Terjebak di Aetheria
Chapter 1 — Bab 1: Terjebak di Aetheria
Debu kristal berkilauan menusuk mataku, paksa aku terbatuk dan menutup wajah. Detik sebelumnya, aku, Raden, hanyalah seorang mahasiswa arkeologi yang bosan di perpustakaan kampus. Detik berikutnya, aku tergeletak di tanah asing yang anehnya familier.
Udara di sekitarku berbau manis seperti madu dan rempah-rempah eksotis. Pohon-pohon raksasa dengan daun berwarna perak menjulang tinggi ke langit yang dipenuhi dua matahari kembar. Di kejauhan, siluet gunung-gunung terapung tampak anggun membelah cakrawala. Ini bukan Bumi.
"Di mana... di mana aku?" bisikku, suaraku tercekat. Aku bangkit berdiri, tubuhku terasa anehnya ringan dan kuat. Pakaianku juga berubah. Alih-alih jeans dan kaos oblong, aku mengenakan tunik kulit yang terasa nyaman dan sepatu bot tinggi yang tampak kokoh.
Panik mulai menyelinap masuk. Aku ingat membaca tentang portal isekai di novel-novel ringan, tapi aku selalu menganggapnya sebagai fantasi belaka. Sekarang, aku hidup dalam fantasi itu – mimpi buruk, lebih tepatnya.
Tiba-tiba, suara gemerisik dedaunan membuatku tersentak. Dari balik semak-semak perak, muncul seekor makhluk yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia memiliki tubuh rusa, tetapi dengan bulu seputih salju dan tanduk bercabang yang terbuat dari kristal murni. Matanya berkilauan dengan kecerdasan kuno.
Makhluk itu mendekatiku dengan hati-hati, kepalanya sedikit miring. Ia mengeluarkan suara mendengung rendah, seolah mencoba berkomunikasi.
"Halo?" ujarku ragu-ragu. "Apakah kamu bisa mengerti aku?"
Makhluk itu mengangguk pelan, lalu mengangkat salah satu kaki depannya. Di telapak kakinya, terukir simbol bercahaya yang tampak familier sekaligus asing.
"Simbol apa itu?" gumamku. Aku mencoba mengingat di mana aku pernah melihatnya sebelumnya. Lalu, tiba-tiba, ingatan itu menghantamku seperti sambaran petir. Simbol itu... simbol itu adalah kunci dari artefak kuno yang sedang kupelajari di perpustakaan sebelum aku terlempar ke sini. Artefak yang dikatakan sebagai portal ke dunia lain – Aetheria.
"Aetheria?" bisikku, menatap makhluk itu dengan tak percaya. "Aku... aku di Aetheria?"
Makhluk itu mengangguk lagi, lalu menundukkan kepalanya, seolah memberi isyarat agar aku mengikutinya. Tanpa ragu, aku menurut. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tersesat, sendirian, dan terjebak di dunia asing. Makhluk ini mungkin satu-satunya harapanku.
Kami berjalan melalui hutan perak untuk waktu yang terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, kami tiba di sebuah lembah yang dikelilingi oleh air terjun kristal. Di tengah lembah, berdiri sebuah kota yang berkilauan, terbuat dari batu putih dan emas. Bangunan-bangunannya menjulang tinggi, dihiasi dengan ukiran-ukiran rumit yang tampak seperti makhluk mitos dan simbol-simbol kuno.
"Kota apa itu?" tanyaku, terpesona oleh pemandangan itu.
Makhluk itu menoleh ke arahku, matanya dipenuhi kesedihan. Ia mengeluarkan suara mendengung yang terdengar seperti peringatan.
Tiba-tiba, dari balik salah satu bangunan tertinggi, muncul kilatan cahaya. Kemudian, suara ledakan yang memekakkan telinga mengguncang lembah. Tanah bergetar, dan air terjun kristal runtuh, mengirimkan pecahan-pecahan es yang mematikan ke segala arah. Di langit, aku melihat sesuatu yang mengerikan – naga hitam raksasa, dengan mata merah membara dan napas api yang menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya. Kota itu diserang.
Makhluk rusa itu mendorongku ke tanah, melindungiku dengan tubuhnya. Aku bisa merasakan panas napas naga itu di punggungku. Saat debu dan puing-puing mulai mereda, aku melihat makhluk itu terbaring tak bergerak di atasku. Darahnya menetes ke wajahku. Ia telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku.
Dengan amarah dan keputusasaan yang baru ditemukan, aku bangkit berdiri. Aku menatap naga itu dengan tatapan menantang. Aku, Raden, seorang mahasiswa arkeologi yang tersesat, akan melakukan apa pun untuk membalas dendam dan menemukan jalan pulang. Tapi pertama-tama, aku harus bertahan hidup.