Aroma Darah dan Kopi Pahit
Chapter 1 — Aroma Darah dan Kopi Pahit
Bau anyir menusuk hidung, bercampur aroma kopi pahit yang memuakkan. Asyad tersentak bangun, napasnya tersengal. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menyorot wajahnya yang pucat pasi. Di hadapannya, tergeletak sesosok tubuh dengan genangan darah yang semakin meluas di karpet Persia usang.
“Sial!” umpat Asyad, suaranya bergetar. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ia meraba saku celananya, mencari ponselnya dengan tangan gemetar. Harus menghubungi siapa? Polisi? Tidak mungkin. Ibunya akan membunuhnya jika sampai polisi tahu.
Asyad Hinata, 28 tahun, seorang barista di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota Jakarta yang ramai. Kehidupannya jauh dari kata normal. Ia terperangkap dalam jaring-jaring manipulasi dan kekerasan yang dirajut oleh ibunya sendiri, seorang wanita ambisius dengan koneksi ke dunia hitam. Sejak kecil, Asyad telah menjadi pion dalam permainan ibunya, dipaksa untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya.
“Bu, gue gak mau di kontrol dua puluh empat jam sehari. Ibu juga harus berhenti berbuat jahat, gue nggak mau ibu di penjara,” bentaknya beberapa jam lalu, sebelum semua ini terjadi. Ibunya hanya tertawa sinis, meremehkan ancaman Asyad. “Kamu? Melawan Ibu? Jangan mimpi, Asyad. Kamu itu cuma anak kecil yang nggak tahu apa-apa.”
Sekarang, anak kecil itu berdiri di atas mayat seorang pria yang dikenalnya sebagai salah satu kolega ibunya. Pria itu, bernama Ruslan, sering datang ke rumah mereka, membawa amplop cokelat tebal dan senyum licik yang membuat Asyad merinding. Ia selalu menatap Asyad dengan pandangan yang membuat Asyad merasa jijik dan terancam.
Asyad berjongkok, memeriksa denyut nadi Ruslan. Tidak ada. Pria itu sudah meninggal. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Harus berpikir jernih. Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Ibunya pasti akan menyalahkannya. Ibunya selalu menyalahkannya.
Ia membuka mata, menatap sekeliling ruangan. Rumah itu berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di lantai. Asbak penuh dengan puntung rokok. Bau alkohol dan parfum murahan bercampur menjadi aroma yang memuakkan. Di meja, tergeletak sebuah pisau dapur berlumuran darah. Pisau itu… pisau itu milik mereka.
Asyad menyentuh gagang pisau itu. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia ingat, tadi malam ia dan Ruslan terlibat percekcokan sengit. Ruslan mencoba menyentuhnya, lagi. Asyad menolak. Mereka berkelahi. Tapi ia tidak ingat mengambil pisau itu. Ia tidak ingat menusuk Ruslan.
“Apa yang sudah gue lakuin?” bisiknya, suaranya tercekat. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengingat kejadian semalam. Semuanya terasa kabur, seperti mimpi buruk yang tak berujung. Ia ingat minum banyak. Ia ingat berteriak. Ia ingat rasa marah yang membara di dalam dadanya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia membeku, tubuhnya menegang. Siapa itu? Ibunya? Polisi? Atau… seseorang yang lain?
Dengan gerakan cepat, ia menyambar pisau berlumuran darah itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Ia berdiri tegak, mencoba memasang wajah tenang. Pintu kamar terbuka.
Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, matanya membulat karena terkejut. Ia adalah Mira, tetangga sebelah rumah. Wanita itu sering membantu Asyad, memberinya makanan atau sekadar menemaninya minum kopi. Ia tahu sedikit tentang kehidupan Asyad yang kelam. Ia tahu tentang ibunya.
“Asyad… apa yang terjadi di sini?” tanya Mira, suaranya bergetar. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, matanya terpaku pada tubuh Ruslan yang tergeletak di lantai.
Asyad tidak menjawab. Ia hanya menatap Mira dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba, Mira berteriak. Ia menunjuk ke arah tangan Asyad yang memegang pisau berlumuran darah.
“Kamu… kamu membunuhnya?” tanya Mira, suaranya penuh ketakutan. Ia mundur beberapa langkah, menjauhi Asyad.
Asyad menggelengkan kepala. “Gue nggak tahu. Gue nggak inget,” jawabnya, suaranya lirih.
Mira menatap Asyad dengan tatapan tidak percaya. Ia menggelengkan kepala. “Gue… gue harus pergi,” katanya, berbalik dan berlari keluar dari kamar.
Asyad mencoba mengejar Mira, tapi wanita itu sudah menghilang di balik pintu. Ia terdiam, menatap pintu yang terbuka. Ia tahu, ia dalam masalah besar. Sangat besar.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia melihat nama ibunya di layar. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia mengangkat telepon.
“Asyad, kamu di mana? Ibu butuh kamu sekarang,” kata suara ibunya dari seberang telepon. Suaranya terdengar cemas, tidak seperti biasanya.
“Ibu… ada masalah,” jawab Asyad, suaranya bergetar.
“Masalah apa? Cepat katakan!” bentak ibunya.
Asyad menarik napas dalam-dalam. “Ruslan… Ruslan meninggal. Gue… gue nemuin dia udah meninggal di rumah,” katanya, nyaris tidak bersuara.
Terdengar keheningan sesaat dari seberang telepon. Kemudian, ibunya berbicara, suaranya dingin dan menusuk. “Kamu… kamu membunuhnya?”
Asyad terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Asyad! Jawab Ibu!” bentak ibunya, suaranya semakin meninggi.
“Gue… gue nggak tahu,” jawab Asyad, akhirnya.
“Sial! Kamu bodoh! Kamu sudah menghancurkan semuanya!” teriak ibunya. “Dengerin Ibu baik-baik. Kamu harus kabur. Sekarang juga. Jangan sampai polisi menangkap kamu. Ibu akan urus semuanya. Tapi kamu harus pergi sejauh mungkin. Jangan hubungi Ibu. Jangan pernah kembali.”
Klik. Sambungan telepon terputus.
Asyad terdiam, menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Ia tahu, ia sendirian sekarang. Ia harus kabur. Tapi ke mana? Dan bagaimana caranya? Ia tidak punya uang. Ia tidak punya teman. Ia tidak punya siapa-siapa.
Ia melihat ke bawah, ke tubuh Ruslan yang tergeletak di lantai. Ia melihat pisau berlumuran darah di tangannya. Ia melihat bayangannya sendiri di cermin. Ia melihat seorang pembunuh.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan di pintu. Ketukan itu pelan, ragu-ragu. Tapi ketukan itu membuat darahnya membeku.
“Asyad? Ini aku, Rio,” kata sebuah suara dari balik pintu. “Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya.”
Rio? Siapa Rio? Asyad tidak mengenal siapa pun bernama Rio. Siapa dia? Dan bagaimana dia tahu Asyad ada di dalam?
Asyad memegang pisau itu erat-erat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak tahu siapa yang ada di balik pintu itu. Tapi ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.