Aroma Terlarang di Kedai Kopi Kayla

Chapter 1 — Bab 1: Aroma Terlarang di Kedai Kopi Kayla

Sentuhan bibirnya masih membara di benakku, sebuah dosa manis yang tak seharusnya terjadi. Aku, Berlian Intan, seorang mahasiswi tingkat akhir yang bekerja paruh waktu di Kedai Kopi Kayla, seharusnya tidak pernah terlibat dalam ciuman penuh gairah itu dengan Teguh Pratama, dosen pembimbing skripsiku yang berstatus suami orang.

Kedai Kopi Kayla, dengan lampu temaram dan aroma kopi yang menenangkan, adalah tempat pelarianku. Di sini, aku bisa melupakan sejenak tekanan skripsi dan bayangan masa depan yang suram. Aroma biji kopi arabika yang baru digiling selalu berhasil menenangkan sarafku yang tegang. Setiap sudut kedai ini menyimpan cerita, bisikan-bisikan cinta, dan harapan-harapan yang belum terucap.

Teguh, dengan mata cokelatnya yang teduh dan senyumnya yang menawan, adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dia adalah sosok yang sempurna: cerdas, berkarisma, dan memiliki selera humor yang tinggi. Dia selalu memberikan bimbingan yang konstruktif dan dukungan moral yang membuatku merasa dihargai. Namun, di balik kesempurnaan itu, tersembunyi sebuah rahasia yang bisa menghancurkan hidupku.

Pertemuan pertama kami terjadi saat aku mengajukan proposal skripsi. Dia adalah satu-satunya dosen yang tertarik dengan ideku tentang pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Sejak saat itu, pertemuan kami semakin intens. Diskusi skripsi berubah menjadi obrolan pribadi, dan tanpa sadar, kami terjerat dalam perasaan yang tak seharusnya ada.

Aku tahu bahwa ini salah. Aku tahu bahwa aku sedang bermain api. Istrinya, Salma, adalah wanita yang baik dan ramah. Aku sering melihat mereka berdua di kampus, tampak bahagia dan serasi. Setiap kali melihat mereka, rasa bersalah mencabik-cabik hatiku. Tapi, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Teguh adalah candu yang membuatku ketagihan.

Ciuman itu terjadi setelah sesi bimbingan yang larut malam. Hujan deras mengguyur kota, dan kami terjebak di kampus. Dia menawarkan untuk mengantarku pulang, dan dalam perjalanan, keheningan di antara kami terasa begitu memekakkan telinga. Saat tiba di depan rumahku, dia menatapku dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang penuh hasrat dan kerinduan.

"Berlian," bisiknya dengan suara serak. "Aku... aku tidak bisa menahan perasaanku lagi."

Tanpa menunggu jawabanku, dia mendekat dan menciumku. Ciuman itu awalnya lembut, tapi kemudian berubah menjadi ciuman yang penuh gairah dan kebutuhan. Aku membalas ciumannya dengan segenap hati, melupakan semua konsekuensi yang mungkin terjadi.

Sekarang, setelah ciuman itu, semuanya terasa berbeda. Aku merasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap langkah terasa sakit dan berbahaya. Aku tahu bahwa aku harus menjauhi Teguh, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Dia sudah terlalu dalam masuk ke dalam hatiku.

Pagi ini, aku menerima pesan singkat dari nomor yang tidak kukenal. Isinya hanya satu kalimat, tapi cukup untuk membuatku menggigil ketakutan: "Aku tahu apa yang terjadi antara kau dan Teguh."