Ciuman Terakhir di Dermaga Tua

Chapter 1 — Ciuman Terakhir di Dermaga Tua

Suara tembakan memecah keheningan malam, dan aroma garam bercampur mesiu langsung menusuk hidungku. Aku tersentak, jantungku berdebar kencang seperti genderang perang di dadaku. Bukan ini yang kubayangkan untuk malam pertunanganku.

Namaku Yuni Mancini, dan sampai lima menit lalu, aku adalah putri tunggal Don Mancini, kepala keluarga mafia paling berpengaruh di Tari. Sekarang? Aku tidak yakin apa aku masih seorang Mancini, atau hanya seorang target berjalan.

Malam ini seharusnya menjadi perayaan. Pertunanganku dengan Marco Vitale, pewaris keluarga Vitale, aliansi yang akan memperkuat posisi keluarga kami. Pesta diadakan di dermaga tua milik keluarga, di bawah taburan bintang-bintang yang seharusnya menyaksikan awal dari babak baru dalam hidupku.

Aku menatap gaun sutra putihku yang kini ternoda darah. Bukan darahku, untungnya, tapi darah Giuseppe, salah satu pengawal ayahku yang setia. Dia tergeletak tak bergerak di dekatku, matanya terbuka lebar dalam ekspresi terkejut. Di sekelilingku, kekacauan merajalela. Tamu-tamu berteriak dan berlarian mencari perlindungan, sementara para pria bersenjata saling berbalas tembakan di bawah rembulan yang pucat.

Aku mencari sosok ayahku di tengah kerumunan. Dia berdiri di dekatku beberapa saat lalu, tersenyum bangga sambil memamerkan cincin pertunangan berlian yang baru saja diberikan Marco padaku. Sekarang, dia hilang.

"Yuni!" Sebuah suara memanggil namaku. Aku menoleh dan melihat Marco berlari ke arahku, wajahnya pucat pasi namun matanya dipenuhi tekad.

"Marco! Apa yang terjadi?" tanyaku panik.

"Serangan. Mereka menyerang kita," jawabnya, suaranya bergetar. "Kita harus pergi dari sini."

Dia meraih tanganku dan menarikku ke arah mobil yang terparkir di ujung dermaga. Peluru-peluru beterbangan di sekitar kami, suara debur ombak seakan tertelan oleh hiruk-pikuk pertempuran.

Saat kami mencapai mobil, aku melihat pemandangan yang membuat darahku membeku. Ayahku tergeletak di tanah, dikelilingi oleh beberapa pria bersenjata. Salah seorang dari mereka mengarahkan pistol ke kepalanya.

"Ayah!" teriakku, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Marco.

"Tidak, Yuni! Kita tidak bisa membantunya! Kita harus pergi!" Marco berusaha menarikku menjauh, tetapi aku menolak.

Aku melihat tatapan ayahku tertuju padaku. Matanya dipenuhi kesedihan dan... penyesalan? Dia menggelengkan kepalanya pelan, seolah menyuruhku untuk tidak melakukan apa pun.

Kemudian, aku mendengar suara tembakan.

Waktu seakan berhenti. Aku melihat tubuh ayahku tersentak, lalu ambruk ke tanah. Para pria bersenjata itu tertawa, tawa mereka yang dingin dan kejam menusuk jantungku.

Marco menarikku dengan paksa ke dalam mobil dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Kami melaju kencang meninggalkan dermaga, meninggalkan kekacauan dan kematian di belakang kami.

Aku menangis tersedu-sedu, air mata membasahi pipiku. Ayahku... dia sudah tiada. Dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.

"Siapa mereka, Marco? Siapa yang melakukan ini?" tanyaku, suaraku tercekat.

Marco terdiam sesaat, wajahnya tegang. Lalu, dia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tatapan dingin dan penuh perhitungan.

"Mereka adalah masa lalumu, Yuni," jawabnya pelan. "Dan mereka menginginkanmu kembali."

Dia menatapku dengan intens, lalu menambahkan, "Atau mungkin, mereka menginginkan sesuatu yang lebih berharga darimu."

Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, dia membanting setir dan mobil meluncur ke arah jurang di tepi jalan. Aku berteriak, ketakutan mencengkeramku. Apa yang sedang terjadi? Apa Marco juga terlibat dalam semua ini? Dan yang lebih penting, apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku?