Cincin Pernikahan di Bawah Lampu Gantung Kristal

Chapter 1 — Cincin Pernikahan di Bawah Lampu Gantung Kristal

Udara terasa berat, dipenuhi aroma parfum mahal dan kekecewaan yang tersembunyi. Aku, Mega, berdiri di balkon, gelas sampanye di tanganku, memandang lampu-lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan. Suara tawa dan obrolan dari pesta di dalam ruangan terdengar sayup-sayup, tetapi hatiku terasa jauh, terasing di tengah keramaian ini. Hari ini adalah hari pernikahanku, seharusnya hari paling bahagia dalam hidupku, tetapi yang kurasakan hanyalah kehampaan yang tak terhingga.

Gaun pengantinku, rancangan desainer ternama, terasa seperti kurungan yang indah. Setiap payet dan renda terasa seperti belenggu yang mengikatku pada takdir yang tidak kupilih. Aku melirik cincin pernikahan di jari manisku, berlian besar yang berkilauan di bawah cahaya bulan. Cincin itu adalah simbol dari janji suci, sebuah janji yang seharusnya aku buat dengan sepenuh hati, tetapi aku merasa seperti seorang penipu, mengenakan topeng kebahagiaan di depan semua orang.

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ini adalah hidupku sekarang. Aku harus menerimanya. Aku harus menjadi istri yang baik, ibu yang baik, dan bagian dari keluarga Utomo yang terhormat. Keluarga Utomo adalah salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di Indonesia. Menikah dengan Rama Utomo, pewaris tunggal kerajaan bisnis mereka, adalah impian setiap wanita di Jakarta. Tetapi bagiku, itu adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Kami bertemu setahun yang lalu di sebuah acara amal. Rama tampan, karismatik, dan sangat perhatian. Dia mengejarku dengan gigih, mengirimiku bunga setiap hari, mengajakku makan malam romantis, dan membuatku merasa seperti wanita paling istimewa di dunia. Aku terpesona olehnya, oleh kekayaannya, dan oleh kekuasaannya. Aku pikir aku mencintainya.

Tetapi aku salah. Aku jatuh cinta pada ide tentang dia, pada citra yang dia ciptakan. Aku tidak benar-benar mengenalnya. Aku tidak tahu apa yang bersembunyi di balik senyumnya yang menawan, di balik matanya yang tajam. Aku baru menyadarinya setelah kami bertunangan, ketika aku mulai melihat sisi lain dari dirinya, sisi yang gelap dan mengendalikan.

Rama memiliki temperamen yang buruk. Dia bisa marah karena hal-hal kecil, dan ketika dia marah, dia bisa sangat menakutkan. Dia juga sangat posesif. Dia tidak suka aku menghabiskan waktu dengan teman-temanku, dan dia selalu ingin tahu di mana aku berada dan apa yang kulakukan. Awalnya, aku pikir itu karena dia sangat mencintaiku, tetapi kemudian aku menyadari bahwa itu adalah karena dia tidak mempercayaiku.

Aku mencoba berbicara dengannya tentang hal itu, tetapi dia selalu menepisnya. Dia berkata bahwa aku hanya terlalu sensitif, bahwa aku harus belajar untuk mempercayainya. Aku ingin percaya padanya, tetapi aku tidak bisa. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.

Dan kemudian, aku bertemu dengannya. Di sebuah kedai kopi kecil di dekat kantor lamaku. Namanya Wisnu. Dia seorang seniman, seorang pelukis. Dia memiliki mata yang lembut dan senyum yang jujur. Dia tidak kaya, tidak terkenal, dan tidak memiliki kekuasaan apa pun. Tetapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Rama: kejujuran.

Wisnu melihatku apa adanya, tanpa topeng, tanpa embel-embel. Dia melihat kesedihan di mataku, dan dia mengerti. Dia mendengarkanku, tidak menghakimi, dan dia membuatku merasa aman. Aku jatuh cinta padanya, dengan cepat dan tak terhindarkan. Aku tahu itu salah, aku tahu itu berbahaya, tetapi aku tidak bisa menahannya.

Hati ini sudah terlanjur memilih. Aku tahu, seharusnya aku tidak membiarkan perasaan ini tumbuh. Aku tahu, aku seharusnya menjauhi Wisnu sejak awal. Tetapi semua nasihat dan logika itu lenyap begitu saja ketika matanya bertemu dengan mataku. Dalam tatapan itu, aku melihat diriku sendiri, versi diriku yang hilang dan merindukan kebebasan.

Kami bertemu secara diam-diam, di tempat-tempat terpencil yang jauh dari mata dan telinga yang ingin tahu. Kami berbicara tentang mimpi kami, tentang ketakutan kami, dan tentang cinta kami. Cinta yang terlarang, cinta yang berbahaya, tetapi juga cinta yang paling murni dan paling tulus yang pernah kurasakan.

Setiap pertemuan adalah perayaan, setiap perpisahan adalah siksaan. Aku tahu bahwa ini tidak bisa berlangsung selamanya. Aku tahu bahwa suatu hari nanti, kebenaran akan terungkap, dan semuanya akan hancur berantakan. Tetapi aku tidak bisa berhenti. Aku terlalu mencintai Wisnu, dan aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya.

Suara pintu balkon terbuka membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihat Rama berdiri di ambang pintu, menatapku dengan tatapan dingin dan tidak terbaca. "Apa yang kamu lakukan di sini, Mega?" tanyanya dengan suara datar.

"Aku hanya mencari udara segar," jawabku, mencoba menyembunyikan kegugupanku.

Dia berjalan mendekatiku, langkahnya mantap dan mengancam. Dia berdiri di sampingku, memandang kota di bawah. "Kamu terlihat cantik malam ini," katanya, suaranya melembut.

"Terima kasih," jawabku, jantungku berdebar kencang.

Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku sangat bahagia kamu menjadi istriku," katanya, menatapku dalam-dalam.

Aku memaksakan senyum. "Aku juga," jawabku.

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, bibirnya hanya beberapa inci dari bibirku. Aku bisa merasakan napasnya di kulitku. "Aku mencintaimu, Mega," bisiknya.

Aku tidak bisa menjawab. Kata-kata itu terasa seperti racun di lidahku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya kembali. Aku tidak bisa berbohong lagi.

Dia menciumku. Ciuman yang seharusnya terasa manis dan penuh cinta, tetapi yang kurasakan hanyalah kekosongan dan penyesalan.

Ketika dia melepaskan ciumannya, aku bisa melihat kekecewaan di matanya. Dia tahu. Dia tahu bahwa aku tidak mencintainya. Dia tahu bahwa ada orang lain.

"Siapa dia?" tanyanya, suaranya rendah dan berbahaya.

Aku terdiam. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa mengkhianati Wisnu.

"Katakan padaku, Mega! Siapa dia?" bentaknya, mengguncang bahuku dengan kasar.

Air mataku mulai mengalir. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku terjebak. Aku hancur.

Tiba-tiba, ponsel Rama berdering. Dia melepaskan cengkeramannya padaku dan mengangkat telepon. Aku bisa mendengar suara di ujung sana berbicara dengan cepat dan panik.

Wajah Rama berubah pucat pasi. Matanya membelalak. Dia mendengarkan dengan saksama, tanpa berkata apa-apa.

Ketika dia menutup telepon, dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tatapan ketakutan dan keputusasaan.

"Wisnu..." katanya dengan suara bergetar. "Wisnu... dia kecelakaan."

Duniaku runtuh. Semua yang aku tahu dan yakini hancur menjadi abu. Aku berlutut di lantai balkon, menangis histeris. Wisnu... cintaku... mungkin sudah pergi untuk selamanya. Dan aku, terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, tanpa harapan, tanpa masa depan.