Ciuman Darah di Kasino Malam

Chapter 1 — Ciuman Darah di Kasino Malam

Kilatan lampu merah dan biru membelah kegelapan malam seperti pisau bedah, menari-nari di atas permukaan krom mobil-mobil mewah yang terparkir di depan kasino 'Roulette Emas'. Sirene meraung, suara yang menusuk telinga dan membuat jantung Adelia berdebar tak terkendali. Aroma mesiu dan darah menguar di udara, bercampur dengan parfum mahal dan minuman keras tumpah. Malam ini, dunianya yang terbuat dari sutra dan berlian hancur berkeping-keping.

Adelia menggigil, meskipun gaun merah menyala yang membalut tubuhnya terasa hangat. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba meredam getaran yang menjalar dari ujung kaki hingga tengkuknya. Di hadapannya, pintu kasino terbuka lebar, menampakkan kekacauan yang terjadi di dalamnya. Mayat-mayat tergeletak di lantai marmer, kartu-kartu remi berlumuran darah berserakan di antara pecahan kaca dan botol minuman. Para penjudi yang tadi tertawa dan berjudi kini terdiam membisu, menjadi saksi bisu atas pembantaian yang baru saja terjadi.

Adelia adalah putri tunggal dari Marco Vitale, kepala keluarga mafia paling berpengaruh di Jakarta. Sejak kecil, ia terbiasa dengan kemewahan, kekuasaan, dan kekerasan. Ia tahu bahwa dunia yang dihuninya adalah dunia abu-abu, tempat kebaikan dan keburukan berdampingan, tempat kesetiaan dan pengkhianatan menjadi mata uang yang paling berharga. Namun, malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Seorang pria berseragam polisi menghampirinya, wajahnya keras dan tanpa ekspresi. "Nona Vitale?" tanyanya, suaranya berat dan tanpa nada. Adelia mengangguk, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. "Ayah Anda meminta kami untuk menjemput Anda. Beliau menunggu di rumah sakit." Adelia menelan ludah. Rumah sakit. Itu berarti...

Dengan langkah gontai, Adelia mengikuti polisi menuju mobil patroli. Ia menoleh sekali lagi ke arah kasino, matanya tertuju pada sosok yang berdiri di ambang pintu. Sosok itu tinggi, tegap, dan mengenakan setelan jas hitam yang tampak mahal. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan, tetapi Adelia tahu siapa dia. Rafaelo Moretti. Pewaris keluarga mafia saingan, dan orang yang paling dibenci ayahnya.

Rafaelo menatapnya dengan tatapan dingin dan tanpa emosi. Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa bersalah. Hanya kekosongan yang membuat Adelia merinding. Ia tahu bahwa Rafaelo adalah dalang dari semua ini. Dialah yang memerintahkan pembantaian di kasino ayahnya, dialah yang bertanggung jawab atas kematian para penjudi dan pengawal yang tidak bersalah.

Mobil patroli melaju meninggalkan kasino, membawa Adelia menjauh dari neraka yang baru saja terjadi. Namun, ia tahu bahwa neraka itu akan terus menghantuinya. Ia tahu bahwa malam ini adalah awal dari perang yang lebih besar, perang antara keluarga Vitale dan keluarga Moretti. Dan ia, Adelia Vitale, akan berada di tengah-tengahnya.

Rumah sakit terasa dingin dan steril. Bau obat-obatan menusuk hidung Adelia, membuatnya mual. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju ruang ICU, tempat ayahnya dirawat. Di depan pintu, ia melihat ibunya duduk di kursi, wajahnya pucat dan matanya sembap.

"Ibu? Bagaimana ayah?" tanya Adelia, suaranya bergetar. Ibunya menggelengkan kepala, air mata kembali membanjiri pipinya. "Ayah... ayah kritis, sayang. Dokter bilang... peluangnya sangat kecil." Adelia merasakan lututnya lemas. Ia memeluk ibunya erat-erat, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Pintu ruang ICU terbuka, seorang dokter keluar dengan wajah sedih. Ia menghampiri Adelia dan ibunya. "Maafkan kami," katanya, suaranya lirih. "Kami sudah melakukan yang terbaik, tetapi... Tuan Vitale tidak bisa diselamatkan." Adelia terisak. Dunianya runtuh untuk kedua kalinya dalam satu malam.

Setelah beberapa saat, Adelia memberanikan diri untuk masuk ke ruang ICU. Ia melihat ayahnya terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat dan tubuhnya dipenuhi selang dan kabel. Ia mendekat dan menggenggam tangan ayahnya yang dingin. "Ayah?" bisiknya. Tidak ada jawaban.

Ia mencium kening ayahnya, air matanya menetes di pipi ayahnya. "Aku janji, Ayah. Aku janji akan membalas dendam. Aku akan membuat Rafaelo Moretti membayar atas apa yang telah dilakukannya." Suara Adelia bergetar, tetapi penuh dengan tekad dan amarah. Ia bersumpah, di hadapan mayat ayahnya, bahwa ia akan menghancurkan keluarga Moretti, tidak peduli apa pun yang terjadi.

Beberapa hari kemudian, pemakaman Marco Vitale diadakan dengan sangat megah. Seluruh anggota keluarga mafia, para pengawal, dan rekan-rekan bisnis ayahnya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Adelia berdiri di samping peti mati ayahnya, mengenakan gaun hitam panjang dan kerudung yang menutupi wajahnya. Ia berusaha tegar, tetapi hatinya hancur berkeping-keping.

Setelah pemakaman selesai, Adelia mengumpulkan seluruh anggota keluarga Vitale di ruang kerja ayahnya. Ia duduk di kursi ayahnya, menatap mereka dengan tatapan tajam dan penuh dengan otoritas. "Aku tahu kalian semua berduka atas kepergian Ayah," katanya, suaranya lantang dan jelas. "Tetapi kita tidak punya waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Kita harus membalas dendam."

Beberapa anggota keluarga Vitale mengangguk setuju, sementara yang lain tampak ragu-ragu. Mereka tahu bahwa perang dengan keluarga Moretti akan menjadi perang yang berdarah dan brutal. Mereka tahu bahwa banyak nyawa akan melayang.

"Rafaelo Moretti telah membunuh Ayahku dan menghancurkan bisnis kita," lanjut Adelia. "Dia pikir dia bisa lolos begitu saja. Dia salah. Aku akan membuat dia menyesal telah dilahirkan. Aku akan menghancurkan dia, keluarganya, dan seluruh kekaisarannya."

Adelia melihat mata para anggota keluarga Vitale berkilat-kilat penuh dengan amarah dan dendam. Ia tahu bahwa ia telah berhasil membangkitkan semangat mereka. Ia tahu bahwa mereka siap untuk berperang.

"Mulai sekarang, aku adalah kepala keluarga Vitale," kata Adelia, suaranya penuh dengan otoritas. "Dan aku akan memimpin kalian menuju kemenangan. Siapkan diri kalian. Perang telah dimulai."

Malam itu, Adelia duduk sendirian di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang di langit. Ia merasakan beban berat di pundaknya. Ia tahu bahwa ia telah mengambil tanggung jawab yang besar. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Rafaelo Moretti. Ia merasakan amarah dan dendam membara di dalam dirinya. Ia bersumpah, sekali lagi, bahwa ia akan membalas dendam. Ia akan menghancurkan Rafaelo Moretti, tidak peduli apa pun yang terjadi. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia membuka mata dan berbalik. Seorang pria berdiri di ambang pintu, wajahnya tertutup bayangan. "Siapa di sana?" tanya Adelia, suaranya bergetar.

Pria itu melangkah maju, wajahnya perlahan-lahan terlihat jelas di bawah cahaya bulan. Adelia terkejut. Itu adalah Marco, tangan kanan ayahnya, dan orang yang paling dipercaya di seluruh keluarga Vitale. "Nona Adelia," katanya, suaranya berat dan tanpa nada. "Saya punya kabar buruk."

Adelia mengerutkan kening. "Kabar buruk apa?"

Marco menarik napas dalam-dalam. "Rafaelo Moretti... dia telah menculik ibumu."