Aroma Pahit Kopi Pertama
Chapter 1 — Aroma Pahit Kopi Pertama
Aroma kopi yang terbakar adalah cara Renata memulai harinya – dan hari ini, aroma itu lebih menyengat dari biasanya. Bukan karena ia lupa mematikan kompor (lagi), tapi karena aroma itu mengingatkannya pada Damian, si pemilik kedai kopi sebelah yang menyebalkan.
Renata menghela napas, menatap etalase kue-kue buatannya di "Manisnya Renata," toko kue kecil yang menjadi sumber kebanggaannya. Toko itu adalah hasil kerja kerasnya, keringat dan air mata, dan sekarang, ancaman itu datang dalam bentuk kedai kopi modern dengan desain minimalis yang baru dibuka di seberang jalan.
"Damian's Daily Dose." Bahkan namanya saja sudah membuat Renata ingin muntah. Sejak kedai itu buka dua minggu lalu, pelanggannya berkurang drastis. Orang-orang lebih memilih kopi kekinian dan suasana 'instagramable' daripada kue-kue klasik dan teh hangat khas Renata.
Renata meraih lap dan mulai membersihkan meja, berusaha mengabaikan dentuman musik dari seberang jalan. Ia melirik jam dinding. Pukul tujuh pagi. Sebentar lagi, Damian pasti muncul dengan senyum menyebalkannya, seolah tidak bersalah telah merebut semua pelanggannya. Renata membayangkan wajah Damian; tampan, harus diakui, dengan rambut hitam legam dan mata tajam yang selalu tampak mengejek. Tapi ketampanan itu tidak bisa menutupi sifatnya yang licik dan ambisius.
Pintu toko berdering, membuyarkan lamunan Renata. Ia mengangkat kepala, siap menyambut pelanggan dengan senyum manis, tapi yang berdiri di ambang pintu adalah...Damian sendiri. Ia bersandar di ambang pintu, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, senyum miring menghiasi bibirnya.
"Selamat pagi, Renata," sapanya dengan suara yang—sial—terdengar sangat merdu. "Kudengar kue-kue di sini enak. Boleh aku mencoba satu? Gratis, tentu saja, sebagai bentuk 'perdamaian' antara kita."