Ciuman di Bawah Hujan Darah

Chapter 1 — Ciuman di Bawah Hujan Darah

Darah membasahi bibirnya, bukan miliknya. Rasa logam yang pahit bercampur dengan hujan deras yang mencambuk wajahnya. Cempaka mencengkeram erat kerah jas mahal pria itu, memaksa ciuman yang seharusnya terasa romantis menjadi pertarungan hidup dan mati.

Lima menit lalu, Cempaka Permana hanyalah seorang mahasiswa seni yang terlambat mengikuti kelas patung. Sekarang, dia terjebak di tengah baku tembak antar keluarga mafia yang paling ditakuti di Dian, dan satu-satunya pelindungnya adalah Angelo Utomo, pewaris tahta keluarga Utomo yang terkenal kejam.

"Diam!" desis Angelo di sela-sela ciuman paksa itu. Suaranya rendah dan mengancam, namun Cempaka merasakan sedikit getaran di balik nada dinginnya. Peluru terus berdesingan di sekitar mereka, memecahkan jendela mobil limosin yang mereka gunakan sebagai perlindungan.

Cempaka tidak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi seperti ini. Dia dibesarkan di panti asuhan kecil di Palermo, tidak tahu apa-apa tentang dunia kejam yang kini mengancam nyawanya. Impiannya sederhana: menyelesaikan kuliah, menjadi pematung terkenal, dan mungkin, suatu hari nanti, menemukan keluarganya.

Namun, takdir punya rencana lain. Saat berjalan melewati gang sempit untuk menghindari keramaian pasar, dia tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan brutal yang dilakukan oleh anggota keluarga rival Utomo. Sekarang, dia menjadi saksi kunci, dan kedua keluarga mafia itu menginginkan dia mati.

Angelo Utomo, dengan mata hitam legam dan rahang tegasnya, adalah satu-satunya yang bisa melindunginya. Tapi perlindungan darinya datang dengan harga yang mahal. Cempaka bisa merasakan aura kekuasaan dan bahaya yang terpancar dari pria itu. Dia adalah iblis dalam balutan jas mahal, dan Cempaka tidak tahu apakah dia bisa mempercayainya.

"Kita harus pergi dari sini," kata Angelo, melepaskan ciumannya. Mata mereka bertemu, dan Cempaka melihat secercah sesuatu yang tidak bisa dia pahami di balik tatapan dingin Angelo. Mungkin itu rasa ingin tahu, mungkin juga hanya perhitungan. Apapun itu, Cempaka tahu bahwa dia terikat padanya sekarang.

Angelo menarik Cempaka keluar dari mobil, melindunginya dengan tubuhnya saat mereka berlari menuju mobil lain yang menunggu di ujung gang. Sopir melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kekacauan dan mayat di belakang mereka.

"Kenapa kau membantuku?" tanya Cempaka, suaranya bergetar.

Angelo menoleh padanya, senyum tipis bermain di bibirnya. "Kau memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Dan aku tidak suka orang lain memiliki apa yang menjadi milikku."

Cempaka mengerutkan kening. "Aku bukan milikmu."

"Belum," jawab Angelo, matanya menatapnya dengan intens. "Tapi kau akan menjadi milikku."

Mereka tiba di sebuah vila mewah yang terletak di atas bukit, menghadap ke laut Mediterania yang berkilauan. Vila itu dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata, dan Cempaka merasa seperti memasuki sangkar emas.

"Ini akan menjadi rumahmu untuk sementara waktu," kata Angelo, membawanya ke kamar tidur yang luas dengan pemandangan laut yang menakjubkan. "Jangan mencoba melarikan diri. Itu hanya akan membuat segalanya lebih buruk."

Cempaka menatap sekeliling kamar, merasa seperti tahanan. Dia ingin berteriak, ingin melawan, tapi dia tahu bahwa dia tidak punya pilihan. Dia terjebak dalam dunia Angelo Utomo, dunia yang penuh dengan kekerasan, pengkhianatan, dan rahasia gelap.

Saat Angelo berbalik untuk pergi, Cempaka meraih tangannya. "Kenapa aku? Kenapa kau tidak membiarkan mereka membunuhku?"

Angelo berhenti dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Karena kau mengingatkanku pada seseorang," bisiknya. "Seseorang yang sangat penting bagiku."

Dan kemudian, tanpa sepatah kata pun, dia pergi, meninggalkan Cempaka sendirian dengan ketakutan dan pertanyaannya. Siapa orang yang dia ingatkan pada Angelo? Dan apa hubungannya orang itu dengan dunia mafia yang kejam ini? Cempaka merasa bahwa dia baru saja menggaruk permukaan dari misteri yang jauh lebih dalam dan berbahaya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang wanita cantik dengan rambut hitam legam dan gaun merah menyala masuk ke dalam kamar. Matanya menatap Cempaka dengan tatapan dingin dan menghina.

"Jadi, kau gadis yang membuat Angelo tertarik?" kata wanita itu, suaranya tajam seperti pisau. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Angelo Utomo tidak pernah mencintai siapa pun. Dia hanya menggunakan orang."

"Siapa kau?" tanya Cempaka, merasa ngeri.

Wanita itu tersenyum sinis. "Namaku Sofia. Dan aku adalah tunangan Angelo."