Kabut di Gerbang Malam
Chapter 1 — Bab 1: Kabut di Gerbang Malam
Genta pertama dari lonceng pemakaman itu merobek keheningan, menggantung di udara seperti kain kafan basah. Setiap dentuman adalah janji kematian, undangan ke tarian mengerikan yang selalu berakhir dengan kekalahan. Aku, Corvus Nyx, penjaga terakhir Rumah Malam, merasakan tulang-tulangku bergetar. Bukan karena dingin, tapi karena bisikan kuno yang merayapi dinding-dinding batu.
Rumah Malam berdiri di tebing yang menghadap Laut Acheron, jurang tak berujung tempat kabut abadi berputar-putar. Tempat ini bukan rumah bagi yang hidup. Tempat ini adalah penjara bagi yang mati, dan aku adalah sipirnya. Selama berabad-abad, keluargaku menjaga Gerbang Malam, sebuah celah tipis antara dunia kita dan Alam Bayangan, agar tidak ada entitas jahat yang merayap masuk.
Aku menarik jubah hitamku lebih erat. Udara dipenuhi bau tanah basah dan lilin leleh. Lonceng itu berdentang lagi, kali ini lebih keras, lebih mendesak. Itu bukan lonceng biasa. Itu adalah Lonceng Peringatan, yang hanya berbunyi ketika Gerbang Malam melemah.
Jantungku berdebar kencang. Aku berlari menuruni tangga spiral yang licin, obor di tanganku menari-nari liar. Setiap langkah bergema di aula-aula kosong, memperkuat rasa takut yang mencengkeramku. Rumah Malam dulunya ramai dengan pelayan, sarjana, dan penjaga. Sekarang, hanya aku dan hantu masa lalu yang tersisa.
Aku mencapai ruang bawah tanah, tempat Gerbang Malam berada. Itu bukan gerbang fisik, tetapi serangkaian ukiran rumit di dinding batu, bersinar redup dengan cahaya biru pucat. Ukiran-ukiran itu berdenyut, dan kabut hitam merayap keluar dari celah-celah di antara batu.
"Siapa di sana?" Aku bertanya, suaraku bergetar meskipun aku mencoba terdengar tegas. Tidak ada jawaban, hanya suara angin menderu dan bisikan yang tak terucapkan. Aku mengangkat oborku lebih tinggi, mencoba menembus kegelapan.
Tiba-tiba, sebuah sosok muncul dari kabut. Itu adalah seorang wanita, mengenakan gaun putih compang-camping yang ternoda lumpur dan darah. Wajahnya pucat, matanya cekung dan gelap. Dia tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya.
"Corvus Nyx," katanya, suaranya serak seperti batu yang bergesekan. "Sudah lama sekali."
Aku mundur selangkah. Aku tidak mengenal wanita ini, tetapi ada sesuatu yang mengerikan tentang dirinya, sesuatu yang terasa sangat salah. "Siapa kau? Apa yang kau inginkan?"
Wanita itu tertawa, tawa yang dingin dan tanpa ampun. "Aku adalah bagian dari masa lalumu, Corvus. Bagian yang kau coba lupakan. Aku di sini untuk mengingatkanmu siapa dirimu sebenarnya."
Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Di tangannya, dia memegang sebuah kotak musik kecil yang terbuat dari perak. Kotak musik itu tampak familiar, tetapi aku tidak bisa mengingat dari mana asalnya.
"Ambillah, Corvus," kata wanita itu. "Dengarkan musiknya. Ini akan membawamu kembali."
Aku ragu-ragu. Aku tahu aku seharusnya tidak mengambil kotak musik itu, tetapi ada sesuatu yang memaksa dalam suaranya, sesuatu yang membuatku tidak bisa menolak.
Aku mengulurkan tanganku dan mengambil kotak musik itu. Saat jari-jariku menyentuhnya, sebuah gelombang dingin menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendengar suara gemerisik, dan ruangan itu tiba-tiba menjadi lebih gelap.
Wanita itu tersenyum lebih lebar, dan matanya bersinar merah. "Musik akan dimulai, Corvus. Dan ketika musiknya berakhir, semuanya akan berubah."
Dia menghilang kembali ke dalam kabut, meninggalkan aku sendirian di ruang bawah tanah, memegang kotak musik perak di tanganku. Lonceng Peringatan berdentang lagi, kali ini dengan panik. Aku membuka kotak musik itu, dan sebuah melodi hantu mulai dimainkan. Saat musik itu memenuhi ruangan, aku merasakan sesuatu yang mengerikan terjadi. Di suatu tempat di dalam Rumah Malam, sebuah pintu terbuka. Dan sesuatu yang mengerikan masuk.