Debu Mawar di Gaun Pengantin Usang
Chapter 1 — Debu Mawar di Gaun Pengantin Usang
Detik jarum jam berdentang bagaikan palu godam yang menghantam hatiku. Pukul sebelas malam kurang lima menit. Lima menit menuju hari pernikahannya. Bukan pernikahanku. Pernikahannya dengan pria lain.
Aku, Elara, berdiri di balik pilar marmer megah Balai Samudra, tempat di mana seharusnya aku mengucapkan janji suci sehidup semati dengannya setahun lalu. Sekarang, tempat ini dihiasi bunga-bunga serba putih, lampu kristal berkilauan, dan suara musik klasik yang menyayat kalbu. Semuanya begitu sempurna, kecuali satu hal: pengantin prianya bukan aku.
Setahun lalu, aku adalah Elara yang penuh mimpi. Seorang desainer grafis muda yang bercita-cita membuka studio sendiri. Aku dan Adrian merencanakan semuanya: rumah kecil dengan taman mawar, dua anak lucu, dan masa depan yang penuh cinta. Kami adalah gambaran pasangan ideal, kisah cinta bak dongeng modern yang membuat iri semua orang.
Namun, dongeng itu hancur berkeping-keping dalam semalam. Tepat sebulan sebelum pernikahan kami, Adrian menghilang. Tanpa jejak, tanpa kabar, tanpa penjelasan. Aku mencari ke mana-mana, menghubungi teman-temannya, bahkan menyewa detektif swasta. Semua sia-sia. Adrian seolah ditelan bumi.
Selama setahun itu, aku hidup dalam limbo. Antara harapan dan keputusasaan. Setiap pagi, aku terbangun dengan harapan Adrian akan kembali. Setiap malam, aku tertidur dengan air mata yang membasahi bantal. Aku kehilangan semangat hidup, impianku hancur, dan hatiku terluka begitu dalam hingga rasanya tidak mungkin sembuh.
Dan sekarang, di sinilah aku. Menyaksikan Adrian bersiap mengucapkan janji suci dengan wanita lain. Wanita yang cantik, elegan, dan terlihat sangat bahagia. Wanita yang pantas mendapatkan Adrian yang dulu kukenal.
Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Apa alasan Adrian meninggalkanku? Mengapa dia tidak pernah memberi kabar? Mengapa dia memilih wanita lain? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, tanpa jawaban yang pasti.
Aku melihat Adrian dari kejauhan. Dia tampak gagah dengan setelan jas hitamnya. Senyumnya merekah, matanya berbinar. Dia tidak terlihat seperti pria yang pernah menghancurkan hatiku. Dia terlihat seperti pria yang bahagia.
Aku mengepalkan tanganku. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku tidak bisa membiarkan Adrian melupakan semua janji yang pernah dia ucapkan padaku. Aku tidak bisa membiarkan dia bahagia dengan wanita lain, sementara aku masih berjuang dengan luka yang dia tinggalkan.
Aku berjalan mendekat. Langkahku mantap, meskipun hatiku berdebar kencang. Aku harus berbicara dengannya. Aku harus mendapatkan penjelasan. Aku harus tahu kebenaran, apa pun itu.
Ketika aku semakin dekat, aku melihat seorang wanita paruh baya menghampiri Adrian. Wanita itu memeluknya erat dan berbisik sesuatu di telinganya. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi aku bisa melihat ekspresi Adrian berubah. Senyumnya memudar, matanya berkaca-kaca.
Wanita itu kemudian menunjuk ke arahku. Adrian menoleh dan matanya bertemu dengan mataku. Untuk sesaat, waktu berhenti berputar. Hanya ada aku dan Adrian, di tengah keramaian pesta pernikahan yang meriah.
Ekspresi Adrian berubah lagi. Kali ini, aku melihat ketakutan di matanya. Ketakutan yang begitu mendalam hingga membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Tiba-tiba, wanita paruh baya itu menarik Adrian menjauh dariku. Dia membawanya ke sudut ruangan dan mereka mulai berdebat dengan sengit. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi aku bisa melihat emosi yang meluap-luap di antara mereka.
Aku mencoba mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi seorang pria berbadan tegap menghalangiku. Dia menatapku dengan tatapan tajam dan berkata, "Maaf, Nona. Anda tidak diizinkan berada di sini."
Aku mencoba melawan, tetapi pria itu terlalu kuat. Dia mendorongku keluar dari ruangan dan membanting pintu di depanku. Aku terhuyung ke belakang, mencoba menyeimbangkan diri.
Aku berdiri di sana, di luar ruangan, dengan jantung berdebar kencang. Aku merasa ada sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan cinta. Sesuatu yang berbahaya.
Kemudian, aku mendengar suara teriakan dari dalam ruangan. Teriakan yang begitu keras hingga membuat bulu kudukku merinding. Aku tahu itu suara Adrian. Dan aku tahu, dalam hatiku, bahwa hidupku akan berubah selamanya. Aku mendobrak pintu kembali, dan melihat Adrian tergeletak di lantai, dikelilingi genangan darah.