Pertemuan yang Tak Terduga

Chapter 1 — Pertemuan yang Tak Terduga

Gaun sutra berwarna champagne terasa menyesakkan di tubuhku. Setiap helai benangnya seolah menjerat, mengingatkanku akan takdir yang sebentar lagi akan kupeluk paksa. Malam ini, di Grand Ballroom Hotel Majapahit yang gemerlap, aku akan diperkenalkan kepada calon suamiku.

Namaku Dewi Prabowo. Usiaku baru 22 tahun, dan seharusnya aku masih menikmati masa-masa kuliah dan kebebasanku. Namun, tradisi keluarga mengikatku. Sebagai putri sulung keluarga Prabowo, aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan kehormatan keluarga, termasuk menerima perjodohan ini.

Keluarga Prabowo adalah salah satu keluarga konglomerat terkaya di Indonesia. Bisnis kami meliputi pertambangan, properti, dan perkebunan. Kekayaan kami tak terhitung jumlahnya, namun kebebasanku justru menjadi taruhannya. Perjodohan ini adalah kesepakatan bisnis antara ayahku dan keluarga Saputra, pemilik perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara.

Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Di depan cermin, aku melihat pantulan seorang wanita muda dengan mata cokelat yang sayu dan bibir yang dipoles merah menyala. Aku mencoba tersenyum, namun yang terpancar hanyalah kepedihan. Aku merasa seperti boneka cantik yang dipajang untuk menarik perhatian.

"Nona Dewi, sudah waktunya," suara pelayan membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah berat. Di ujung lorong, ayahku sudah menungguku dengan senyum yang dipaksakan.

"Kamu terlihat cantik sekali, Dewi," ujarnya sambil menggandeng tanganku. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis. Aku tahu dia melakukan ini demi kebaikan keluarga, namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku.

Kami berjalan menuju ballroom yang sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Lampu kristal berkilauan, musik klasik mengalun lembut, dan aroma parfum mahal tercium di mana-mana. Aku merasa seperti memasuki dunia yang asing, dunia di mana aku tidak memiliki kendali.

Ayahku membawaku ke tengah ruangan, tempat keluarga Saputra sudah menunggu. Aku melihat seorang pria paruh baya dengan wajah tegas, seorang wanita anggun dengan senyum ramah, dan seorang pemuda yang berdiri di samping mereka. Jantungku berdebar kencang saat mata kami bertemu.

Pemuda itu memiliki wajah yang tampan dengan rahang tegas dan mata biru yang tajam. Dia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Auranya begitu kuat dan mempesona, namun juga dingin dan misterius. Dia adalah calon suamiku, Reynard Saputra.

"Dewi, perkenalkan, ini Reynard Saputra, putra dari Bapak Bram Saputra," kata ayahku dengan nada bangga. Reynard mengulurkan tangannya kepadaku. Aku ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut tangannya. Sentuhannya dingin dan membuatku merinding.

"Senang bertemu denganmu, Dewi," ujarnya dengan suara berat yang membuat bulu kudukku meremang. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku merasa seperti terhipnotis oleh tatapan matanya.

Malam itu, aku menghabiskan waktu dengan berbasa-basi dengan keluarga Saputra. Aku mencoba tersenyum dan tertawa, namun hatiku terasa kosong. Aku merasa seperti sedang memainkan peran dalam sebuah drama yang bukan pilihanku.

Saat acara hampir selesai, Reynard mengajakku berbicara di balkon. Aku menuruti permintaannya dengan enggan. Aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan, namun aku merasa firasat buruk.

"Aku tahu ini tidak mudah bagimu," ujarnya sambil menatapku dengan intens. Aku terkejut mendengar kata-katanya. Apakah dia tahu perasaanku?

"Aku juga tidak menginginkan perjodohan ini," lanjutnya. Aku semakin terkejut. Jadi, dia juga tidak bahagia dengan perjodohan ini?

"Tapi, aku memiliki alasan tersendiri untuk menerima perjodohan ini," katanya dengan nada misterius. "Dan aku harap, kamu bisa membantuku."

Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berbisik, "Karena aku tahu, ayahmu menyembunyikan sesuatu."