Aroma Kopi Pahit di Pagi yang Mendung

Chapter 1 — Aroma Kopi Pahit di Pagi yang Mendung

Detik jam dinding berdentang keras, setiap detaknya terasa seperti pukulan di dadaku. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak hari itu, hari di mana hatiku hancur berkeping-keping di depan altar, saat Rafael mengucapkan 'Aku tidak bersedia'.

Namaku Fitri, dan hari ini seharusnya menjadi hari ulang tahun pernikahan kelima kami. Seharusnya. Sekarang, aku hanya bisa menatap cangkir kopi yang mengepulkan asap, pahitnya seakan menirukan rasa sakit yang masih menggerogoti jiwaku. Kedai kopi kecilku, 'Tirta di Cangkir', menjadi saksi bisu setiap pagi yang kulalui dengan harapan yang semakin menipis.

Aku menggenggam foto usang di dompetku. Foto Rafael dan aku, tersenyum bahagia di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Dulu, kami adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Mimpi-mimpi kami terjalin menjadi satu, masa depan kami terbentang indah di depan mata. Lalu, semuanya berubah. Tanpa penjelasan. Tanpa peringatan. Rafael meninggalkanku.

"Fitri? Ada pelanggan yang memesan kopi luwak," sapa Maya, sahabatku sekaligus barista andalanku. Maya tahu betul tentang Rafael. Dia selalu berusaha menghiburku, meskipun aku tahu jauh di lubuk hatinya, dia juga merindukan Rafael. Mereka berdua dulu sangat dekat.

"Terima kasih, Maya," jawabku berusaha tersenyum. Aku menghela napas panjang dan mulai menyiapkan pesanan. Aroma kopi yang kuat sedikit menenangkan pikiranku. Kedai mulai ramai dengan pelanggan yang mencari kehangatan di pagi yang dingin ini.

'Tirta di Cangkir' adalah hasil jerih payahku selama bertahun-tahun. Aku membangunnya dari nol, dengan harapan bisa melupakan Rafael dan memulai hidup baru. Namun, setiap sudut kedai ini dipenuhi dengan kenangan tentangnya. Setiap lagu yang diputar di radio mengingatkanku pada masa-masa indah kami.

Saat aku sedang mengantarkan pesanan ke meja nomor tujuh, mataku terpaku. Seorang pria duduk membelakangiku, mengenakan jas abu-abu yang familiar. Aroma parfumnya... Aku mengenalinya. Jantungku berdegup kencang. Tidak mungkin.

Dia menoleh. Mata kami bertemu. Waktu seakan berhenti berputar. Itu dia. Rafael. Lebih dewasa, lebih tampan, namun sorot matanya masih sama seperti dulu. Ada penyesalan di sana, atau mungkin hanya ilusiku saja.

"Fitri," ucapnya lirih, suaranya bergetar. "Bisa kita bicara?"

Aku hanya bisa menatapnya, lidahku kelu. Kenangan pahit dan manis bercampur aduk di benakku. Lima tahun. Setelah lima tahun, dia kembali. Tapi kenapa? Kenapa sekarang?

"Aku..." Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

Tiba-tiba, seorang wanita cantik menghampirinya dan melingkarkan tangannya di lengannya. "Sayang, rapatnya akan segera dimulai," ucap wanita itu dengan nada manja. "Siapa dia?"

Rafael menatap wanita itu, lalu kembali menatapku. "Fitri, perkenalkan, ini tunanganku, Vera."