Debu Mawar di Gaun Pengantin Usang

Chapter 3 — Seruling Bambu dan Bisikan di Balik Dinding

Ponsel masih terasa dingin di genggaman Elara. Suara di seberang sana, serak dan terburu-buru, seolah-olah mencoba menembus dinding tebal antara dirinya dan bahaya yang mengintai. "Jangan percaya Wijaya," bisik suara itu sebelum terputus. Elara menarik napas dalam, berusaha memproses kata-kata terakhir itu. Tuan Wijaya. Ayah Adrian. Pria yang baru saja memintanya pergi, menyuruhnya melupakan Adrian, dan kini dituduh oleh penelepon misterius sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang sebenarnya terjadi di Balai Samudra malam ini?,

Elara menatap pecahan seruling bambu yang masih tergenggam erat di tangannya. Benda ini, seharusnya menjadi bagian dari pertunjukan musik yang meriah, kini menjadi saksi bisu kekacauan. Bentuknya yang unik, dengan ukiran halus, terasa asing namun entah mengapa membangkitkan rasa penasaran yang mendalam. Ia menyelipkannya ke dalam saku jaketnya, sebuah keputusan impulsif namun terasa benar. Ini adalah petunjuknya, satu-satunya yang ia miliki di tengah kebingungan ini.

Ia memutuskan untuk kembali ke kediamannya, sebuah apartemen sederhana yang jauh dari kemewahan keluarga Wijaya. Malam semakin larut, jalanan kota terasa sepi namun tetap saja Elara merasa diawasi. Setiap bayangan di sudut jalan, setiap sorot lampu mobil yang melintas, membuatnya menegang. Peringatan penelepon misterius itu terus terngiang di kepalanya. Siapa dia? Dan mengapa dia memilih untuk membantunya, atau justru menjebaknya?

Di sisi lain kota, di sebuah kamar mewah di rumah sakit swasta, Adrian terbaring lemah. Matanya terpejam, napasnya dangkal. Clara duduk di samping ranjangnya, menggenggam tangan Adrian dengan erat. Air mata masih membasahi pipinya. Ia terus bergumam memanggil nama Adrian, memohon agar suaminya segera sadar. Di sudut ruangan, Tuan Wijaya berdiri tegak, wajahnya keras seperti batu. Matanya menatap kosong ke arah Adrian, namun ekspresinya sulit dibaca. Ia tampak gelisah, sesekali melirik ke arah pintu seolah menunggu seseorang, atau khawatir akan sesuatu.

"Ayah, kita harus melakukan sesuatu," ujar Clara lirih, suaranya bergetar. "Polisi akan datang lagi besok. Mereka akan bertanya banyak hal."

Tuan Wijaya berdeham, suaranya dalam dan berat. "Semua akan baik-baik saja, Clara. Percayakan padaku. Yang terpenting sekarang adalah Adrian pulih." Ia tidak menatap Clara, pandangannya masih tertuju pada putranya.

Clara merasa ada yang aneh dengan sikap mertuanya. Sejak kejadian di pesta, Tuan Wijaya terlihat lebih fokus pada menutupi insiden daripada merawat Adrian. Ia juga seolah enggan membicarakan apa pun yang bisa mengaitkan Adrian dengan masa lalunya, terutama dengan Elara.

Sementara itu, Elara telah tiba di apartemennya. Ia segera menyalakan laptopnya, membuka kembali foto-foto dari ponselnya. Foto Adrian yang tergeletak di lantai, foto potongan seruling bambu yang ia ambil dengan cepat. Ia mencoba mencari pola, mencoba menghubungkan titik-titik yang tampaknya acak. Ia teringat betapa dinginnya sentuhan tangan Adrian saat mereka bertemu di pesta. Seolah-olah ada ketakutan tersembunyi di balik tatapannya.

Ia membuka kembali rekaman percakapan telepon misterius itu. Suara serak itu terdengar lagi, namun kali ini Elara mencoba fokus pada detail yang mungkin terlewat. Di antara napas yang terengah-engah dan suara deru angin, terdengar samar-suara lain. Suara langkah kaki yang berat, seperti seseorang yang sedang bergerak di lingkungan yang asing. Dan kemudian, sebuah dentingan logam yang singkat, seolah sesuatu yang berat terjatuh. Elara menahan napas, mencoba menebak di mana suara itu berasal.

Ia teringat sesuatu. Tuan Wijaya pernah menyebutkan bahwa Adrian memiliki sebuah studio musik rahasia di salah satu vila keluarga di luar kota. Sebuah tempat yang ia gunakan untuk melarikan diri dari tekanan bisnis. Mungkinkah suara itu berasal dari sana? Atau mungkinkah penelepon misterius itu berada di sana saat ini, memberinya petunjuk?

Sebuah ide mulai terbentuk di benak Elara. Ia harus pergi ke vila itu. Ia harus mencari tahu apa yang Tuan Wijaya sembunyikan, dan apa hubungan seruling bambu itu dengan Adrian. Ini adalah keputusannya. Ia tidak akan lagi menjadi korban keadaan. Ia akan mencari kebenaran, demi dirinya sendiri dan demi Adrian yang terluka. Ia mulai mengemasi tas kecil, memasukkan pakaian ganti, ponsel, power bank, dan tentu saja, potongan seruling bambu yang berharga itu.

Saat ia hendak melangkah keluar dari apartemennya, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Pesan itu datang dari nomor tak dikenal, hanya berisi satu kalimat singkat: "Mereka tahu kau punya seruling itu. Segera buang."

Jantung Elara serasa berhenti berdetak. Tangan yang memegang ponselnya gemetar hebat. Siapa 'mereka'? Dan bagaimana mereka bisa tahu? Ia menatap pintu apartemennya, merasa ruangan yang tadinya aman kini terasa seperti jebakan. Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Tiga kali, pelan namun tegas.