Pertemuan di Balik Kaca
Chapter 1 — Pertemuan di Balik Kaca
Debaran jantungku berpacu dengan irama tetesan air hujan yang menghantam jendela kafe. Bukan karena kopi panas yang baru saja kuteguk, tapi karena sosok yang baru saja memasuki tempat ini. Dia. Aldi. Musuh bebuyutanku sejak sekolah menengah, kini berdiri di ambang pintu, matanya mencari tempat duduk.
Kenapa harus di kafe ini? Dari sekian banyak tempat di Jakarta, kenapa dia harus memilih 'Kartika di Kopi', satu-satunya tempat yang memberiku kedamaian setelah seharian berkutat dengan laporan keuangan? Kafe ini adalah bentengku, tempat aku melarikan diri dari hiruk pikuk dunia, dan sekarang, bentengku terancam.
Aku mencoba menyembunyikan diri di balik buku yang kubawa, berharap Aldi tidak menyadari kehadiranku. Kami memiliki sejarah panjang yang penuh dengan persaingan dan pertengkaran. Dimulai dari rebutan peringkat pertama di kelas, hingga insiden memalukan saat pentas seni sekolah. Bayangannya selalu menghantui setiap langkahku.
Namun, sepertinya dewi fortuna tidak berpihak padaku hari ini. Aldi, dengan senyum sinis yang khas, berjalan mendekat ke arah mejaku. Matanya menatapku lekat, seolah tahu bahwa aku sedang berusaha menghindarinya.
"Kebetulan sekali," ucapnya dengan nada mengejek. "Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Karina."
Aku mendengus pelan, menutup buku dengan kasar. "Apa maumu, Aldi?" tanyaku ketus, berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Hanya ingin menyapa teman lama," jawabnya sambil menarik kursi di depanku, tanpa menunggu persetujuanku. "Atau mungkin, musuh lama?"
Aku mendelik tajam ke arahnya. Pertemuan ini adalah bencana. Aku tahu, cepat atau lambat, sesuatu yang buruk akan terjadi. Aura permusuhan di antara kami terlalu kuat untuk diabaikan.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu, Aldi. Aku sibuk," ujarku, mencoba mengakhiri percakapan ini secepat mungkin.
"Sibuk menghindari aku?" sahutnya, semakin membuatku kesal. Dia tahu benar bagaimana cara memancing emosiku.
Sebelum aku sempat membalas ucapannya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang menghampiri meja kami. "Radit, maaf aku terlambat," ucapnya sambil tersenyum manis. Dia kemudian menatapku dengan tatapan menyelidik. "Siapa dia?"
Aldi tersenyum, lalu merangkul wanita itu. "Karina, kenalkan, ini Amanda, tunanganku." Aku tertegun. Tunangan? Sejak kapan Aldi bertunangan? Tatapanku beralih dari Amanda ke Aldi, mencari jawaban. Senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya.
"Karina ini..." Aldi menggantung kalimatnya, menatapku dengan tatapan penuh arti. "...teman lamaku. Sangat lama."