Malam di Klub 'Obsesi'
Chapter 1 — Bab 1: Malam di Klub 'Obsesi'
Aroma cerutu mahal dan parfum manis bercampur menjadi satu, memenuhi udara Klub 'Obsesi' seperti kabut tebal. Di tengah hiruk pikuk musik house yang memekakkan telinga, seorang wanita duduk sendirian di sudut VIP, gelas kristal berisi sampanye berkilauan di tangannya. Namanya Yuni Mancini, dan malam ini, dia merasa seperti domba yang memasuki sarang serigala.
Yuni, dengan gaun merah menyala yang memeluk lekuk tubuhnya, tampak seperti bunga mawar di antara duri. Usianya baru 23 tahun, tetapi matanya menyimpan kedalaman yang jarang dimiliki gadis seusianya. Ia datang ke klub ini, jantung dunia bawah Jakarta, bukan untuk bersenang-senang. Dia datang untuk mencari pria yang bisa menghancurkannya, atau menyelamatkannya.
Klub 'Obsesi' adalah kerajaan Don Marco, seorang kepala keluarga mafia yang namanya disebut dengan hormat dan ketakutan. Desas-desus mengatakan bahwa dia memiliki mata di mana-mana, telinga di setiap sudut kota. Yuni tahu bahwa memasuki wilayahnya adalah tindakan bodoh, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Ayahnya, seorang pengusaha kecil yang berutang banyak pada Don Marco, telah memberikan Yuni sebagai jaminan. Jika ayahnya gagal membayar, Yuni akan menjadi milik Don Marco.
Yuni menyesap sampanye, berusaha menenangkan diri. Dia membayangkan wajah ayahnya, penuh penyesalan dan ketakutan. Dia tidak menyalahkannya; ayahnya hanyalah seorang pria yang terjebak dalam jaring yang terlalu besar untuknya. Yuni bertekad untuk menemukan cara untuk membebaskan dirinya dan ayahnya dari cengkeraman Don Marco.
Seorang pelayan menghampirinya, membungkuk hormat. "Nona Mancini? Don Marco menunggu Anda di ruang pribadinya."
Jantung Yuni berdebar kencang. Saatnya telah tiba. Dia mengikuti pelayan itu melalui labirin koridor, melewati penjaga bertubuh besar dengan tatapan dingin. Setiap langkah terasa seperti mendekatkan dirinya pada takdir yang tidak diinginkannya.
Ruangan pribadi Don Marco didekorasi dengan mewah, dengan perabotan kulit mahal dan lukisan abstrak yang aneh. Di tengah ruangan, duduk seorang pria yang penampilannya jauh lebih muda dari yang Yuni bayangkan. Don Marco tersenyum, menunjukkan deretan gigi putih yang kontras dengan kulitnya yang gelap. Matanya, bagaimanapun, dingin dan tajam, meneliti Yuni dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Yuni Mancini," kata Don Marco, suaranya rendah dan serak. "Saya sudah lama menunggu kedatangan Anda."
Yuni mencoba untuk tidak gemetar saat dia membalas tatapannya. "Don Marco. Terima kasih sudah menerima saya."
Don Marco tertawa pelan. "Terima kasih? Jangan bodoh, nona. Anda di sini karena hutang. Hutang yang sangat besar."
Dia berdiri dan berjalan mendekat, mengelilingi Yuni seperti predator mengitari mangsanya. "Ayahmu berjanji banyak. Janji yang tidak bisa dia penuhi. Sekarang, Anda akan membayar hutangnya."
Yuni mengangkat dagunya, menantang. "Saya akan bekerja untuk Anda. Saya akan melakukan apa pun untuk melunasi hutang ayah saya."
Don Marco berhenti di depannya, mengulurkan tangan dan membelai pipinya dengan lembut. Sentuhan itu membuat Yuni merinding. "Saya tidak butuh pekerja. Saya butuh... hiburan."
Yuni menelan ludah. Dia tahu apa yang dia maksud. Dia tahu apa yang dia inginkan. Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan melawan. Dia akan menemukan cara untuk keluar dari neraka ini.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang pria berjas hitam, dengan tato naga yang menjalar di lehernya, masuk dengan tergesa-gesa. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Don Marco, dan ekspresi wajah Don Marco langsung berubah menjadi muram. Dia berbalik ke arah Yuni, matanya dipenuhi amarah.
"Ada masalah," desisnya. "Masalah yang membutuhkan perhatian saya segera. Anda... tunggu di sini."
Don Marco meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa, meninggalkan Yuni sendirian dengan rasa takut dan harapan yang sama besarnya. Apa yang baru saja terjadi? Dan yang lebih penting, apakah ini adalah kesempatan baginya untuk melarikan diri?