seberangnya, mengenakan setelan Chanel berwarna biru laut yang tampak sempurna. "Semua akan baik-baik saja. Kamu akan menjadi Nyonya keluarga Hidayat yang terhormat."

Nindita mendengus pelan. "Terhormat? Atau terikat?" bisiknya.

Wulan menghela napas. "Jangan mulai, Nindita. Kamu tahu ini demi kebaikan keluarga. Bisnis ayahmu sedang tidak baik-baik saja. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya."

Nindita menatap keluar jendela. Awan-awan putih berarak di bawah sana, tampak begitu bebas dan ringan. Berbeda dengan dirinya yang terkurung dalam sangkar emas yang akan segera menjadi miliknya. Dia, Anindita Putri, seorang arsitek muda yang penuh semangat, akan menikahi Nugroho Hidayat, pewaris tunggal Hidayat Group, konglomerat yang bergerak di bidang properti dan pertambangan.

Dia tidak membenci Nugroho. Dia hanya tidak mengenalnya. Mereka bertemu sekali, dua tahun lalu, di sebuah acara amal. Nugroho tampak dingin dan jauh, sibuk dengan ponselnya dan dikelilingi oleh para pengawal. Tidak ada percikan, tidak ada ketertarikan. Hanya jabatan tangan formal dan sapaan singkat.

Namun, ayahnya, Bramantyo, telah berjanji. Sebuah perjanjian yang dibuat di atas meja makan, di antara asap cerutu dan gelas-gelas anggur mahal. Sebuah perjanjian yang akan mengikat Nindita seumur hidupnya.

"Aku tidak mengerti mengapa harus aku?" Nindita akhirnya berkata, suaranya bergetar. "Mengapa harus pernikahan? Mengapa tidak pinjaman bank atau investasi?"

Wulan meraih tangannya. "Sayang, kamu tahu ayahmu. Dia keras kepala. Dan Nugroho... dia menginginkanmu. Itu yang terpenting."

Nindita menarik tangannya. "Menginginkanku? Atau menginginkan nama Putri yang terhormat? Keluarga kita memang disegani di kalangan arsitektur, tapi itu tidak sebanding dengan Hidayat Group."

Wulan tidak menjawab. Dia hanya menatap Nindita dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebuah tatapan yang menyimpan kesedihan, penyesalan, dan mungkin juga ketidakberdayaan.

Nindita memejamkan mata. Dia ingat mimpinya, sketsa-sketsa bangunan impiannya, harapan untuk menciptakan ruang yang indah dan bermakna. Semua itu terasa begitu jauh sekarang, tertutup oleh bayang-bayang pernikahan yang tidak diinginkannya.

Pramugari datang untuk menawarkan minuman. Nindita menolak. Dia sudah merasa cukup mabuk dengan kenyataan yang ada di depannya.

"Kita sudah hampir sampai, Nindita," kata Wulan, menunjuk ke layar kecil di depan mereka. "Jakarta sudah terlihat."

Nindita membuka matanya dan menatap layar. Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Bintang-bintang yang akan menyaksikan pernikahannya, pernikahannya yang tidak bahagia.

Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian, Nindita merasakan sesuatu yang aneh di jarinya. Cincin berlian yang diberikan Nugroho sebagai tanda pertunangan terasa terlalu ketat. Dia mencoba melepaskannya, tapi tidak bisa. Cincin itu seperti mengunci dirinya, mengikatnya pada takdir yang tidak dia pilih.

Dia menarik, menarik, dan terus menarik, tapi cincin itu tetap tidak bergerak. Panik mulai menyergapnya. Dia berkeringat dingin. Jantungnya berdebar kencang.

Tiba-tiba, cincin itu terlepas. Nindita terkejut. Dia menatap cincin itu di telapak tangannya, lalu menatap jarinya yang kini memerah. Di sana, terukir sebuah nama. Bukan namanya. Bukan nama Nugroho. Tapi sebuah nama asing yang membuatnya membeku.

"Siapa... siapa Karina?" bisiknya, suaranya tercekat. Nama itu terukir jelas di dalam cincin, sebuah rahasia yang akan mengubah segalanya.