Aroma Pahit Kopi di Pagi yang Mendung

Chapter 1 — Aroma Pahit Kopi di Pagi yang Mendung

Sentakan keras dari seorang pria yang mendorong bahunya membuat Araina hampir menumpahkan latte-nya yang baru dibeli. "Maaf!" bentak suara bariton itu, sama sekali tidak terdengar menyesal, sebelum menghilang di antara kerumunan pejalan kaki di trotoar Jakarta yang ramai.

Araina menggerutu, mengamati punggung pria itu yang semakin menjauh. Pria itu tinggi, mengenakan setelan abu-abu mahal yang tampak kusut, seolah-olah ia baru saja bangun dari tidur. Rambutnya hitam legam, sedikit berantakan, dan aura ketidaksabaran terpancar dari setiap langkahnya. 'Sombong sekali,' pikir Araina, sambil membersihkan cipratan kopi dari blusnya yang berwarna krem.

Araina bekerja sebagai seorang *content creator* lepas, fokus pada *lifestyle* dan *travel*. Ia membangun karirnya dari nol, dari sekadar menulis blog sederhana hingga akhirnya memiliki ratusan ribu pengikut di media sosial. Pekerjaannya membawanya ke berbagai tempat indah, mencicipi makanan lezat, dan bertemu dengan orang-orang menarik. Namun, hari ini, semua itu terasa jauh, tertutup oleh kekesalan akibat pria tak sopan tadi.

Ia sedang dalam perjalanan menuju sebuah kafe di daerah Kemang, tempat ia akan bertemu dengan klien potensial. Kafe "Senja di Kopi" adalah tempat yang populer di kalangan anak muda Jakarta, dengan desain interior minimalis dan suasana yang nyaman. Araina berharap pertemuan ini akan berjalan lancar, karena ia sangat membutuhkan proyek ini untuk menutupi biaya sewa apartemennya yang semakin meningkat.

Ketika Araina tiba di kafe, ia segera disambut oleh aroma kopi yang kuat dan suara obrolan yang riuh. Ia mencari meja yang telah dipesan sebelumnya dan duduk, sambil menunggu kedatangan kliennya. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai memeriksa email.

Tepat ketika ia hendak membalas sebuah email penting, seorang pria tiba-tiba duduk di kursi depannya. Araina mendongak, dan jantungnya terasa berhenti berdetak. Pria itu adalah pria yang sama yang menabraknya di jalan tadi.

"Maaf membuatmu menunggu," kata pria itu, dengan senyum yang menurut Araina dibuat-buat. "Saya Arkan, dari perusahaan Wiratama Group."

Araina menatap Arkan dengan tatapan tidak percaya. Jadi, pria sombong ini adalah kliennya? Dunia benar-benar penuh kejutan yang tidak menyenangkan. "Araina," jawabnya singkat, berusaha menyembunyikan kekesalannya.

Pertemuan dimulai dengan canggung. Arkan menjelaskan tentang proyek yang ingin dikerjakan, sebuah kampanye promosi untuk produk kopi terbaru mereka. Araina mendengarkan dengan seksama, berusaha bersikap profesional, meskipun dalam hatinya ia ingin sekali menyiramkan kopi ke wajah pria itu.

Arkan terus berbicara tentang visi dan strategi pemasaran mereka, menggunakan istilah-istilah bisnis yang rumit. Araina mencoba untuk tetap fokus, tetapi pikirannya terus melayang pada kejadian di jalan tadi. Bagaimana mungkin ia harus bekerja sama dengan pria yang bahkan tidak bisa meminta maaf dengan tulus?

"Jadi, bagaimana menurutmu, Araina?" tanya Arkan, mengakhiri presentasinya. "Apakah kamu tertarik untuk bekerja sama dengan kami?"

Araina menarik napas dalam-dalam. Ia tahu bahwa proyek ini sangat penting untuk karirnya, tetapi ia juga tidak yakin apakah ia sanggup berurusan dengan Arkan setiap hari. "Saya perlu waktu untuk mempertimbangkannya," jawabnya, berusaha terdengar tenang.

Arkan tersenyum lagi, kali ini senyum yang lebih tulus. "Tentu saja. Saya mengerti. Tapi, saya harap kamu akan membuat keputusan yang tepat."

Setelah pertemuan selesai, Araina berjalan keluar dari kafe dengan perasaan campur aduk. Ia membenci Arkan, tetapi ia juga membutuhkan proyek ini. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Saat ia hendak menyeberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Kaca mobil terbuka, dan Arkan menjulurkan kepalanya keluar.

"Araina, tunggu!" seru Arkan. "Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan padamu."