Malam Sebelum Takdirku Diukir
Chapter 1 — Malam Sebelum Takdirku Diukir
Detak jantungku menggema di telingaku, lebih keras dari dentuman musik klasik yang memenuhi ballroom mewah ini. Malam ini, di tengah kilauan lampu kristal dan gaun-gaun sutra yang berdesir, hidupku akan berubah selamanya.
Aku, Elara Wijaya, berdiri mematung di dekat jendela besar, memandang hamparan lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan. Lampu-lampu itu, seperti harapan yang dulu pernah kupupuk, kini tampak redup dan tak berarti. Besok, aku akan menikah dengan Adrian Prasetyo, pewaris tunggal Prasetyo Group, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Pernikahan ini, bukan tentang cinta, melainkan tentang menyelamatkan perusahaan ayahku dari kebangkrutan.
“Elara, sayang? Kau di sini?” Suara lembut Ibu memecah lamunanku. Aku berbalik, tersenyum tipis. Ibu tampak anggun dalam balutan gaun brokat berwarna champagne, namun matanya menyimpan kekhawatiran yang sama dengan yang kurasakan.
“Iya, Bu. Aku hanya sedikit gugup,” jawabku, mencoba menenangkan diri. Gugup? Itu adalah understatement terbesar abad ini. Aku merasa seperti seekor domba yang digiring menuju jurang.
Ibu mendekat, menggenggam tanganku. “Ibu tahu ini berat untukmu, Nak. Tapi percayalah, Adrian adalah pria yang baik. Dia akan menjagamu.”
Kata-kata Ibu terasa hambar. Aku tidak meragukan bahwa Adrian adalah pria yang baik. Aku hanya meragukan bahwa kebaikan itu cukup untuk menggantikan cinta. Aku tidak mengenal Adrian. Kami hanya bertemu beberapa kali dalam acara-acara formal, dan setiap kali itu pula, aku merasa seperti sedang berinteraksi dengan sebuah robot yang diprogram untuk bersikap sopan dan ramah.
“Aku tahu, Bu,” balasku lirih, berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
“Nanti malam, keluarga Prasetyo akan datang untuk makan malam. Bersikaplah sopan dan tunjukkan bahwa kau adalah wanita yang pantas untuk Adrian,” pesan Ibu, dengan nada yang sedikit lebih tegas. Aku mengangguk, meskipun dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dimaksud dengan ‘wanita yang pantas’ itu? Apakah itu berarti aku harus menjadi boneka yang patuh, yang hanya mengangguk dan tersenyum setiap kali Adrian berbicara?
Malam itu, meja makan panjang di rumah kami ditata dengan mewah. Piring-piring porselen antik, gelas-gelas kristal yang berkilauan, dan rangkaian bunga segar yang memenuhi ruangan dengan aroma yang memabukkan. Ayah duduk di ujung meja, wajahnya tegang dan pucat. Di sampingnya, Ibu berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun aku tahu bahwa di dalam hatinya, ia juga merasakan kecemasan yang sama.
Pintu ruang makan terbuka, dan keluarga Prasetyo masuk. Di barisan depan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan ekspresi dingin di wajahnya. Itu adalah Bapak Prasetyo, kepala keluarga Prasetyo Group. Di sampingnya, seorang wanita yang anggun dan elegan, Ibu Prasetyo. Dan di belakang mereka, Adrian, pria yang akan menjadi suamiku besok.
Adrian tersenyum padaku, senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan setiap kali kami bertemu. Senyum yang sopan, ramah, namun terasa hampa. Aku membalas senyumnya, berusaha untuk terlihat setenang mungkin.
Makan malam berlangsung dengan formalitas yang kaku. Bapak Prasetyo mendominasi percakapan, membahas tentang bisnis, politik, dan hal-hal lain yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku hanya mengangguk dan tersenyum setiap kali diperlukan, merasa seperti seorang figuran dalam sebuah drama yang bukan milikku.
Setelah makan malam, Bapak Prasetyo meminta untuk berbicara dengan ayahku secara pribadi. Ibu Prasetyo dan Ibu mengajakku ke ruang keluarga, tempat kami duduk dan berbincang tentang hal-hal ringan, seperti gaun pengantin dan dekorasi pernikahan. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sopan, namun pikiranku melayang jauh. Aku membayangkan diriku melarikan diri, pergi ke tempat yang jauh, di mana aku bisa bebas dari takdir yang telah ditentukan untukku.
Tiba-tiba, pintu ruang keluarga terbuka, dan Bapak Prasetyo masuk dengan wajah merah padam. Ia menunjuk ke arahku dengan jari telunjuknya, matanya berkilat marah.
“Wanita ini! Dia tidak pantas untuk Adrian!” teriaknya, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Aku terkejut, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang telah kulakukan?
“Pak Prasetyo, apa maksud Bapak?” tanya ayahku, berusaha untuk menenangkan situasi.
“Jangan berpura-pura tidak tahu! Aku tahu semuanya! Aku tahu tentang hutang-hutangmu! Dan aku tahu tentang… hubungan gelap putrimu!”
Aku terkejut. Hubungan gelap? Apa yang ia bicarakan? Aku tidak pernah memiliki hubungan gelap dengan siapapun. Satu-satunya pria yang dekat denganku adalah…
Mataku bertemu dengan mata Adrian. Ia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Ada rasa sakit, kekecewaan, dan… penghinaan?
“Elara, apa benar?” tanya Adrian, suaranya pelan namun menusuk hatiku. Aku menggelengkan kepala, air mata mulai mengalir di pipiku.
“Tidak, Adrian. Itu tidak benar. Aku bersumpah,” jawabku, berusaha meyakinkannya.
Namun, terlambat. Bapak Prasetyo tertawa sinis. “Jangan bodoh, Adrian. Kau pikir aku akan mempercayai wanita ini? Aku punya bukti! Aku punya foto-foto yang membuktikan semuanya!”
Bapak Prasetyo mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya dan melemparkannya ke meja. Adrian mengambil amplop itu dan membukanya. Ia mengeluarkan foto-foto dari dalam amplop dan menatapnya dengan seksama. Semakin lama ia melihat foto-foto itu, semakin pucat wajahnya.
Aku mencoba untuk melihat foto-foto itu, namun Adrian menjauhkan amplop itu dariku. Ia menatapku dengan tatapan yang dingin dan menusuk. Tatapan yang tidak pernah kutemui sebelumnya.
“Siapa dia, Elara?” tanya Adrian, suaranya bergetar.
Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak tahu siapa pria yang ada di foto-foto itu. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tapi, bagaimana mungkin…
Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan. Suara yang sangat kukenal.
“Itu aku, Adrian.”
Semua mata tertuju pada sumber suara. Di ambang pintu, berdiri… Reno, sahabatku sejak kecil. Pria yang selama ini diam-diam kucintai.
Reno berjalan mendekat, menatap Adrian dengan tatapan yang penuh tantangan. “Aku adalah pria yang ada di foto-foto itu, Adrian. Dan Elara… dia mencintaiku.”
Aku membeku. Reno baru saja mengakui perasaannya padaku, di depan calon suamiku dan kedua keluarga kami. Aku tidak tahu harus berkata apa, harus berbuat apa.
Adrian menatapku, menunggu jawabanku. Aku tahu, keputusanku saat ini akan menentukan sisa hidupku. Apakah aku akan mengikuti kata hatiku dan memilih Reno, atau tetap melanjutkan pernikahan yang telah diatur dan menyelamatkan perusahaan ayahku?
Sebelum aku sempat menjawab, Bapak Prasetyo kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun tidak kalah mengancam. “Pernikahan ini tetap akan terjadi. Hutang ayahmu terlalu besar untuk diabaikan. Dan jika kau menolak, Elara… bersiaplah untuk melihat ayahmu bangkrut dan keluargamu hancur.”
Aku terdiam. Terjebak dalam pilihan yang mustahil. Cinta atau keluarga? Kebahagiaanku atau kehancuran ayahku? Di malam sebelum takdirku diukir, aku berdiri di persimpangan jalan, tidak tahu jalan mana yang harus kupilih.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku melihat nama yang tertera di layar: Ayah. Aku mengangkat telepon itu, dengan tangan yang gemetar.
“Halo, Ayah?” sapaku lirih.
“Elara, Nak… perusahaan kita…” Suara ayahku terdengar lemah dan putus asa. “Kita bangkrut, Elara. Kita bangkrut.”
Sambungan telepon terputus. Aku menatap layar ponselku dengan kosong. Kata-kata ayahku terus terngiang di telingaku. Bangkrut. Bangkrut. Bangkrut.
Dan saat itulah, aku tahu. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menikahi Adrian. Aku harus menyelamatkan keluargaku, meskipun itu berarti mengorbankan kebahagiaanku sendiri.
Aku menatap Adrian, air mata kembali mengalir di pipiku. “Aku akan menikahimu, Adrian,” ucapku, dengan suara yang bergetar. “Aku akan menikahimu.”
Namun, sebelum Adrian sempat menjawab, Reno tiba-tiba meraih tanganku dan menarikku keluar dari rumah. Kami berlari, meninggalkan semua kekacauan dan kehancuran di belakang kami. Kami berlari menuju malam, menuju masa depan yang tidak pasti. Apakah ini pelarian yang bodoh? Mungkin. Tapi, setidaknya, untuk saat ini, aku merasa bebas. Bebas dari takdir yang telah ditentukan. Bebas untuk memilih jalanku sendiri.
Kemana Reno membawaku?