Sumpahan Villa

Chapter 1 — Jerat Dendam Di Villa Dahlia

"Jangan lari, Tihani!" Suara itu, garau dan mengancam, bergema di segenap ruang Villa Dahlia. Peluh dingin membasahi dahi Tihani. Malam ini, malam yang sepatutnya menjadi saksi cintanya, bertukar menjadi mimpi ngeri.

Tihani Adelia, gadis berusia 23 tahun, terjebak dalam dunia yang tidak pernah dia impikan. Dulu, hidupnya hanyalah tentang kuliah, teman-teman, dan impian sederhana. Kini, dia menjadi bidak dalam permainan berbahaya keluarga mafia terkemuka di Kuala Lumpur.

Empat bulan yang lalu, Tihani bertemu dengan Tengku Rizwan, pewaris tunggal keluarga Razak, di sebuah acara amal. Tengku Rizwan, dengan ketampanan yang memukau dan karisma yang memikat, berhasil mencuri hatinya. Mereka menjalin cinta yang membara, cinta yang Tihani yakini akan kekal abadi. Namun, kebahagiaan itu ternyata semu.

"Aku cintakan kau, Tihani. Sudi tak kau jadi isteri aku?" Lamaran Tengku Rizwan di bawah langit Kuala Lumpur yang bertaburan bintang terasa seperti mimpi. Tihani tanpa ragu menerima. Dia tidak tahu, di balik senyuman manis Tengku Rizwan, tersembunyi rahsia gelap yang mampu menghancurkan hidupnya.

Sejak hari itu, Tihani perlahan-lahan memasuki dunia Tengku Rizwan. Dunia yang penuh dengan kemewahan, kekuasaan, dan juga kekejaman. Dia diperkenalkan kepada ahli keluarga Razak, orang-orang yang berwajah dingin dan menyimpan rahsia dalam setiap tatapan.

"Tihani, keluarga kami mementingkan tradisi. Kamu harus belajar menyesuaikan diri," ujar Puan Sri Aminah, ibu Tengku Rizwan, dengan nada yang sukar ditafsir. Tihani mengangguk, berusaha memahami. Namun, dia merasa ada sesuatu yang tidak kena. Aura di sekeliling keluarga Razak terasa berat dan menekan.

Kejanggalan semakin terasa ketika Tihani mengetahui bisnis keluarga Razak yang sebenarnya. Bukan sekadar perusahaan properti dan investasi, tetapi juga sindikat narkoba dan perjudian. Tengku Rizwan, yang dulu tampak sempurna, ternyata adalah pemimpin mafia yang kejam.

"Aku terpaksa, Tihani. Ini adalah tanggung jawabku," kata Tengku Rizwan, menjelaskan dengan nada menyesal. "Aku akan melindungimu. Percayalah padaku."

Tihani berusaha mempercayai Tengku Rizwan, tetapi hatinya diliputi keraguan. Dia terjebak di antara cinta dan ketakutan. Cinta kepada Tengku Rizwan, dan ketakutan terhadap dunia yang dia geluti.

Malam ini, ketakutan itu menjadi kenyataan. Tihani tidak sengaja mendengar perbualan antara Tengku Rizwan dan seorang lelaki yang tidak dikenali. Perbualan tentang pengkhianatan, pembunuhan, dan rencana jahat yang melibatkan dirinya.

"Tihani adalah kelemahan kita. Kita harus menyingkirkannya," kata lelaki itu, suaranya sinis.

Hati Tihani hancur berkeping-keping. Orang yang dia cintai, orang yang dia percayai, ternyata ingin membunuhnya. Tanpa berpikir panjang, Tihani berlari. Dia harus menyelamatkan diri.

Dia berlari menyusuri lorong-lorong Villa Dahlia yang mewah namun menakutkan. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal. Dia mendengar langkah kaki mengejarnya. Mereka tidak akan membiarkannya lolos.

Tihani tiba di ruang kerja Tengku Rizwan. Pintu terkunci. Dia mencoba mendobraknya, tetapi tidak berhasil. Air mata mulai membasahi pipinya. Dia terperangkap.

Tiba-tiba, dia melihat sebuah bingkai foto di atas meja. Foto dirinya dan Tengku Rizwan saat mereka masih bahagia. Di belakang foto itu, terdapat sebuah kunci kecil. Kunci apa ini?

Tanpa berpikir panjang, Tihani mengambil kunci itu dan mencobanya di lubang kunci lemari besi yang tersembunyi di balik rak buku. Ajaib! Kunci itu cocok.

Lemari besi terbuka. Di dalamnya, terdapat sebuah pistol dan sebuah amplop coklat besar. Tihani mengambil pistol itu, tangannya gemetar. Dia tidak pernah memegang senjata sebelumnya.

Dia membuka amplop itu. Isinya adalah dokumen-dokumen penting tentang bisnis haram keluarga Razak. Bukti yang bisa menjatuhkan mereka semua.

"Tihani! Buka pintu ini!" Suara Tengku Rizwan semakin dekat. Dia sudah menemukannya.

Tihani memegang pistol itu erat-erat. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus melawan. Dia harus melindungi diri.

Pintu ruang kerja didobrak. Tengku Rizwan berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam karena marah. Di belakangnya, berdiri beberapa pengawal bersenjata.

"Tihani, jangan lakukan hal bodoh. Serahkan pistol itu," kata Tengku Rizwan, nadanya dingin.

Tihani menatap Tengku Rizwan dengan air mata berlinang. "Kenapa, Rizwan? Kenapa kau ingin membunuhku?"

Tengku Rizwan terdiam sejenak. "Aku terpaksa, Tihani. Ini semua demi keluarga."

"Keluarga? Atau kekuasaan?" bentak Tihani, suaranya bergetar.

Tengku Rizwan tidak menjawab. Dia memberi isyarat kepada pengawalnya. Mereka maju mendekat.

Tihani mengangkat pistol itu, mengarahkannya ke Tengku Rizwan. "Jangan mendekat! Aku akan menembak!"

Suasana menjadi tegang. Semua orang terdiam. Tengku Rizwan menatap Tihani dengan tatapan yang sukar ditafsir. Antara cinta dan kebencian.

Tiba-tiba, lampu di seluruh Villa Dahlia padam. Suasana menjadi gelap gulita. Hanya suara napas yang terdengar.

Dalam kegelapan itu, Tihani merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya. Sebuah pisau.

"Jangan bergerak," bisik sebuah suara di telinganya. "Atau aku akan membunuhmu."

Siapakah gerangan yang mengancam Tihani dalam kegelapan itu? Dan apakah Tengku Rizwan benar-benar tega membunuh wanita yang dicintainya? Malam ini, di Villa Dahlia, takdir Tihani akan ditentukan.