Bisikan dari Katedral Tua
Chapter 1 — Bab 1: Bisikan dari Katedral Tua
Kabut merayap dari rawa-rawa Ebon, menelan Katedral Saint Sepulchre dalam pelukannya yang dingin dan basah. Di dalam, suara organ yang memilukan bergema, satu-satunya melodi yang menemani kesunyian abadi milik kota Aethelburg.
Aku, Mordecai Blackwood, berdiri di depan altar yang ternoda darah, ujung jariku mengikuti ukiran rumit salib terbalik. Udara di sini tebal dengan bau dupa dan pembusukan, campuran aneh yang telah menjadi rumah bagiku. Sebagai seorang necromancer—profesi yang dijauhi dan ditakuti—aku dipanggil ke kota terkutuk ini untuk memecahkan misteri kematian Uskup Alaric yang mengerikan.
"Anda seorang yang terakhir," kata suara serak di belakangku. Aku berbalik untuk melihat seorang pria kurus dengan jubah compang-camping, wajahnya tersembunyi di balik kerudung. Dia adalah Brother Silas, satu-satunya biarawan yang tersisa di katedral yang sepi ini.
"Terakhir dari apa?" tanyaku, suaraku bergaung dari dinding batu.
"Dari mereka yang bisa mendengar bisikan orang mati," jawabnya, "Uskup Alaric... dia mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar."
Aku mendengus. "Semua orang mati berbisik, Brother. Pekerjaanku adalah menyaring kebisingan."
"Tapi bisikan ini berbeda, Tuan Blackwood. Itu... korosif. Itu merusak jiwanya, mengubahnya menjadi cangkang dari dirinya yang dulu sebelum akhirnya membunuhnya."
Aku mendekati tubuh Uskup Alaric, yang terbaring di peti mati terbuka di depan altar. Wajahnya membeku dalam ekspresi teror yang mengerikan, matanya melotot lebar seolah-olah menyaksikan horor dari dunia lain. Aku meletakkan tanganku di dahinya yang dingin, memejamkan mata, dan memfokuskan pikiranku. Aku menjangkau dunia orang mati, mencari sisa-sisa kehadiran uskup.
Biasanya, ada jejak energi yang tersisa, sisa-sisa emosi dan pikiran yang menempel di dunia fisik. Tapi kali ini, ada kekosongan. Tidak ada apa-apa. Seolah-olah jiwa Uskup Alaric telah dilenyapkan, dihapus dari keberadaan.
"Tidak ada apa-apa," kataku, membuka mata. "Dia hilang."
Brother Silas terisak. "Lalu kutukan itu benar adanya."
"Kutukan apa?" tanyaku.
"Kutukan Aethelburg. Dikatakan bahwa siapa pun yang mengganggu tidur dari 'Yang Terbaring di Bawah' akan dihukum dengan kematian yang mengerikan."
Aku mencibir. "Kutukan hanyalah cerita untuk menakut-nakuti orang bodoh."
"Ini lebih dari sekadar cerita, Tuan Blackwood. Kota ini dibangun di atas makam kuno, tempat makhluk mengerikan yang dilupakan terkunci berabad-abad yang lalu. Uskup Alaric pasti telah menemukan sesuatu yang seharusnya dia tinggalkan."
Aku menatap tubuh Uskup Alaric lagi, ekspresi terornya sekarang tampak lebih meresahkan daripada sebelumnya. Aku tidak percaya pada kutukan, tetapi aku tidak bisa menyangkal fakta bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi di sini. Sesuatu yang melampaui pemahaman rasional.
"Tunjukkan padaku di mana Uskup Alaric menghabiskan waktunya," kataku kepada Brother Silas. "Mungkin kita bisa menemukan petunjuk tentang apa yang dia temukan."
Brother Silas mengangguk dan membawaku keluar dari katedral dan ke labirin jalanan sempit yang membentuk Aethelburg. Rumah-rumah di sini tinggi dan ramping, bersandar satu sama lain seolah-olah berbisik rahasia gelap. Udara terasa berat dengan rasa takut dan putus asa, seolah-olah kota itu sendiri sedang berduka.
Kami tiba di sebuah rumah yang bobrok di ujung kota. Itu adalah rumah Uskup Alaric, tempat dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan berdoa. Brother Silas membuka pintu, dan kami masuk ke dalam. Rumah itu gelap dan berdebu, dipenuhi dengan buku-buku dan artefak kuno. Sebuah meja besar berdiri di tengah ruangan, ditutupi dengan perkamen, pena bulu, dan botol tinta. Di dinding, tergantung permadani besar yang menggambarkan adegan mengerikan dari neraka.
Saat aku melihat-lihat meja, aku melihat sebuah buku harian yang tersembunyi di bawah tumpukan perkamen. Aku membukanya dan mulai membaca. Itu ditulis dalam bahasa Latin, tetapi aku dapat menguraikan kata-katanya. Uskup Alaric telah mempelajari legenda tentang 'Yang Terbaring di Bawah' dan telah menjadi terobsesi untuk menemukannya. Dia percaya bahwa itu adalah kunci untuk membuka kekuatan besar, kekuatan yang dapat mengubah dunia.
Di halaman terakhir buku harian itu, aku menemukan sebuah entri yang membuat darahku menjadi dingin:
*Aku telah menemukan lokasinya. Di bawah katedral, di ruang bawah tanah yang terlupakan. Aku akan turun besok malam. Semoga Tuhan mengampuni jiwaku.*
Tiba-tiba, suara pintu berderit menutup di belakang kami. Aku berbalik dan melihat Brother Silas berdiri di ambang pintu, wajahnya terdistorsi menjadi seringai yang mengerikan.
"Maafkan aku, Tuan Blackwood," katanya, suaranya sekarang dalam dan tidak alami. "Tapi 'Yang Terbaring di Bawah' tidak boleh diganggu. Dan Anda... Anda tahu terlalu banyak."
Dia mengangkat belati berkarat. Matanya bersinar merah menyala.