Takdir yang Terukir di Bintang

Chapter 1 — Bab 1: Takdir yang Terukir di Bintang

Debu bintang menari-nari di hadapanku, sebuah pusaran kosmik yang tak terbayangkan sebelumnya. Aku, Arion, seorang mahasiswa arkeologi yang lebih akrab dengan debu buku dan artefak kuno, kini terdampar di tengah keajaiban—atau mungkin kengerian—ini.

Cahaya redup dari nebula yang jauh menyinari dataran tandus di sekitarku. Tanahnya retak dan kering, dihiasi kristal-kristal aneh yang berkilauan seperti permata. Udara berbau ozon dan logam, tajam dan asing di hidungku. Di kejauhan, menjulang struktur-struktur batu raksasa yang bentuknya tak bisa kupahami, seolah-olah dibangun oleh tangan-tangan dewa yang sudah lama terlupakan.

Beberapa jam yang lalu—atau mungkin beberapa hari, waktu terasa kabur di tempat ini—aku sedang berada di perpustakaan kampus, meneliti manuskrip kuno tentang legenda portal antar dimensi. Aku ingat sebuah simbol aneh, sebuah lingkaran dengan tiga cabang yang memancar keluar. Aku menggambarnya di atas kertas, tanpa menyangka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Simbol itu mulai bersinar, cahaya biru menyilaukan memenuhi ruangan. Lalu, kegelapan. Dan sekarang, aku di sini. Di mana 'di sini' ini, aku tidak tahu. Tapi yang jelas, ini bukan Bumi.

Aku meraba saku celanaku, mencari ponselku. Tentu saja, tidak ada sinyal. Selain itu, ponselku sudah hancur berkeping-keping akibat benturan saat aku terlempar ke dunia ini. Yang tersisa hanyalah dompetku, berisi kartu identitas mahasiswa dan beberapa lembar uang kertas yang tak berguna di tempat ini.

Aku menghela napas. Arkeolog sejati tidak pernah menyerah. Aku harus mencari tahu di mana aku berada, dan bagaimana caranya untuk kembali.

Aku mulai berjalan menuju struktur batu raksasa di kejauhan. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah gravitasi di tempat ini berbeda. Kristal-kristal di tanah berderit di bawah kakiku, menciptakan suara aneh yang membuat bulu kudukku merinding.

Tiba-tiba, aku mendengar suara gemerisik di belakangku. Aku berbalik, dan jantungku berdegup kencang. Di antara bebatuan, muncul makhluk aneh. Tingginya sekitar satu meter, dengan kulit bersisik hijau dan mata merah menyala. Ia memiliki cakar tajam di tangan dan kakinya, dan dari mulutnya menyembur desisan yang menakutkan.

Makhluk itu bukan satu-satunya. Di belakangnya, muncul lagi dua, lalu tiga, lalu semakin banyak. Mereka mengelilingiku, membentuk lingkaran yang semakin mengecil.

Aku tahu, aku dalam masalah besar. Aku tidak punya senjata, tidak punya kekuatan super, tidak punya apa-apa selain keberanian seorang arkeolog yang terdampar di dunia asing. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan melawan.

Aku mengambil batu terbesar yang bisa kuraih dan bersiap untuk menghadapi makhluk-makhluk itu. Tapi sebelum aku sempat menyerang, sebuah suara bergema di kepalaku. Suara itu tidak menggunakan kata-kata, tapi lebih seperti perasaan, sebuah dorongan yang kuat.

*Jangan melawan. Ikut aku.*

Aku tertegun. Siapa yang berbicara denganku? Dan mengapa aku harus mempercayai mereka?

Namun, sebelum aku sempat memutuskan, sebuah cahaya terang muncul di hadapanku. Cahaya itu berbentuk portal, berputar-putar dengan energi yang mempesona. Di baliknya, aku melihat siluet sosok berjubah, melambai ke arahku.

Makhluk-makhluk bersisik itu tampak ragu, seolah-olah takut pada cahaya itu. Inilah kesempatanku. Aku harus mengambilnya.

Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju portal itu, meninggalkan makhluk-makhluk itu di belakangku. Aku melompat ke dalam cahaya, dan dunia di sekitarku menghilang.

Aku jatuh, jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, atau apa yang menungguku di sana. Tapi satu hal yang pasti: hidupku tidak akan pernah sama lagi.