Cincin di Jari Manis, Jerat di Hati?
Chapter 1 — Cincin di Jari Manis, Jerat di Hati?
Gelas kristal itu nyaris terlepas dari jemariku yang gemetar. Cairan sampanye mahal tumpah, membasahi gaun sutra berwarna krem yang kurancang khusus untuk malam ini. Malam pertunangan yang seharusnya menjadi awal bahagia, justru terasa seperti vonis mati.
“Kamu yakin, Elara?” bisik sahabatku, Lina, suaranya nyaris tak terdengar di tengah hiruk pikuk pesta. Matanya yang besar menatapku penuh kekhawatiran. “Masih ada waktu untuk lari.”
Lari? Ke mana? Pertanyaan itu berputar-putar di benakku seperti kaset rusak. Lari dari hutang keluarga yang menggunung? Lari dari perusahaan ayah yang di ambang kebangkrutan? Lari dari perjodohan yang menjadi satu-satunya jalan keluar?
Aku menggeleng lemah. “Tidak ada pilihan lain, Lina. Ayah sudah menandatangani perjanjiannya.”
Malam ini, di ballroom mewah Hotel Bintang Timur yang berkilauan, aku, Elara Kamila, 24 tahun, seorang desainer interior yang bercita-cita tinggi, akan bertunangan dengan Reynard Firmansyah, 35 tahun, pewaris tunggal Firmansyah Group, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Pertunangan ini bukan didasari cinta, melainkan kesepakatan bisnis yang dingin dan kalkulatif.
Keluargaku, keluarga Kamila, dulunya adalah salah satu keluarga terpandang di Jakarta. Namun, serangkaian investasi buruk dan gaya hidup boros ayahku telah membawa kami ke jurang kebangkrutan. Hutang kami menumpuk, mengancam untuk merampas semua yang kami miliki.
Firmansyah Group menawarkan solusi. Sebuah pinjaman besar, dengan syarat yang sangat berat: aku harus menikahi Reynard. Sebuah pernikahan yang diatur, tanpa cinta, tanpa harapan, hanya demi menyelamatkan nama baik keluarga dan harta benda kami.
Aku melirik Reynard yang berdiri di ujung ruangan, dikelilingi para pengusaha dan politisi yang menjilat. Wajahnya tampan, tegas, dengan rahang yang kokoh dan mata abu-abu yang dingin. Dia adalah sosok yang disegani, dihormati, dan ditakuti. Seorang pria yang memiliki segalanya, kecuali cinta.
Kami bertemu beberapa kali sebelum malam ini. Pertemuan-pertemuan singkat dan formal, di mana kami membahas detail pernikahan dan kesepakatan bisnis. Dia memperlakukanku dengan sopan, namun tanpa kehangatan. Matanya tidak pernah menunjukkan ketertarikan, apalagi cinta. Aku hanyalah sebuah aset baginya, sebuah bagian dari rencana bisnisnya yang besar.
“Elara, sudah waktunya,” bisik ibu, menarikku dari lamunan. Wajahnya tegang, namun matanya berbinar penuh harapan. Dia percaya bahwa pernikahan ini akan membawa kebaikan bagi keluarga kami. Dia tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, tentang pengorbanan yang harus kulakukan.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Aku harus kuat. Aku harus melakukan ini untuk keluargaku. Aku harus menerima nasibku.
Dengan langkah berat, aku berjalan menuju Reynard. Musik klasik mengalun lembut, mengiringi langkahku yang terasa seperti menuju altar eksekusi. Setiap mata tertuju padaku, menilaiku, mengagumiku, atau bahkan mencemoohku. Aku hanyalah boneka di atas panggung, memainkan peran yang telah ditentukan.
Reynard menyambutku dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Dia meraih tanganku dan mencium punggung tanganku dengan formalitas yang dingin. Sentuhannya membuatku merinding, bukan karena kegembiraan, melainkan karena ketakutan.
“Selamat malam, Elara,” sapanya dengan suara bariton yang dalam. Suaranya terdengar dingin dan tanpa emosi.
“Selamat malam, Reynard,” jawabku dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Acara pertunangan berjalan seperti yang diharapkan. Pidato-pidato klise, ucapan selamat yang hambar, dan senyum-senyum palsu. Aku merasa seperti berada di dunia lain, dunia di mana cinta dan kebahagiaan tidak berarti apa-apa.
Saat Reynard memasangkan cincin berlian di jari manisku, aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kebahagiaan, bukan pula penyesalan. Melainkan sebuah perasaan yang aneh dan tidak menyenangkan. Seolah-olah cincin itu bukan hanya sekadar perhiasan, melainkan sebuah jerat yang mengikatku selamanya.
Setelah acara pertunangan selesai, Reynard membawaku ke balkon hotel yang menghadap ke kota Jakarta yang gemerlap. Angin malam bertiup sepoi-sepoi, membawa serta aroma parfum mahal dan asap rokok.
“Terima kasih sudah menerima lamaranku, Elara,” kata Reynard, memecah kesunyian.
“Sama-sama, Reynard,” jawabku singkat.
“Aku tahu ini bukan pernikahan yang ideal,” lanjutnya, menatap lurus ke arahku. “Tapi aku janji akan memberikanmu kehidupan yang layak. Kamu tidak akan kekurangan apapun.”
“Itu sudah cukup,” jawabku, mencoba menyembunyikan kekecewaanku.
“Ada satu hal yang perlu kamu tahu,” kata Reynard, suaranya tiba-tiba berubah serius. “Pernikahan ini… bukan hanya sekadar kesepakatan bisnis.”
Aku menatapnya dengan bingung. Apa maksudnya?
“Ada alasan lain di balik pernikahan ini,” lanjutnya, mendekatiku. “Alasan yang tidak bisa kuceritakan sekarang.”
“Alasan apa?” tanyaku penasaran.
Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Lalu, dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik,
“Alasan yang akan mengubah hidupmu selamanya.”
Sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, dia menjauh dariku dan tersenyum misterius. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. Apa yang dia sembunyikan? Apa rahasia di balik pernikahan ini? Dan bagaimana rahasia itu akan mengubah hidupku selamanya?
Malam itu, aku kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Kebahagiaan, ketakutan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu. Aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Pernikahan ini akan membawaku ke dunia yang baru, dunia yang penuh dengan rahasia dan intrik. Dunia yang mungkin akan menghancurkanku.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan perasaan aneh. Ada yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin. Saat itulah aku menyadarinya.
Cincin pertunangan itu… hilang dari jari manisku.